This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 26 Agustus 2011

MENGGAPAI MAKNA HIDUP DI MALAM PENENTUAN (LAILATUL QADR)

Ramadhan telah berada dipenghujung, ada perasaan bahagia bercampur sedih tatkala ramadhan itu akan meninggalkan kita.

Menurut Rasulullah ramadhan dibagi menjadi tiga pase, yaitu sepuluh hari pertama (tanggal 1-10) disebut rahmah (kasih sayang), sepuluh hari kedua (tanggal 11-20) disebut magfirah (pengampunan), dan sepuluh ketiga (tanggal 21-29/30) disebut itqun minan naar (pembebasan dari api neraka).
Pada sepuluh akhir bulan ramadhan ada satu malam yang dikenal dengan lailatul Qadr (malam penentuan) yang mana jika seseorang beribadah di malam itu sama dengan beribadah sebanyak seribu bulan (alfi syahri) sebagaimana firman Allah dalam surah Al Qadr (97), ayat 1-5:
                   •               
“1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593]. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. 97:1-5)

Menurut Bapak Quraish Shihab, makna al Qadar itu ada tiga macam, yaitu pertama; berarti penetapan dan pengaturan sehingga Lailat ASl Qadar dipahami sebagai penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua; berarti kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena dipilih sebagai malam turunnya Al Qur’an, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Ketiga; berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti ditegaskan dalam QS. Al Qadr ayat 4.

Sehingga dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.

Sebagai umatnya Rasulullah kita seyogyanya bertekad keras terhadap diri kita, keluarga kita untuk senantiasa mengisi akhir-akhir bulan ramadhan itu dengan segala amaliah Ramadhan baik yang wajib maupun amaliah sunah lainnya, terutama dimalam-malam ganjil. Karena ada indikasi dari rasulullah bahwasanya turunnya lailatul Qadar itu di malam ganjil, akan tetapi tidak menapikan malam-malam genap.

Ada beberapa tips agar kita senantiasa menemukan lailatul Qadar itu, antara lain: Pertama; shalat isya dan shubuh berjamaah, karena kedua shalat itu pahalanya menempati ibadah satu malam suntuk jika dilaksanakan secara berjamaah. Kedua; beribadah semalaman sejak shalat magrib sampai shalat subuh dan ibadah-ibadah lainnya. Ketiga; mencari waktu-waktu yang mustajab dalam berdo’a dan beribadah yaitu sepertiga malam (antara jam 2 – 4 malam).

Adapun amaliah yang dilaksanakan ketika berjaga-jaga menunggu datangnya lailatul Qadar antara, shalat wajib, memperbanyak shalat sunah seperti shalat tahajud, tarawih, witir, hajat, taubat, shalat tasbih dan shalat sunah mutlak lainnya. Disamping itu memperbanyak membaca al Qur’an dengan memahami maknanya, sehingga Al Qur’an benar-benar turun untuk diri kita.

Mudah-mudahan kita senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita untuk senantiasa mengisi sisa-sisa bulan ramadhan ini dengan hal-hal yang bernilai dan bermakna bagi hidup kita untuk kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Semoga. Amin
Jorong, 25 Ramadhan 1432 H/25 Agustus 2011 M

Kamis, 18 Agustus 2011

Membedah Makna Angka 17

Angka 17 adalah merupakan bagian dari angka 1 dan 7 atau bisa juga 10 + 7 =17. Kalau dilihat jenisnya angka 17 adalah salah satu dari bilangan prima. angka 17 ini kalau dilihat dari nilai historis bangsa Indonesia dan umat Islam mempunyai makna dan arti yang sangat berarti sekali.
Dilihat dari dari nilai historis bangsa Indonesia angka 17 difokuskan pada peristewa bersejarah yaitu hari kemerdekaan Bangsa Indonesia yakni tanggal 17 Agustus 1945. Dari sini titik tumpu perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Semua bangsa mengakui akan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal ini yaitu pada saat dua tokoh proklamator Ir. Soekarno dan M. Hatta membacakan teks proklamasinya didepan sebuah upacara bendera di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta.
Disamping itu, kalau dilihat dari nilai historis umat Islam (taarikh Islam), angka 17 itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, yaitu peristewa turunnya Al Qur’an yang dikenal dengan peristewa Nuzulul Qur’an. Al Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam dan sebagai petunjuk (hudan) bagi umat Islam.
Tahun ini 2011 Masehi dan tahun 1432 Hijriyah merupakan tahun yang sangat istemewa sekali bagi Umat Islam dan bangsa Indonesia, karena angka 17 bersatu di sebuah bulan yang sangat mulia yakni bulan Ramadhan. Tanggal 17 Agustus 2011 M. bertepatan tanggal 17 Ramadhan 1432 H. hal ini akan memberikan makna yang sangat berarti sekali bagi kita sebagai orang yang beriman, karena semua kejadian ini akan ada hikmah dibalik semua ini.
Angka 17 adalah salah satu bilangan prima, dimaksudkan kita seharusnya bersikap dan menjadi orang yang prima, sempurna, berguna bagi orang lain. Disamping itu, kalau dilihat dari angka surah dalam Al Qur’an angka 17 adalah surah al Isra (diperjalankan). Dalam konteks surah ini erat hubungannya sebuah peristewa yang terjadi pada baginda rasul SAW yaitu peristewa Isra dan Mi’raj, dimana dalam peristewa ini puncaknya adalah kewajiban shalat lima waktu bagi umat Islam.
Angka 17 terdiri dari angka 1 dan 7. Angka 1 merupakan symbol dari keesaan Allah SWT. Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, sedangkan angka 7 merupakan perlambang dari berbagai macam yang berjumlah tujuh, antara lain tujuh anggota manusia (mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki dan seluruh tubuh); tujuh jumlah ayat surah al Fatihah, tujuh lapis bumi dan langit, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Subhannallah, Allah punya rencana dan kehendak akan terkumpulnya pada tahun ini tanggal 17 Ramadhan bertepatan tanggal 17 Agustus 2011. Mudah-mudahan semua kekuasaan Allah mempunyai hikmah yang sarat makna bagi kesejahteraan dan kelangsungan bangsa dan negera ini, wabil khusus bagi umat Islam Indonesia. Amin.
Wallahu a’lam bishshawab.
Rantau, 17 Agustus 2011 M/17 Ramdhan 1432 H

