Ada ungkapan Arab yang terkenal di kalangan pesantren yaitu “Man Jadda WaJada” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil, ”-where there is a will there is a way !” , juga terkenal di masyarakat kita pepatah “Dimana ada kemauan, pasti disitu ada Jalan “. Tidak ada hal yang sulit jika kita mau berusaha dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas, yang penting ada kemauan dan ada kesungguhan serta gunakan logika serta ilmu pengetahuan sesuai kapasitas kita masing masing yang telah Allah Ta’ala karuniakan. Setiap manusia punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, jadi bukan hanya sekedar tumbuh semata, melainkan harus berkembang. Allah sudah berikan modal dasar berupa otak dan akal yang lebih baik dibandingkan dengan mahluk lainnya di muka bumi ini. Jadi sangatlah keliru jika kita beranggapan bahwa nasib tidak bisa diubah.
Nasib kita itu kita sendirilah yang menentukan, sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah dalam kitab suci Al-Quran bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya (QS Ar-Ra’d 11). Kalau sekarang kita menyaksikan arus globalisasi yang menggunakan cara-cara kapitalis-liberal dalam menggapai rezeki Illahi, maka akibatnya bisa kita rasakan sangatlah buruk. Memang disatu sisi tampaknya kondisi sosial ekonomi masyarakat tenang saja, akan tetapi jangan salah, selama bertahun-tahun kita telah dibuai oleh nilai-nilai yang ternyata jauh dari ayat-ayat Allah. Tengok saja dewasa ini terjadi penumpukan modal di segelintir anggota masyarakat. Uang terkonsentrasi di kelompok mereka yang menggunakan cara-cara tidak terpuji: korupsi, kolusi, manipulasi, kongkalikong, jalan pintas membeli jabatan dengan suap atau serangan fajar dalam Pemilu atau Pilkada serta beragam kelicikan lainnya.
Sementara semakin banyak kelompok miskin yang terseok-seok mencari kehidupan akibat sistem yang salah kaprah, seperti pameo “Yang kaya semakin kaya yang miskin bertambah miskin “. Kapitalisme liberalistik mengajarkan rangkaian kompetisi yang tidak sehat, tidak fair dan tidak transparan !. Sementara konsep yang dielaborasi dari nilai-nilai islam merupakan konsep ideal yang bisa diterapkan secara mudah, tidak berliku-liku dan sangat faktual berlaku dalam kehidupan masyarakat di masa kini maupun di masa-masa mendatang. Islam memberikan kiat berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khairat - common virtues). Terminologinya jelas “Berlomba-lomba”artinya saling bahu-membahu (hand in hand, bersinergi). Dalam berupaya menggapai rezeki dan atau mencapai sesuatu tujuan yang baik, yakin bahwa pencapaian harus dilakukan melalui sebuah jaringan, sebuah network atau Jam’iyah, bukan dengan jalan sendiri-sendiri alias individualistik. Keberhasilan pencapaian juga diarahkan kepada pemerataan kapital berdasarkan asas keadilan, bukan penimbunan yang mengundang keserakahan (seperti yang diterapkan ekonomi kapitalis) bukan pula asas “sama rata sama rasa” yang ditawarkan oleh konsep ekonomi komunis. Kita lihat saja dalam ekonomi kapitalis justru hal yang sebaliknya sangat jauh dari nilai-nilai Islam malah dilegalkan seperti : bersaing secara tidak wajar-menciptakan aneka penghambat (barrier to entry) dalam mekanisme dagang, tujuan menang-menangan, berkompetisi secara tidak sehat, yang akhirnya akan melahirkan mental-mental manusia serakah (greedy), saling menjegal, saling meniadakan bahkan saling membunuh dalam ranah persaingan menggapai rezeki, parahnya hal tersebut kini malah dianggap lumrah, wajar karena telah diterima oleh banyak kalangan masyarakat.
