This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 23 April 2015

Event MTQ Nasional XXVIII Tk. Prov. Kalsel

Pelaksanaan MTQN XXVIII Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan yang dilaksanakan di Kabupaten Balangan tgl 19-25 April 2015, merupakan event yang penting dalam rangka implementasi kegiatan keagamaan dalam ruang daerah atau kabupaten yang menjadi tuan rumah pelaksanaan.

Senin, 13 April 2015

Urgensi Media Audio Visual dalam Pembelajaran PAI

Faktor terpenting didalam peningkatan kualitas pengajaran adalah guru. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah subyek utama dalam belajar. Kegiatan belajar bersama dengan memanfaatkan media audio visual yang kini hampir dimiliki semua sekolah dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil dengan memanfaatkan media audio visual akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa dilihat dan didengar kemudian didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan atau disampaikan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Pembelajaran Agama Islam tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas dengan bekerja dalam kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000: 24). Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan: “apa yang saya dengar, saya lupa. Apa yang saya lihat, saya ingat. Apa yang saya lakukan, saya paham.” Pepatah cina ini sangatlah terkenal di dunia pendidikan. Dengan pemanfaatan audio visual dan penggunaan metode tugas akan mengaktifkan tiga gaya belajar siswa yang meliputi audio, visual, dan kinetis. Hal ini tentu saja akan mampu mengkondisikan siswa memiliki motivasi. Menurut Djamarah (2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Dale (1969:180) mengemukakan bahwa bahan-bahan audio-visual dapat memberikan banyak manfaat asalkan guru berperan aktif dalam proses pembelajaran. Hubungan guru-siswa tetap merupakan elemen paling penting dalam system pendidikan modern saat ini. Guru harus selalu hadir untuk menyajikan materi pelajaran dengan bantuan media apa saja agar manfaat berikut ini dapat terealisasi: 1. Meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dalam kelas; 2. Membuahkan perubahan signifikan tingkah lalu siswa; 3. Menunjukkan hubungan antar mata pelajaran dan kebutuhan dan minta siswa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa; 4. Membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa; 5. Membuat hasil belajar lebih bermakna bagi berbagai kemampuan siswa; 6. Mendorong pemanfaatan yang bermakna dari mata pelajaran dengan jalan melibatkan imajinasi dan partisipasi aktif yang mengakibatkan meningkatnya hasil belajar; 7. Memberikan umpan balik yang diperlukan yang dapat membantu siswa menemukan seberapa banyak telah mereka pelajar; 8. Melengkapi pengalaman yang kaya dengan pengalaman itu konsep-konsep yang berkala dapat kembangkan; 9. Memperluas wawasan dan pengalaman siswa yang mencerminkan pembelajaran nonverbalistik dan membuat generalisasi yang tepat; 10. Meyakinkan diri bahwa urutan dan kejelasan pikiran yang siswa butuhkan jika mereka membangun struktur konsep dan system gagasan yang bermakna. Sudjana dan Rivai (1992;2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu: 1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; 2. Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran; 3. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran; 4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain. Encyclopedei of Educational Research dalam Hamalik (1994:15) merincikan manfaat media pendidikan sebagai berikut: 1. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme. 2. Memperbesar perhatian siswa. 3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap. 4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa. 5. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu, terutama melalui gambar hidup. 6. Membantu tubuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa. 7. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain, dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih baik Begitu penting media audio visual dalam pembelajaran terutama pembelajaran PAI, sehingga Direktorat Pendidikan Agama Islam kementerian Agama RI telah membentuk tim ICT dalam mendukung program DitPAI terutama membantu dalam kegiatan pelatihan dan pembinaan guru-guru PAI dalam pembuatan media pembelajaran berbasis ICT.