Selasa, 12 Juli 2011

Pendidikan Karakter Menurut Perspektif Al Qur'an

Kunci keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah keagungan akhlak yang dimilikinya (Qs. Qalam/68: 4). Dengan modal itu, maka beliau pun menjadi teladan/uswatun hasanah (Qs. Al-Ahzab/33: 21) bagi umatnya. Hanya dalam 23 tahun ia berhasil menjalankan misinya dalam menyempurnakan akhlak manusia (li utammima makaarim al-akhlaq) sehingga masyarakat jahiliyah berganti menjadi masyarakat madani.

Lalu bagaimana bentuk keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW itu? Pertanyaan ini juga pernaha dirasakan oleh para sahabat sehingga di antara mereka ada yang bertanya kepada Siti A’isyah. Istri Nabi Muhammad ini pun menjawab: kana khuluquhu al-Qur’an, akhlaknya adalah al-Qur’an (HR. Abu Dawud dan Muslim).

Demikianlah karakter Nabi Muhammad SAW. Ia laksana al-Qur’an berjalan. Dengan al-Qur’an itu pula ia mendidik para sahabatnya sehingga memiliki karakter/akhlak yang begitu kuat. Sahabat-sahabat yang berkarakter berbasis al-Qur’an tersebut menjadi modal utama dalam membangun masyarakat berperadaban tinggi.

Belajar dari keberhasilan Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk mendidik karakter manusia, terutama yang mengaku Islam sebagai agamanya, mesti berdasarkan kepada al-Qur’an.

Dalam konteks kekinian, pendidikan karakter menjadi tema hangat untuk diterapkan melalui lembaga pendidikan formal. Bahkan Kementerian Pendidikan Nasional melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum telah merumuskan program “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” atau disingkat dengan PBKB, sejak tahun 2010 lalu.

Dalam proses PBKB, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat. Dan dalam program tersebut, terdapat 18 nilai yang dikembangkan, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung-jawab.

Program ini patut direspon oleh masyarakat, terutama praktisi pendidikan dan stakeholder yang terkait. Namun, konsep PBKB masih bersifat umum sehingga masih membutuhkan ide-ide kreatif dalam pengembangannya. Di era otonomi ini, pemerintah daerah, termasuk sekolah, sesungguhnya memperoleh peluang yang besar untuk mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhannya, termasuk mengembangkan konsep pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.

Selaku umat Islam yang meyakini al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, sejatinya memanfaatkan peluang ini. Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah termasuk sekolah umum yang terdapat di dalamnya—apalagi mayoritas—siswa beragam Islam, seyogyanya merumuskan konsep pendidikan karakter berbasis al-Qur’an. Sebab secara teologis, mustahil seorang muslim yang mengabaikan al-Qur’an memiliki karakter atau akhlakul karimah sebagaimana yang diinginkan dalam ajaran Islam itu sendiri.

Ironis, jika lembaga pendidikan tidak memberikan kesempatan bagi peserta didik muslim untuk memahami al-Qur’an sekaligus menjadi acuan dalam membentuk karakternya. Akibatnya, mereka akan menjadi manusia yang mengakui Islam sebagai agamanya, tetapi karakternya tidak sesuai tuntunan al-Qur’an. Keberadaan mereka justru merusak nama baik Islam itu sendiri. Untuk itu, sikap kebergamaan kita harus tersentuh menyikapi persoalan ini.