Bagi kita yang kini telah terlanjur tenggelam dalam arus modernisasi, arus ekonomi neo liberal dengan segala manifestasinya, saatnya kini berada di simpang jalan, ada pilihan-pilihan buruk ada pula pilihan terbaik, ada kesempatan memilah dan memilih yang terbaik, dan ini semuanya tergantung niat kita memperjuangkan keberdayaan kita sebagai umat manusia, sebagai hamba Allah yang patuh dan taat terhadap segala perintahNYA. Memang pilihan ini memerlukan perjuangan serius untuk berubah, bukan langkah setengah-setengah, bukan pula dengan keragu-raguan. Sebagaimana ummat Islam yang diharuskan oleh Allah untuk masuk kedalam ajaran Islam secara keseluruhan (kaffah). Konsep ideal menjemput rezeki bukanlah sesuatu yang sulit digapai, persoalannya terpulang kepada niat serta kesungguhan hati untuk memperjuangkan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Jadi kita tak perlu pesimis, miris atau tidak yakin dengan upaya kita melakukan reposisi di segala bidang, khususnya menjemput rezeki. Apabila tata nilai yang berlaku saat ini sangat jauh dari aturan Allah, maka hendaknya kita bisa mengubahnya dengan sebuah proses “pemupukan” idealisme yang terus menerus. Sehingga bukan pada tempatnya lagi kita berfikir pragmatis sekedar uang dan hidup, akan tetapi memandang jauh kedepan dengan misi-misi yang lebih baik. Ada ungkapan yang terkenal sebagai pernyataan seorang Umar Bin Khattab ra yg idealis, semestinya menjadi inspirasi kita semua yaitu : “Jika ada 1000 orang yang membela kebenaran, aku salah seorang diantaranya. Jika ada 100 orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada 10 orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada 1 orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya !.”
Dalam menyongsong masa depan, seseorang apalagi seorang siswa tentunya konsep Man Jadda wajada ini merupakan hal yang terpenting. Hal yang perlu ditanamkan dalam hati seseorang melalui belajar sungguh-sungguh dan bekerja yang ulet dan teliti.
Seseorang tidak mungkin ia berhasil dan mencapai apa yang ia cita-citakan tanpa bekerja keras dan sungguh-sungguh.
Wallahu a'lam bish shawwab.
This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Minggu, 05 April 2015
The Power of Do'a (keajaiban Do'a)
Setiap manusia pasti berhajat kepada sesuatu yang ia inginkan atau yang ia butuhkan. Ketika kebutuhan atau keinginan itu tentunya akan terwujud pada saat itu atau kalau mungkin kapanpun yang ia harapkan. Keingian yang ia panjatkan kepada seseorang atau kepada khaliqnya, itulah yang dinamakan do’a.
Dalam al-Qur’an banyak sekali kata-kata do’a dalam pengertian yang berbeda. Abu Al-Qasim Syarah Al-Naqsabandi di dalam kitabnya menjelaskan Al Asmaul Husna ada beberapa pengertian.
Pengertian pertama, do’a mempunyai arti “ibadah” seperti dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 106 : “Dan janganlah kamu artinya beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat kepada engkau”. Maksud kata berdo’a di atas adalah “ber-ibadah”. Yaitu jangan menyembah selain daripada Allah, yaitu sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu.
Pengertian kedua, do’a adalah “istighatsah” (memohon bantuan dan pertolongan), seperti dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 23 : “dan berdo’alah kamu artinya (minta bantuan) kepada orang-orang yang mungkin dapat membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu”.
Pengertian ketiga, do’a artinya “permintaan atau permohonan”. Seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Mu’minun ayat 60 di bawah ini. “Mohonlah (mintalah) artinya kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu”.
Pengertian keempat, do’a berarti “percakapan”. Seperti dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 10 : “Do’a (percakapan)mereka artinya di dalam surga adalah Subhanallahumma (maha suci engkau wahai Tuhan)”.