Minggu, 05 April 2015

Implementasi Konsep Man Jadda wajada

Ada ungkapan Arab yang terkenal di kalangan pesantren yaitu “Man Jadda WaJada” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil, ”-where there is a will there is a way !” , juga terkenal di masyarakat kita pepatah “Dimana ada kemauan, pasti disitu ada Jalan “. Tidak ada hal yang sulit jika kita mau berusaha dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas, yang penting ada kemauan dan ada kesungguhan serta gunakan logika serta ilmu pengetahuan sesuai kapasitas kita masing masing yang telah Allah Ta’ala karuniakan. Setiap manusia punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, jadi bukan hanya sekedar tumbuh semata, melainkan harus berkembang. Allah sudah berikan modal dasar berupa otak dan akal yang lebih baik dibandingkan dengan mahluk lainnya di muka bumi ini. Jadi sangatlah keliru jika kita beranggapan bahwa nasib tidak bisa diubah. Nasib kita itu kita sendirilah yang menentukan, sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah dalam kitab suci Al-Quran bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya (QS Ar-Ra’d 11). Kalau sekarang kita menyaksikan arus globalisasi yang menggunakan cara-cara kapitalis-liberal dalam menggapai rezeki Illahi, maka akibatnya bisa kita rasakan sangatlah buruk. Memang disatu sisi tampaknya kondisi sosial ekonomi masyarakat tenang saja, akan tetapi jangan salah, selama bertahun-tahun kita telah dibuai oleh nilai-nilai yang ternyata jauh dari ayat-ayat Allah. Tengok saja dewasa ini terjadi penumpukan modal di segelintir anggota masyarakat. Uang terkonsentrasi di kelompok mereka yang menggunakan cara-cara tidak terpuji: korupsi, kolusi, manipulasi, kongkalikong, jalan pintas membeli jabatan dengan suap atau serangan fajar dalam Pemilu atau Pilkada serta beragam kelicikan lainnya. Sementara semakin banyak kelompok miskin yang terseok-seok mencari kehidupan akibat sistem yang salah kaprah, seperti pameo “Yang kaya semakin kaya yang miskin bertambah miskin “. Kapitalisme liberalistik mengajarkan rangkaian kompetisi yang tidak sehat, tidak fair dan tidak transparan !. Sementara konsep yang dielaborasi dari nilai-nilai islam merupakan konsep ideal yang bisa diterapkan secara mudah, tidak berliku-liku dan sangat faktual berlaku dalam kehidupan masyarakat di masa kini maupun di masa-masa mendatang. Islam memberikan kiat berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul khairat - common virtues). Terminologinya jelas “Berlomba-lomba”artinya saling bahu-membahu (hand in hand, bersinergi). Dalam berupaya menggapai rezeki dan atau mencapai sesuatu tujuan yang baik, yakin bahwa pencapaian harus dilakukan melalui sebuah jaringan, sebuah network atau Jam’iyah, bukan dengan jalan sendiri-sendiri alias individualistik. Keberhasilan pencapaian juga diarahkan kepada pemerataan kapital berdasarkan asas keadilan, bukan penimbunan yang mengundang keserakahan (seperti yang diterapkan ekonomi kapitalis) bukan pula asas “sama rata sama rasa” yang ditawarkan oleh konsep ekonomi komunis. Kita lihat saja dalam ekonomi kapitalis justru hal yang sebaliknya sangat jauh dari nilai-nilai Islam malah dilegalkan seperti : bersaing secara tidak wajar-menciptakan aneka penghambat (barrier to entry) dalam mekanisme dagang, tujuan menang-menangan, berkompetisi secara tidak sehat, yang akhirnya akan melahirkan mental-mental manusia serakah (greedy), saling menjegal, saling meniadakan bahkan saling membunuh dalam ranah persaingan menggapai rezeki, parahnya hal tersebut kini malah dianggap lumrah, wajar karena telah diterima oleh banyak kalangan masyarakat. Bagi kita yang kini telah terlanjur tenggelam dalam arus modernisasi, arus ekonomi neo liberal dengan segala manifestasinya, saatnya kini berada di simpang jalan, ada pilihan-pilihan buruk ada pula pilihan terbaik, ada kesempatan memilah dan memilih yang terbaik, dan ini semuanya tergantung niat kita memperjuangkan keberdayaan kita sebagai umat manusia, sebagai hamba Allah yang patuh dan taat terhadap segala perintahNYA. Memang pilihan ini memerlukan perjuangan serius untuk berubah, bukan langkah setengah-setengah, bukan pula dengan keragu-raguan. Sebagaimana ummat Islam yang diharuskan oleh Allah untuk masuk kedalam ajaran Islam secara keseluruhan (kaffah). Konsep ideal menjemput rezeki bukanlah sesuatu yang sulit digapai, persoalannya terpulang kepada niat serta kesungguhan hati untuk memperjuangkan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Jadi kita tak perlu pesimis, miris atau tidak yakin dengan upaya kita melakukan reposisi di segala bidang, khususnya menjemput rezeki. Apabila tata nilai yang berlaku saat ini sangat jauh dari aturan Allah, maka hendaknya kita bisa mengubahnya dengan sebuah proses “pemupukan” idealisme yang terus menerus. Sehingga bukan pada tempatnya lagi kita berfikir pragmatis sekedar uang dan hidup, akan tetapi memandang jauh kedepan dengan misi-misi yang lebih baik. Ada ungkapan yang terkenal sebagai pernyataan seorang Umar Bin Khattab ra yg idealis, semestinya menjadi inspirasi kita semua yaitu : “Jika ada 1000 orang yang membela kebenaran, aku salah seorang diantaranya. Jika ada 100 orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada 10 orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada 1 orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya !.” Dalam menyongsong masa depan, seseorang apalagi seorang siswa tentunya konsep Man Jadda wajada ini merupakan hal yang terpenting. Hal yang perlu ditanamkan dalam hati seseorang melalui belajar sungguh-sungguh dan bekerja yang ulet dan teliti. Seseorang tidak mungkin ia berhasil dan mencapai apa yang ia cita-citakan tanpa bekerja keras dan sungguh-sungguh. Wallahu a'lam bish shawwab.