Hakikat pendidikan karakter itu sendiri adalah penanaman nilai, membutuhkan keteladanan dan harus dibiasaan, bukan diajarkan. Jika dalam konsep PBKB yang disusun oleh Puskur terdapat 18 nilai, maka dalam perspektif al-Qur’an jauh melebihi angka tersebut. Namun untuk memudahkan penanaman nilai tersebut, perlu dirumuskan secara sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan itu sendiri.

Paling tidak nilai-nilai itu bisa dikelompokkan dalam empat hal. Pertama, nilai yang terkait dengan hablun minallah (hubungan seorang hamba kepada Allah), seperti ketaatan, keikhlasan, syukur, sabar, tawakal, mahabbah, dan sebagainya. Kedua, nilai hablun minannas, yaitu nilai-nilai yang harus dikembangkan seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia, seperti tolong-menolong, empaty, kasih-sayang, kerjasama, saling mendoakan dan memaafkan, hormat-menghormati, dan sebagainya.

Ketiga, nilai yang berhubungan dengan hablun minannafsi (diri sendiri), seperti: kejujuran, disiplin, amanah, mandiri, istiqamah, keteladanan, kewibawaan, optimis, tawadhu’, dan sebagainya. Dan keempat, nilai hablun minal-‘alam (hubungan dengan alam sekitar), seperti: keseimbangan, kepekaan, kepeduliaan, kelestarian, kebersihan, keindahan, dan sebagainya.
Nilai-nilai tersebut mesti dikembangkan lebih lanjut dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an itu sesungguhnya memiliki makna yang lebih luas, kompleks dan aplikatif jika dibandingkan dengan nilai-nilai yang muncul dari hasil pikiran manusia. Misalnya, nilai istiqamah jauh lebih luas dari nilai komitmen dan konsisten. Begitu pula makna ikhlash jauh lebih mendalam dibandingkan dengan makna rela berkorban. Bahkan istilah akhlak pun jauh lebih kompleks dibanding dengan istilah moral dan etika. Dan masih banyak contoh lainnya.

Adapun bentuk pelaksanaannya, bisa menyesuaikan dengan konsep pengembangan pendidikan karakter sebagaimana yang disusun oleh Puskur. Beberapa nilai yang telah dirumuskan dapat dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler atau pengembangan diri dan budaya sekolah.

Pada kegiatan intrakurikuler, nilai-nilai tersebut harus dirumuskan dalam bentuk “Indikator Penanaman Nilai” oleh guru dalam rencana pembelajarannya untuk diintegrasikan dengan materi tiap mata pelajaran. Dengan begitu tak satu pun materi yang bebas dari nilai. Selain itu, proses pembelajarannya pun sebaiknya diintegrasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam hal ini, ayat-ayat al-Qur’an akan menjadi basis terhadap suatu ilmu sehingga siswa tidak saja memperoleh pengetahuan, tetapi diharapkan memperoleh keberkahan dari ilmu itu sendiri.
Pada kegiatan ekstrakurikuler, mesti dikembangkan kegaitan-kegiatan yang relevan dengan nilai-nilai al-Qur’an. Kegiatan-kegiatan yang bertentangan, seperti kegiatan yang memperlihatkan aurat, pelaksanaan kegiatan yang mengabaikan waktu shalat, dan sebagainya mestilah ditinggalkan. Sebaliknya, kegiatan-kegaitan yang langsung bersentuhan dengan al-Qur’an mesti menjadi prioritas. Misalnya, Tahsin Qur’an, Tilawah al-Qur’an, Tahfizh al-Qur’an, Seni Kaligrafi, Muhadharah, dan lainnya.

Sedangkan penanaman nilai pada budaya sekolah harus dirumuskan dalam bentuk beberapa aturan sehingga terjadi proses pembiasaan dan pembudayaan. Seperti tadarus di awal pembelajaran, setiap guru membuka pelajaran dengan membaca surat-surat pendek, membudayakan ucapan salam, mengedepankan keteladanan, malu melanggar peraturan, menjalin interaksi dengan kasih sayang, menjaga kebersihan dan sebagainya. Dalam hal ini, pemberian reward (penghargaan) lebih dikedepankan dari pada punishment (hukuman).
Proses pembelajaran al-Qur’an pun harus dilakukan secara kontiniu dan sistematis. Peserta didik harus dibimbing untuk membaca, memahami dan berupaya untuk mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an. Peserta didik juga dituntut untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya (hatinya) tidak ada bacaan Al-Qur`an (yakni tidak memiliki hafalannya) ibarat sebuah rumah yang hendak roboh. (HR. At-Tirmidzi, dan lainya).