Pengertian yang kelima, do’a berarti “memanggil”. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an: “Pada hari, dimana Ia Artinya Mendo’a (memanggil) kamu”. Dalam yad’u maksudnya kata do’a pada ayat ini adalah memanggil yaitu pada suatu hari, dimana ia (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu”.
Pengertian keenam, do’a artinya “memuji”. Seperti dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 110 dibawah ini. “Katakanlah olehmu hai (muhammad) artinya berdo’alah (pujilah) akan Allah atau berdo’alah (pujilah) akan ar-rahman (maha penyayang)”.
Maka jelaslah maksud do’a itu seperti kata At Tibi seperti yang dikutip oleh Hasbi As siddiq “do’a” adalah “melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan kehajatan (kebutuhan) dan ketundukan kepada Allah swt”.
Ketika kita sedang berdo’a dihadapan Allah swt, tentunya akan membayangkan orang yang dimintai bantuan, yaitu Allah swt Yang Maha dan segala Maha. Sehingga akan timbul kekhusyuan ketika kita berdo’a. Seperti adanya keseriusan seseorang yang sedang menghadap atasannya dan memohon satu bantuan, tentunya dengan cara dan adab yang baik.
Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa hendaklah kita berdo’a kepada Allah swt. Dengan keyakinan bahwa do’a tersebut pasti akan dikabulkan-Nya. Keyakinan inilah yang akan membuahkan hasil yaitu terkabulnya sebuah permintaan (do’a).
Berdo’a bukan saja untuk diri kita sendiri, akan tetapi juga diperuntukkan bagi orang lain, baik untuk orangtua, anak, isteri, tetangga, atau kawan-kawan kita dikejauhan. Bagi seorang ayah atau ibu tentunya anak-anaknya yang terpenting ia do’akan, begitu juga sebaliknya. Bagi seorang guru, anak-anak didiknya yang senantiasakan ia do’akan agar segala apa yang ia pelajari hari ini atau selama ini dimudahkan atau lulus dari Ujian Nasional, dll.
Do’a yang dipanjatkan dikejauhan akan cepat dikabulkan, karena Nabi Muhammad saw. Telah memberikan keterangan bahwa do’a dibalik kejauhan (orang yang tidak ada) dikabulkan. Betapa dahsyatnya manfaat sebuah do’a yang dipanjatkan ketika orang yang kita cintai tidak berada ditempat.
Pernahkan kita mendo’akan orang-orang yang kita cintai dari kejauhan, di saat tengah malam saat dalam sujud dterakhir? Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak kikir dalam berdo’a, terutama untuk orang lain. Wallahu a’lam. @harapan baru,24/3/2015
Selasa, 03 Februari 2015
Kerja, Kerja dan Kerja?
Sejak presiden Jokowi dilantik menjadi presiden, beliau menyusun kabinet ramping dan berfokus pada kabinet kerja.
jika Anda ingin sukses, maka bekerjalah dengan penuh semangat, gunakan akal dan ilmu dalam bekerja dan bekerja sampai tuntas serta penuh keikhlasan, dengan begitu seberat apapun pekerjaan Anda, pasti akan terasa ringan serta berhasil baik dan maksimal.
Kerja Keras adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, sekuat daya dan tenaga, penuh semangat, pantang menyerah, untuk mencapai hasil terbaik, terlalu fokus pada pekerjaan, hingga tak punya waktu dan energi lagi untuk melakukan kegiatan yang lain. Dan biasanya kerja keras ini hanya mengandalkan otot.
Kerja Cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot, namun juga menggunakan otak, bisa berpikir kreatif dan inovatif, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan waktu yang efektif, sehingga masih memiliki waktu dan energi untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan yang lainnya. Dan biasanya kerja cerdas ini dimiliki oleh kaum intelektual atau ilmuwan. Jadi, bekerja cerdas adalah pandai melihat peluang, memperhitungkan risiko dan mampu mencari solusi dalam penyelesaiannya.