The Power of Do'a (keajaiban Do'a)

Setiap manusia pasti berhajat kepada sesuatu yang ia inginkan atau yang ia butuhkan. Ketika kebutuhan atau keinginan itu tentunya akan terwujud pada saat itu atau kalau mungkin kapanpun yang ia harapkan. Keingian yang ia panjatkan kepada seseorang atau kepada khaliqnya, itulah yang dinamakan do’a. Dalam al-Qur’an banyak sekali kata-kata do’a dalam pengertian yang berbeda. Abu Al-Qasim Syarah Al-Naqsabandi di dalam kitabnya menjelaskan Al Asmaul Husna ada beberapa pengertian. Pengertian pertama, do’a mempunyai arti “ibadah” seperti dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 106 : “Dan janganlah kamu artinya beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat kepada engkau”. Maksud kata berdo’a di atas adalah “ber-ibadah”. Yaitu jangan menyembah selain daripada Allah, yaitu sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu. Pengertian kedua, do’a adalah “istighatsah” (memohon bantuan dan pertolongan), seperti dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 23 : “dan berdo’alah kamu artinya (minta bantuan) kepada orang-orang yang mungkin dapat membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu”. Pengertian ketiga, do’a artinya “permintaan atau permohonan”. Seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Mu’minun ayat 60 di bawah ini. “Mohonlah (mintalah) artinya kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu”. Pengertian keempat, do’a berarti “percakapan”. Seperti dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 10 : “Do’a (percakapan)mereka artinya di dalam surga adalah Subhanallahumma (maha suci engkau wahai Tuhan)”. Pengertian yang kelima, do’a berarti “memanggil”. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an: “Pada hari, dimana Ia Artinya Mendo’a (memanggil) kamu”. Dalam yad’u maksudnya kata do’a pada ayat ini adalah memanggil yaitu pada suatu hari, dimana ia (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu”. Pengertian keenam, do’a artinya “memuji”. Seperti dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 110 dibawah ini. “Katakanlah olehmu hai (muhammad) artinya berdo’alah (pujilah) akan Allah atau berdo’alah (pujilah) akan ar-rahman (maha penyayang)”. Maka jelaslah maksud do’a itu seperti kata At Tibi seperti yang dikutip oleh Hasbi As siddiq “do’a” adalah “melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan kehajatan (kebutuhan) dan ketundukan kepada Allah swt”. Ketika kita sedang berdo’a dihadapan Allah swt, tentunya akan membayangkan orang yang dimintai bantuan, yaitu Allah swt Yang Maha dan segala Maha. Sehingga akan timbul kekhusyuan ketika kita berdo’a. Seperti adanya keseriusan seseorang yang sedang menghadap atasannya dan memohon satu bantuan, tentunya dengan cara dan adab yang baik. Dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa hendaklah kita berdo’a kepada Allah swt. Dengan keyakinan bahwa do’a tersebut pasti akan dikabulkan-Nya. Keyakinan inilah yang akan membuahkan hasil yaitu terkabulnya sebuah permintaan (do’a). Berdo’a bukan saja untuk diri kita sendiri, akan tetapi juga diperuntukkan bagi orang lain, baik untuk orangtua, anak, isteri, tetangga, atau kawan-kawan kita dikejauhan. Bagi seorang ayah atau ibu tentunya anak-anaknya yang terpenting ia do’akan, begitu juga sebaliknya. Bagi seorang guru, anak-anak didiknya yang senantiasakan ia do’akan agar segala apa yang ia pelajari hari ini atau selama ini dimudahkan atau lulus dari Ujian Nasional, dll. Do’a yang dipanjatkan dikejauhan akan cepat dikabulkan, karena Nabi Muhammad saw. Telah memberikan keterangan bahwa do’a dibalik kejauhan (orang yang tidak ada) dikabulkan. Betapa dahsyatnya manfaat sebuah do’a yang dipanjatkan ketika orang yang kita cintai tidak berada ditempat. Pernahkan kita mendo’akan orang-orang yang kita cintai dari kejauhan, di saat tengah malam saat dalam sujud dterakhir? Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak kikir dalam berdo’a, terutama untuk orang lain. Wallahu a’lam. @harapan baru,24/3/2015

Selasa, 03 Februari 2015

Kerja, Kerja dan Kerja?