Tidak saja upaya dari sekolah, orang tua di lingkungan rumah tangga, menjadi pelopor utama dalam pembentukan karakter berbasis al-Qur’an. Orang tua juga dituntut untuk menanamkan kecintaan terhadap al-Qur’an kepada anak-anaknya sedini mungkin. Itu sebabnya seorang ibu yang sedang hamil dianjurkan untuk banyak membaca al-Qur’an. Kelak si anak telah pandai membaca al-Qur’an, orang tua pun diminta untuk tadarus bersama anak-anaknya.

Sungguh tepat kebijakan Kementerian Agama RI tentang program “Gemmar (Gerakan Maghrib) Mengaji”. Dan program ini sejatinya didukung oleh para orang tua. Demikian halnya masyarakat, diharapkan berperan aktif mengkaji al-Qur’an dan berupaya untuk menjadikannya sebagai karakter diri dan masyarakat sekitarnya.

Jika sekolah mau dan bertekad menjadikan al-Qur’an sebagai basis dari pelaksanaan pendidikan karakter, maka niscaya ketenangan dan keberkahan akan dilimpahkan Allah kepada mereka. Sabdanya: Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah Azza wa Jalla untuk membaca Kitabullah (Al-Qur`an) dan mereka saling mempelajarinya kecuali sakinah (ketenangan) akan turun kepada mereka, majlis mereka penuh dengan rahmat dan para malaikat akan mengelilingi (majlis) mereka serta Allah akan menyebutkan mereka (orang yang ada dalam majlis tersebut) di hadapan para malaikat yang di sisi-Nya (HR. Muslim).
Kini, dibutuhkan niat, dukungan, dan komitmen dari berbagai pihak yang masih mengakui al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya; baik dari kalangan pemerintah, kaum intelektual, praktisi pendidikan, orang tua dan masyarakat untuk merumuskan pendidikan karakter berbasis al-Qur’an. Jika tidak, maka al-Qur’an hanya sebagai hiasan lemari dan tercerabut dari hati sanubari.
Jadi jelas sekali bahwa sesungguhnya pendidikan karakter itu tidak akan didapat sepenuhnya kalau tidak mengacu kepada seorang tauladan Rasulullah SAW. dan tentunya karakter Nabi adalah Al Qur'an dan sesungguhnya Allah menurunkan Al Qur'an itu kepada kita sebagai manusia (muslim), dan hakekat manusia adalah terletak pada hatinya.
Peranan Guru Agama dan Umum
Sebagai seorang pendidik yang mencetak generasi yang berkarakter tentunya akan bersentuhan dengan peserta didik yang menjadi fokusnya. tanggungjawab seorang guru akan menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru, tidak memandang apa dia seorang guru agama ataupun umum, yang terpenting seorang guru menjadi teladan bagi dirinya, anak didiknya. baik ketika didalam kelas, dirumah tangga dan di masyarakatnya. semoga kita sebagai pelaku pendidikan menjadi sebuah teladan bagi anak didik kita, mulailah dari diri sendiri (ibda' binafsik).
Wallahu a’lam.

Sumber:
1. http://mhdkosim.blogspot.com/2011/07/pendidikan-karakter-berbasis-al-quran.html/ diakses: 12 juli 2011
2. Pendidikan karakter berpusat pada Hati, Drs. H. Hamka Abdul Aziz, M. Si