Kerja Ikhlas adalah bekerja dengan hati, dengan niat yang tulus semata-mata untuk ibadah dan mencari keridhaan Sang Pencipta (Allah swt), sehingga jika akhirnya berhasil maka kita akan lebih bersyukur dan jika tidak berhasil, maka kita tidak akan kecewa, karena semuanya sudah diatur oleh yang Kuasa, kita tinggal berusaha dan berdo'a. Jadi, jika kita bekerja dengan ikhlas, maka kerja kita bernilai ibadah dan ada ganjaran pahala buat kita.
Kerja Tuntas adalah bekerja dengan semangat, sampai selesai dan tidak setengah-setengah. Seberapa pun banyaknya pekerjaan kita, harus kita selesaikan sampai akhir (finish), sehingga semua pekerjaan kita memperoleh hasil yang sukses.
h
Sebagai seorang mukmin tentunya sebuah pekerjaan apapun untuk mencari rezeki dan pengabdian adalah pekerjaan mulia, asalkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dilakukan dengan otak yang baik, karena Allah dan tidak dilakukan setengah-tengah sampai tuntas atau selesai.
wallahu a'lam bish shawab
Selasa, 11 November 2014
Muharram, tonggak kebangkitan Islam
Tidak terasa bulan Muharram telah tiba, dan kita memasuki sebuah momentum penting yaitu tahun baru Islam 1436 H. Pada Bulan Muharram ini umat Islam tentunya bangga dan bahagia karena inilah satu-satu awal tahun yang teramat dimuliakan oleh Allah swt. Kenapa tidak? Karena pada bulan ini umat Islam disunatkan untuk tafakkur dan muhasabah terhadap perjalanan hidup selama satu tahun yang lalu.
Sebelum Khalifah Umar Bin Khattab menentukan momentum hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah sebagai titik penentu perhitungan hijriyah, bulan Muharram disebut dengan bulan Shafar Awal, karena posisinya yang terletak sebelum bulan shafar.
Nama Muharram secara bahasa dapat diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Yaitu bulan yang didalamnya orang-orang Arab diharamkan dilarang (diharamkan) melakukan peperangan. Begitulah kebiasaan mereka tempo dulu mengkhususkan bulan-bulan peperangan dan bulan-bulan gencatan senjata. Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir terdapat keterangan berikut:
Dinamakan bulan Muharram karena bulan tersebut memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan, bahkan bulan ini memiliki keistimewaan serta kemuliaan yang sangat amat sekali dikarenakan orang arab tempo dulu menyebutnya sebagai bulan yang mulia (haram), tahun berikutnya menyebut bulan biasa (halal).
Orang arab jaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan, sedangkan pada bulan lain misalnya shafar, diperbolehkan melakukan peperangan. Nama shafar sendiri memiliki arti sepi atau sunyi dikarenakan tradisi orang arab yang pada keluar untuk berperang atau untuk bepergian pada bulan tersebut.
Dinamakan bulan shafar karena rumah-rumah mereka sepi, sedangkan para penghuninya keluar untuk berperang dan bepergian.
Maka, sesuai dengan penamaannya bulan Muharaam adalah bulan yang di muliakan dan bulan dimana di larang melakukan peperangan. Demikianlah Allah swt. telah menentukan empat bulan yang dimuliakan, tiga di antaranya berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan yang terakhir adalah Rajab terletak antara bulan Jumadal Ula dan Sya’ban.
Keutamaan Bulan Muharram
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.
Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).
Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.
Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.
Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah
sumber : dari berbagai sumber
Minggu, 02 November 2014
DPD AGPAII Kab. Balangan Gelar PENTAS PAI Tingkat Kabupaten Balangan & Halal Bil Halal
Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPD AGPAII) Kabuapaten Balangan menggelar kegiatan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (PENTAS PAI) Tingkat Kabupaten Balangan tahun 2014 yang dilaksanakan di pada hari Kamis, 30 Oktober 2014 bertempat di Gedung Sanggam Paringin, Masjid Sa’adah, Langgar Attaqwa, SMPN 1 Paringin, dan SDN Paringin dan Kegiata Halal Bil Halal Guru PAI Se-Kabupaten Balangan yang dilaksanakan hari Sabtu, 1 Nopember 2014 bertempat di Aua SKB Paringin.