Kamis, 09 Juni 2011

Isra Mi'raj dalam Sebuah Kajian Sosiologis

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang memiliki keistemawaan tersendiri. Kenapa demikian? Karena pada bulan ini terjadinya sebuah peristiwa yang teramat penting dan berharga bagi seorang Nabi akhir jaman, yaitu Nabi Muhammad SAW. Juga bagi seluruh umat Islam seantero dunia, yakni peristewa Isra dan Mi’raj. sebuah rihlah ilahiah (wisata ketuhanan) yang memiliki banyak hikmah.
Isra ialah diperjalankannya Nabi Muhammad SAW di waktu malam dari Masjid Al Haram di Mekkah ke Masjid Al Aqsha di Palestina, terjadinya pada bulan Rajab tahun ke-11 kenabian, dua tahun menjelang hijrah (lihat QS. 17: 1).
Sedangkan Mi’raj ialah dinaikannya Nabi Muhammad SAW. Dari Masjid Al Aqsha ke Sidrah Al Muntaha bertemu Allah azza wa jalla untuk menerima perintah Shalat lima waktu sehari semalam, setelah itu beliau turun kembali ke Masjid Al Aqsha, kemudian pada malam itu juga kembali ke Makkah Al Mukarramah (lihat QS. 53: 17-19).
Peristewa Isra dan Mi’raj adalah peristewa yang sarat dengan ibrah dan pelajaran yang berharga bagi umat Islam, dan penuh dengan simbol-simbol dan perlambang pesan-pesan moral bagi umat manusia, contoh dan ibarat (tamsil) dalam kehidupan yang amat menyentuh jiwa serta lubuk hati yang dalam. Karena dari kedua peristewa itu, diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW tanda-tanda kebesaran khaliq pencipta alam semesta ini.
Setiap umat Islam wajib percaya bahwa peristewa Isra Mi’raj itu benar-benar terjadi terhadap Nabi kita Muhammad SAW.
Imam Ibnu Katsir dalam kitab beliau menyebutkan point-point pokok yang harus diimani dalam masalah Isra Mi’raj ini, yaitu (1) Nabi Muhammad di Isra-kan dari Mekkah ke Bait al-Maqdis, (2) di Bait al-Maqdis, beliau sholat dua rakaat, (3) kemudian beliau dinaikan ke langit (Mi’raj), (4) Allah fardhukan shalat lima puluh waktu, kemudian Dia ringankan menjadi lima waktu sebagai rahmat dan kasih saying Allah kepada hamba-Nya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, al Baqawi juz 5/245).
Poin itu ditambahkan oleh Syekh Muhammad al Gazali dalam kitab Fiqih As Sirah, bahwa setelah Nabi SAW diturunkan ke Bait al-Maqdis dan kembali ke Makkah malam itu juga.
Al ‘Alamah Najm Ad Din Al Gaith telah mengarang kisah Isra dan Mi’raj yang dikomentari (hasyiyah) Imam Ahmad Dardir, sehingga riwayat Isra Mi’raj populer dengan “Kitab Dardir”.
Dalam kitab ini menyebutkan banyak pelambang dalam peristewa Isra Mi’raj itu. Setidaknyaa ada sepuluh perumpamaan (tamsil) yang diperlihatkan:
Pertama, perumpamaan orang yang malas shalat digambarkan dengan kaum yang memecah dan memukul kepalanya sendiri, sesudah pecah kembali seperti semula lalu dipecah lagi, demikian seterusnya.
Kedua, mereka yang tidak menunaikan kewajiban zakat, digambarkan dengan orang yang berpakaian hanya menutup kemaluannya, teriak-teriak seperti hewan.
Ketiga, pennzina; digambarkan dengan orang yang memakan daging busuk menjijikkan yang ada di tangan kirinya, padahal ada daging yang baik di tangan kanan.
Keempat, pengacau masyarakat, disimbolkan dengan seseorang yang menaruh duri di jalanan sehingga siapapun yang lewat selalu terkait dan bajunya pun robek.
Kelima, orang yang ambisius namun di luar kemampuan memikul tugas, diumpamakan Allah dengan orang yang mengangkat beban berat, ketika tidak mampu mengangkat beban itu ditambah lagi beban yang lain.
Keenam, pemakan riba, diumpamakan Allah dengan orang yang berenang di dalam sungai darah sambil dilempari batu.
Ketujuh, penyebar fitnah, disimbolkan dengan orang yang memotong lidah dengan gunting, setelah digunting menjulur lagi, kemudian digunting lagi oleh tangannya sendiri, demikian seterusnya.
Kedelapan, orang yang tidak pernah mengukur ucapan; diumpamakan Allah dengan seekor sapi yang ingin masuk ke lubang jarum setelah keluar daripadanya, namun tak bisa masuk kembali.
Kesembilan, pemakan harta orang lain dengan yang salah, digambarkan Allah dengan orang yang berkuku panjang mencakar mukanya sendiri.
Kesepuluh, perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah, seperti seorang penanam pohon yang terus menerus memetik buahnya tanpa putus. (KH. Husin Naparin, 2004: 84-86).
Dari sepuluh perumpamaan yang diperlihatkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. hanya satu perumpamaan yang baik, sedangkan Sembilan tamsil yang dilihat oleh Nabi Muhammad adalah perumpamaan yang munkarat (kemaksiatan). Dari sini dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kemungkaran sejak dulu sampai sekarang lebih banyak diperbuat oleh umat manusia.
Mudah-mudahan peristewa Isra Mi’raj ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, dan alangkah indahnya seandainya seluruh umat Islam tidak terkecuali siapapun dia tidak memandang pangkat dan kedudukannya, akan “terhipnotis” dan pada akhirnya diharapkan mampu merubah sikap dan perilaku menuju yang lebih baik. Wallahu a’lam bish shawab.

Senin, 23 Mei 2011

Bayi di Tengah Jalan

Sudah menjadi kebiasaan kami (aku dan isteriku) pada setiap hari senin setiap minggunya, ketika berangkat kuliah ke Banjarmasin menggunakan kendaraan sepeda motor. Aku yang membawa dan isteriku yang membuncingi dibelakangku, maklum ar rijalu Qawwamun ala nisa’ (laki-laki menjadi pemimpin bagi perempuan) demikian kata Al Qur’an. Tapi, hari itu memang beda dari hari-hari sebelum senin tanggal 9 Mei 2011, aku berada di belakang dan isteriku yang menjadi driver (sopir), gensi memang, tapi kondisi kesehatan pada saat itu sungguh tidak dapat dipaksakan untuk menyetir sebuah sepeda motor.
Jam menunjukan pukul 11.10 wita kami melangkahkah kaki keluar rumah dan menuju kendaraan Yamaha Z, dan kamipun meluncur menuju Banjarmasin. Di tengah perjalanan, tepatnya sekitar desa Jilatan Kab. Tanah Laut kami menyelip sebuah kendaraan yang dibawa oleh seorang laki-laki setengah baya, tanpa helm dan seperti menggendong seorang bayi. Perasaan kami terlihat aneh, masa di tengah matahari yang cukup panas seorang berkendaraan tanpa helm dan anehnya menggendong bayi lagi….kamipun terus berlalu dan melaju meninggalkannya.
Tapi, ketika kami istirahat di sebuah masjid kamipun melihat kendaraan dengan menggendong bayi itu juga berhenti dan bayi itu menangis tanpa henti, dan terlihat ayahnya sedang memberikan solusi untuk menghentikan tangisnya, tapi sia-sia. Melihat hal itu, kami pun memberanikan diri untuk menanyakan, kenapa bayi itu dan rencana dibawa kemana? Astagfirullah,…ternyata, dia akan membawa anak itu (umurnya sekitar 2 bulan) ke Barabai tepatnya daerah Pagat. Dan setelah ditanya lagi ternyata dia habis berkelahi dengan isterinya, anaknya itu menjadi sebuah “taruhan” untuk berpisah dari isterinya.
Kamipun terinyuh dan merasa kasihan kepadanya, kamipun menawarkan untuk member dia air putih dan sebelumnya mencoba mencari susu, karena bayi itu sejak dari rumah (katanya dari Muara Kintab) tidak minum apa-apa dan ternyata benar, ketika diberi air putih sungguh bayi itu minum dengan dahaganya. Setelah mendengar ceritanya dan kamipun memberikan solusi agar anaknya itu jangan dibawa berkendaraan dan alangkah baiknya naik taksi aja ke hulu sungai itu, tapi ternyata dia tidak mau dan kami mengajak untuk membawa dia ke rumah adik ipar di Pelaihari, mungkin ada helm atau disana ada dot untuk si bayi itu. Akhirnya dia mau diajak dan isteriku yang membawanya dan terpaksa aku kembali bertugas sebagai sopir kali ini. Walaupun kondisiku belum seratus persen sehat.
Sesampai di rumah adik iparku di Pelaihari, bayi tadi kami beri air susu dan istirahat sebenar sekitar satu jam. Dirumah adik ipar kami, ayah dari bayi itupun kami introgasi kenapa ceritanya anak itu sampai begini nasibnya, tanpa ibu padahal secara naluri seorang ibu (mama) sangat saying kepada bayi yang berumur dua bulan ini, Tyas Maulida nama bayi itu, sungguh indah namanya dan cantik lagi orangnya, orangtuanya bercerita ia sejak bangun tidur sudah dimarahi oleh sang isteri dan sudah tidak tahan lagi makanya dia bawa “lari” anaknya ini, padahal kalau dilihat segi ekonomi ia sudah punya pekerjaan cukupan, mungkin konflik apa yang mendera keluarganya kami tidak begitu penting menelitinya, yang pasti bayi itu yang manis itu menjadi focus kami.
Kami sudah menyarankan kepada orangtuanya untuk menitipkan kendaraan “Sogun”nya di rumah adik ipar kami, dan berangkat naik taksi aja, tapi dia tidak mau. Akhirnya dia berangkat saja naik kendaraan tuanya aja, dan kebetulan kami mau ke Banjarmasin maka isterinya saya menolong menggendong sampai persimpangan Cempaka – Banjarmasin, dan setelah nyampai di persimpangan Cempaka-Banjarmasin, bayi itu kami serahkan kepada orangtuanya dan dibawa dengan cara semula digendong dengan kain ayunan sambil memegang tangan kiri dan tangan kanan memegang stang kendaraan…kami berharap bayi itu sampai ketujuan dan saat itu waktu sudah menunjukan pukul 14.30 wita dan kalau dipikir-pikir sampai di Barabai akan menemui waktu malam, sungguh kasian bayi mungil itu, belum lagi hujan menerpa mereka…Tyas jangan nangis lagi ya ….jadilah engkau anak yang shalehah nantinya dan menjadi harapan bagi ayahmu…semoga!