Kegiatan PENTAS PAI ini digelar bertujuan untuk menyalurkan minat dan bakat peserta didik disemua tingkatan SD, SMP, SMA/SMK se Kabupaten Balangan, juga dalam rangka seleksi tingkat kabupaten Balangan untuk mencari bibit terbaik dalam menyambut kegiatan Pentas PAI Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan pada bulan Nopember 2014 ini.
Ada beberapa kegiatan lomba yang dilaksanakan pada PENTAS PAI Tingkat Kabupaten Balangan, yaitu tingkat SD : Lomba tilawatil Qur’an, Hifzil Qur’an surah-surah pendek, Cerdas cermat PAI, Pidato/ceramah PAI, Tingkat SMP : Lomba Tilawatil Qur’an, Pidato/ceramah PAI, Cerdas cermat PAI dan Seni Kaligrafi; sedangkan tingat SMA/SMK : Lomba Tilawatil Qur’an, Lomba Pidato/ceramah PAI, Seni Nasyid, Debat PAI, dan Kreasi Busana Muslimah.
Menurut Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua DPD AGPAII Kabupaten Balangan Bapak Rahmadi, S. Ag. M. Pd. I “Alhamdulillah kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintah kabupaten Balangan, Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Balangan, Bank Kalsel, Bank Kalsel Syari’ah Paringin, Bank BRI Paringin, dan semua guru-Guru Pendidikan Agama Islam baik yang sudah bersertifikasi maupun yang belum bersertifikasi, PNS mauupun non PNS yang ada di Kabupaten Balangan”.
Adapun hasil kegiatan lomba, adalah sebagai berikut :
Lomba Tilawatil Qur’an tingkat SD juara I Abd Samad (SDN Halong 1), Juara II Nuzulaifa Rahmah (SDN Halong 1), Juara III Noor Rizqiyatun Najhah (SDN Batu Piring). Lomba Pidato PAI Tingkat SD Juara I Rajudin (SDN Kaladan), Juara II Annida Aisya Rahmah (SDN Baruh Penyambaran I), Juara III Rahmawati (SDN Paringin 2); Lomba Cerdas Cermat PAI SD:Juara I SDN Badalunga, Juara II SDN Munjung, Juara III SDN Galumbang; Lomba Hifzil Qur’an SD : Juara I Naza Nisa Azzahra (SDN Sungai Tabuk), Juara II M.Ilham Arif (SDN Sungai Tabuk), Juara III Zahratunnisa (SDN Halong 1);
Lomba Tilawatil Qur’an Tingkat SMP : juara I Ahmad Andrian (SMPS Ikhwanul Muslimin), Juara II Muhammad Hafizh Fuady (SMPN 4 Paringin), Juara III Juriati (SMPN 3 Batumandi); Lomba Pidato PAI Tingkat SMP : Juara I Rizkia Alifa Rahma (SMPN 1 Paringin), Juara II M. Zakaria (SMPN 2 Juai), Juara III Riska (SMPN 2 Awayan); Lomba Seni Kaligrafi : Juara I Norlina hasanah (SMPN 4 Paringin), Juara II M. Syahril (SMPN 2 Paringin), Juara III Safa Marwati (SMPN 4 Batumandi); Lomba Cerdas Cermat PAI : Juara I SMPN 2 Batumandi, Juara II SMPN 1 Paringin, Juara III SMPN 1 Batumandi.
Lomba Tilawatil Qur’an tingkat SMA/SMK : Juara I Muhammad Aulia Rahman (SMAN 1 Juai), Juara II Ahmad Rifani (SMAS Ikhwanul Muslimin), Juara III Akhmad Risfadillah (SMKN 1 Batumandi); Lomba Pidato PAI SMA/SMK : Juara I Ana Muliana (SMAN 1 Paringin), Juara II Normayanti (SMKN 1 Paringin), juara III Siti Rabiatul Adawiyah (SMAN 1 Juai); Lomba Seni Nasyid :Juara I SMAN 1 Paringin, Juara II SMAN 2 Paringin, Juara III SMKN 1 Batumandi; Lomba Debat PAI Juara I SMAN 2 Paringin, Juara II SMKN 1 Batumandi, Juara III SMKN 1 Paringin; Lomba Kreasi Busana Muslimah Juara I Siti Alfiah (SMAN 1 Paringin), Juara II Helma Yanti Kira (SMAN 2 Paringin), Juara III Norkamariah (SMKN 1 Paringin).
Pada Acara Halal Bil Halal Guru Pendidikan Agama Islam se-Kabupaten Balangan diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh KH. Ahmad Yusuf Ketua MUI Kabupaten Balangan dan penyerahan Tropy kepada pemenang lomba pada kegiatan PENTAS PAI Tingkat Kabupaten Balangan tahun 2014.
Pada kesempatan itu, Ketua Panitia Rahmadi, S. Ag, M. Pd. I (ketua DPD AGPAII Kabupaten Balangan) menyampaikan bahwa kegiatan halal bil halal ini dilaksanakan dalam rangka menyatukan persepsi dan ajang silaturrahmi guru-guru PAI se Kabupaten Balangan guna tugas dan perannya sebagai guru PAI sehingga mudah-mudahan dapat memberikan dampak positif bagi peserta didik di sekolah. Karena menurutnya, guru PAI merupakan ujung tombak pelaksanakan pembinaan budi pekerti dan akhlak mulia di sekolah, sebab apapun yang terjadi sekolah berupa kemerosotan moral anak didik yang disalahkan adalah guru PAI.
Dalam ceramahnya ketua MUI Kabupaten Balangan KH. Ahmad Yusuf menyampaikan bahwa halal bil halal ini adalah tradisi orang Indonesia di Tanah Arab kata beliau tidak ada istilal halal bil halal yang ada hanya silaturrahmi saja. Juga dalam menghadapi kehidupan ini kita harus mendekatkan diri kepada Allah swt dan mendekat diri kepada rasulullah dalam arti tundak dan patuh kepada segala perintah Allah dan Suruhan rasulullah. Di samping itu, kita juga harus mengeratkan hubungan manusia dengan manusia.
Berkaitan dengan guru, kata beliau harus memberikan keteladanan kepada anak didik, mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, dan komitmen yang tinggi dalam mendidik bukan hanya sekadar memberikan pelajaran saja.
Minggu, 31 Agustus 2014
Ahlan wa sahlan : Meraih Haji Mabrur
Jamaah haji Indonesia mulai hari ini akan berangkat menuju tanah suci Mekkah.
Apa yang didapat setelah menunaikan ibadah haji tersebut, tentunya menjadi haji yang mabrur (haji yang diterima oleh Allah).
Haji menurut hakikatnya tidak lain adalah olah spiritual. Karena kalau hanya sekedar mengunjungi Makkah dalam arti fisik dapat dilakukan kapan saja kita mau. Oleh karenanya, Makkah letaknya bukanlah sebatas geografis, yakni terletak di Dataran Arab Saudi. Makkah berada di dalam spirit manusia yang tidak ditempuh dengan hanya menggunakan bekal rupiah.
Haji adalah olah spiritual untuk mencapai keyakinan hidup yang hak, yaitu berani dan sanggup mati dalam kebenaran, serta sabar dan ikhlas dalam hidup di dunia. Dimana ruh masih terpenjara dalam wadaq ini. Hidup ikhlas adalah hidup tidak terkontaminasi nafsu berebut kuasa, harta, kelezatan hidup di dunia (Chodjim, 2002 : 209). Maka keikhlasan menjalani hidup menjadi tujuan dari haji. Untuk dapat ikhlas perlu laku atau olah spiritual.