Ibrah:Anak adalah amanah dari Allah, makanya pendidikan dan tanggungjawab orangtua akan dipertanggungjawabkan nantinya di dunia ini dan akhirat.
Jilatan, 9 Mei 2011

Workshop Metodologi Penelitian Ala PPS IAIN Antasari

Tepat pukul 08.45 Wita hari Kamis, tanggal 19 Mei 2011 kami berkumpul di Aula Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin dalam rangka pembukaan kegiatan “Workshop Metodologi Penelitian” yang dihadiri oleh mahasiswa program S2 IAIN Antasari Banjarmasin.
Kegiatan workshop ini dilaksanakan selama dua hari yakni tanggal 19 sampai 20 Mei 2011 dan bertujuan untuk mempersiapkan dan membekali mahasiswa dalam rangka menyusun sebuah karya ilmiah sebuah tugas akhir seorang mahasiswa di pascasarjana ini yaitu penyusunan Tesis. Disamping itu, pengembangan lagi kegiatan Tri Perguruan Tinggi, demikian yang diungkapkan oleh Direktur PPS IAIN Antasari Banjarmasin Prof. Dr. H. Ahmadi Hasan, M. Hum pada kesempatan membuka acara dimaksud.
Menarik sekali memang kegiatan workshop ini, dimana para narasumber adalah orang-orang yang sungguh berpengalaman dan praktisi yang lama bergelut dalam bidang penelitian ini. Pada session pertama, disampaikan oleh Bapak Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, MA. (mantan Rektor IAIN Antasari Banjarmasin) yang mengangkat makalah “Paradigma Penelitian Kualitatif”. Beliau menjelaskan penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang berlandaskan pada filsafat Phenomenologik, dimana sebuah penelitian mengharapkan hasil yang ilmiah dan mendalam sekali, karena seorang peneliti adalah “key informan” kunci sebuah penelitian disamping data yang sungguh-sungguh didapat di lapangan dan peneliti merasakan sendiri apa yang diteliti. Mengutip kata-kata narasumber “penelitian kualitatif adalah penelitian dibalik yang tersurat” sehingga menghasilkan yang ilmiah dengan mengenyampingkan subjektifitas peneliti melalui : trianggulasi, konfirmasi dan objektifitas data.
Pada session kedua, tentang “Paradigma Penelitian Kuantitatif” yang disampaikan oleh Bapak Dr. Suratno, M. Pd. (Lektor FKIP unlam). Pada pemaparannya, beliau menjelaskan penelitian kuantitatif adalah sebuah penelitian yang bergelut dengan angka-angka dan hitungan-hitungan. Disamping, penelitian ini harus kaya dengan teori-teori, karenanya seorang peneliti kuantitatif harus banyak membaca dan membaca, Tidak akan terwujud penelitian yang valid tanpa membaca teori-teori dari buku.
Pada session ketiga, workshop menghadirkan narasumber yang lagi naik daun yakni Dr. Mujiburrahman, MA. (Pembantu Dekan I Fak. Ushuluddin IAIN Antasari) dengan judul makalah “Paradigma Penelitian Literatur”. Narasumber mengemukakan ada lima yang bisa ditempuh oleh peneliti literature, yakni studi filologis (studi teks/naskah kono), rekontruksi dan dekonstruk teks, studi naskah-naskah populer, …………… menurut beliau penelitian literature adalah penelitian yang sangat berharga sekali bagi pengembangan keilmuan terutama penggalian studi naskah-naskah kono, masih banyak kitab-kitab yang ada di Kalimantan Selatan yang belum dikritisi, baik muatan maupun teks-teksnya.
Dari session pertama sampai ketiga memang sungguh menarik sekali untuk disimak dan apalagi para peserta workshop yang berlatar belakang mahasiswa yang rata-rata sudah lupa tentang metodologi, maka banyak uneg-uneg yang timbul dan pertanyaan pun bermunculan. Ada yang menanyakan tentang spesifik ketiga metode penelitian itu, ada juga memang sudah tertarik kepada penelitian literature dan ada juga yang tertarik semua jenis metode itu.
Keesokan harinya pada hari kedua, digelar lagi kegiatan workshop ini yang memfokuskan pada ranag aplikatif yakni menghadirkan makalah yang bersifat penerapan praktis bagi mahasiswa. Yakni materi “penyusunan desain proposal penelitian kualitatif” yang disampaikan oleh Bapak Dr. Irfan Noor, M. Hum (ketua Jurusan Filsafat Pemikiran Islam PPS IAIN Antasari Banjarmasin). Makalah yang kedua, mengenai “penyusuna proposal penelitian Kuantitatif” yang disampaikan oleh Dr. A. Salabi, M. Ag (ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam PPS IAIN Antasari Banjarmasin), dan yang terakhir disampaikan oleh Bapak Dr. Dzikri Nirwana, M. Ag, (dosen Fak. Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin) yang mengangkat judul makalah “penyusunan proposal penelitian Literarur”.
Banjarmasin, 20/5/2011