Untuk mampu memperoleh laku yang benar, juga diperlukan keberanian dan kesanggupan memilih jalan yang diyakini benar. Sebagiannya adalah keberanian dan kesanggupan untuk hidup bersahaja dan bersih dari segala perbuatan yang tercela dan mungkar. Hati terbebas dari segala iri, dengki, dendam, kesumat, kikir dan tamak. Pikiran bersih dari keterikatan dengan kelezatan dunia. Rohani dimerdekakan, dan keberagamaan tidak terbelenggu oleh sekedar formalitas. Dan untuk itu semua dibutuhkan kesabaran, memiliki daya juang, dan tidak mudah menyerah dalam upaya mencapai tujuan. Tegar dan kokoh dalam perjuangan hidup yang benar, dan kemauan mempertahankan keyakinan atas kebenaran itu.
Di balik kesabaran itu, juga tersembul kemauan menjaga harmonisme segala hal di dunia ini. Tidak egois, tidak mau menang sendiri, tidak menyerobot hak orang lain. tidak mempermainkan kekuasaan, tidak melanggar hak-hak orang lain. ia selalu memperjuangkan hak hidup dengan tanpa mengorbankan hak orang lain. ia memperjuangkan haknya sekaligus hak orang lain.
Islam bukanlah sekedar simbol. Sehingga termasuk Kabah misalnya, yang berada diMakkah hanya disebut sebagai tiruan yang dibuat manusia. Kabah yang sesungguhnya tidak diketahui letaknya karena berada di alam spiritual. Kabah diri berada di kedalaman ceruk hati. Oleh karenanya kebenaran dan kejujuran tidak harus diburu di Makkah. Allah menyediakan semua tempat dengan ragam hikmah (wisdom)-nya masing-masing. Untuk itulah konsep keberbedaan harus disatukan dalam kerangka litaaruf (saling mengenal)
Do'a Hari Anak Nasional 2014 Kabupaten Balangan
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin
Ash shalawatu wassalamu ‘alaa asyrafil ambiya wal mursalin sayyidinina wa maulana muhammadin wa’alaalihi wa ash haabihi ajma’in.
Ya Allah ya Rabb,
Tuhan penguasa alam semesta ini, kami hadir di tempat ini dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2014 Kabupaten Balangan...
Ya Allah ya Rahman,
Tuhan yang Maha penyayang...kami sadar bahwa kami adalah generasi penerus bangsa ini, berikanlah bekal kepada kami agar menjadi generasi yang tangguh dan kuat dalam menyongsong persaingan di masa akan datang...
Ya Allah ya Rahim,
Tuhan yang Maha pemurah...berikan kepada kekuatan kepada guru-guru kami agar dapat memberikan bimbingan dan pendidikan yang layak bagi kami, sehingga kami menjadi anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter serta berakhlak mulia...
Ya Allah ya Haadi,
Tuhan yang Maha pemberi petunjuk, berikanlah petunjuk kepada pemimpin-pemimpin kami, sehingga mereka dapat memimpin negeri ini menjadi negeri yang sejahtera dan makmur...
Ya Allah ya Ghafur,
Tuhan yang Maha pengampun, bukakanlah pintu ampunan-Mu kepada orangtua kami, merekalah selama ini yang memelihara dan membimbing kami, sehingga kami dapat berdiri di tempat ini menjadi kebanggaan mereka...
Ya Allah ya Mushawwir,
Tuhan yang Maha pembentuk, berikanlah kepada generasi muda kami kesempatan dan kekuatan untuk dapat memberikan pengabdian yang terbaik bagi negeri ini...
Ya Allah Ya Mujibassaa ilin,
Tuhan yang menerima segala pinta dan do’a kami, terimalah segala permohonan dan minta kami.
Rabbana aatina fiddun ya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannaar
Wash shallahu ‘ala sayyidina wa maulana muhammadin wa’ala alihi wa ashha bihi ajma’in
Walhamdulillahirrabbil ‘alamin
Paringin, 1 September 2014