Senin, 09 Mei 2011

GURU: Antara Profesi dan Kualitas

Pada puncak acara peringatan Hari Guru Nasional XII, tanggal 2 Desember 2004, Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudoyono, telah mencanangkan guru sebagai profesi.
Acara pencanangan guru sebagai profesi ini telah disaksikan oleh ribuan mata guru yang telah hadir dalam puncak acara di Istana Olah Raga Bung Karno, Senayan, Jakarta. Hadir dalam acara tersebut adalah jajaran Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Rakyat dan bangsa Indonesia di seluruh pelosok tanah air pun menyaksikan acara yang belum pernah diadakan ini melalui layar kaca. Diantara mereka mungkin timbul sederet pertanyaan yang ada di benaknya masing-masing. Apakah guru sebagai profesi memang demikian perlu dicanangkan? Kalau perlu mengapa? Mengapa profesi lain seperti dokter, akuntan, pengacara dan lain-lain tidak dicanangkan? Ada apa dengan guru sebagai profesi dan apa hubungannya dengan kualitas out put lulusan yang “dihasilkan” oleh guru? Mari kita jawab bersama-sama.
Berbicara tentang guru, tentu berbicara mengenai martabat seorang guru itu. Dan menurut bapak Wardjiman Djojonegoro, berbicara tentang martabat guru tentu bersinggungan dengan kesejahteraannya.
Guru ialah Pegawai negeri sipil (PNS) yang diberi tugas, wewenang, dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah, termasuk hak yang melekat dalam jabatan (surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN Nomor 57686/MPK/1989).
Menurut Dr. Sayyed Hossein Nasr yang dikutip oleh Azyumardi Azra, Guru sebagai figur sentral dalam pendidikan, haruslah dapat diteladani akhlaknya disamping kemampuan keilmuan dan akademisnya. Selain itu, guru haruslah mempunyai tanggung jawab dan keagamaan untuk mendidik anak didiknya menjadi orang yang berilmu dan berakhlak.
Dari sini dapat diketahui beberapa peran dan fungsi seorang guru, yaitu antara mempunyai tanggungjawab terhadap diri sendiri (self), professional (professional status) dan status social (social status). Disamping itu, guru juga mempunyai tanggung jawab sebagai orang yang menjadi tauladan, idola dan panutan bagi anak didik serta mencetak menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak mulia.

Guru antara profesi dan kualitas lulusan
Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada pasar 39 (1) dan (2) dinyatakan bahwa: “Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelola, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan tehnis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi”.
Profesionalisme seorang guru adalah tanggung jawab dirinya sendiri, pemerintah dan masyarakat. Demikian juga, ketika seorang guru berkeinginan untuk meningkatkan kemampuan paedagogik dan akademisnya, sesungguhnya tak seorangpun yang berhak untuk melarangnya. Peningkatan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik tentunya akan memberikan dampak yang signifikan kepada peserta didiknya.
Alangkah ironisnya jika pemerintah berupaya untuk meningkatkan kualitas guru dan guru sendiri tidak mau untuk ditingkatkan. Dan tentu hal ini ditunjang dengan berbagai pasilitas seperti pemberian beasiswa kepada guru yang melanjutkan ke program kualifikasi dari D2 ke S1, bahkan untuk melanjutkan ke jenjang S2.
Berbicara tentang profesi guru, tentunya tidak terpisahkan dengan fungsi dan peran guru itu sendiri. Guru memiliki satu kesatuan perang dan fungsi yang tidak terpisahkan juga, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih. Guru harus memiliki kemampuan tersebut secara paripurna. Meskipun demikian, guru sebagai manusia biasa ia sama sekali bukan manusia super tanpa cacat. Guru memiliki kelebihan dan juga kekurangan.
Dari sana jelas sekali peran dan fungsi guru tidaklah sampai disitu saja, akan tetapi nantinya menjadikan anak didik sebagai “orang yang berkualitas”. Selama enam tahun misalnya guru tingkat Sekolah dasar/sederajat akan memberikan warna bagi anak tersebut, apakah menjadi anak yang berkualitas atau tidak, atau selama tiga tahun bagi guru tingkat SMP/sederajat, atau tiga tahun kemudian bagi guru yang mendampingi anaknya di bangku SMA/sederajat. Tentu ini akan terlihat ketika out put tersebut memasuki dan menjadi “orang” di masa mendatang.
Problematika sekarang adalah apakah seorang guru mampu menjadi orang yang ideal bagi anak didiknya, masyarakat? Atau sebaliknya. Dengan adanya pelaksanaan UN yang sebentar lagi digelar, disini dedikasi seorang guru yang benar-benar professional dipertaruhkan. Harapan memang adalah yang terbaik, lulus 100% disekolah tertentu atau bahkan suatu daerah tertentu. Tapi, janganlah masa depan anak didik kita digadaikan oleh sesuatu yang hanya keuntungan sementara waktu saja dan kualitas anak didik kita menjadi bahan “tertawaan” dimata dunia. Nauzubillah.
Mari kita bertekad untuk senantiasa menjadi jati diri sebagai seorang guru yang professional dan benar-benar “oemar bakri” seperti dalam ‘Laskar pelangi’. Mendidik laskar-laskar yang tanpa pamrih dan ikhlas karena Allah SWT. Amin.

Banjarmasin, 29 Maret 2011