Sejak presiden Jokowi dilantik menjadi presiden, beliau menyusun kabinet ramping dan berfokus pada kabinet kerja. jika Anda ingin sukses, maka bekerjalah dengan penuh semangat, gunakan akal dan ilmu dalam bekerja dan bekerja sampai tuntas serta penuh keikhlasan, dengan begitu seberat apapun pekerjaan Anda, pasti akan terasa ringan serta berhasil baik dan maksimal. Kerja Keras adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, sekuat daya dan tenaga, penuh semangat, pantang menyerah, untuk mencapai hasil terbaik, terlalu fokus pada pekerjaan, hingga tak punya waktu dan energi lagi untuk melakukan kegiatan yang lain. Dan biasanya kerja keras ini hanya mengandalkan otot. Kerja Cerdas adalah kerja yang tidak hanya mengandalkan otot, namun juga menggunakan otak, bisa berpikir kreatif dan inovatif, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan waktu yang efektif, sehingga masih memiliki waktu dan energi untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan yang lainnya. Dan biasanya kerja cerdas ini dimiliki oleh kaum intelektual atau ilmuwan. Jadi, bekerja cerdas adalah pandai melihat peluang, memperhitungkan risiko dan mampu mencari solusi dalam penyelesaiannya. Kerja Ikhlas adalah bekerja dengan hati, dengan niat yang tulus semata-mata untuk ibadah dan mencari keridhaan Sang Pencipta (Allah swt), sehingga jika akhirnya berhasil maka kita akan lebih bersyukur dan jika tidak berhasil, maka kita tidak akan kecewa, karena semuanya sudah diatur oleh yang Kuasa, kita tinggal berusaha dan berdo'a. Jadi, jika kita bekerja dengan ikhlas, maka kerja kita bernilai ibadah dan ada ganjaran pahala buat kita. Kerja Tuntas adalah bekerja dengan semangat, sampai selesai dan tidak setengah-setengah. Seberapa pun banyaknya pekerjaan kita, harus kita selesaikan sampai akhir (finish), sehingga semua pekerjaan kita memperoleh hasil yang sukses. h Sebagai seorang mukmin tentunya sebuah pekerjaan apapun untuk mencari rezeki dan pengabdian adalah pekerjaan mulia, asalkan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dilakukan dengan otak yang baik, karena Allah dan tidak dilakukan setengah-tengah sampai tuntas atau selesai. wallahu a'lam bish shawab

Selasa, 11 November 2014

Muharram, tonggak kebangkitan Islam

Tidak terasa bulan Muharram telah tiba, dan kita memasuki sebuah momentum penting yaitu tahun baru Islam 1436 H. Pada Bulan Muharram ini umat Islam tentunya bangga dan bahagia karena inilah satu-satu awal tahun yang teramat dimuliakan oleh Allah swt. Kenapa tidak? Karena pada bulan ini umat Islam disunatkan untuk tafakkur dan muhasabah terhadap perjalanan hidup selama satu tahun yang lalu. Sebelum Khalifah Umar Bin Khattab menentukan momentum hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah sebagai titik penentu perhitungan hijriyah, bulan Muharram disebut dengan bulan Shafar Awal, karena posisinya yang terletak sebelum bulan shafar. Nama Muharram secara bahasa dapat diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Yaitu bulan yang didalamnya orang-orang Arab diharamkan dilarang (diharamkan) melakukan peperangan. Begitulah kebiasaan mereka tempo dulu mengkhususkan bulan-bulan peperangan dan bulan-bulan gencatan senjata. Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir terdapat keterangan berikut: Dinamakan bulan Muharram karena bulan tersebut memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan, bahkan bulan ini memiliki keistimewaan serta kemuliaan yang sangat amat sekali dikarenakan orang arab tempo dulu menyebutnya sebagai bulan yang mulia (haram), tahun berikutnya menyebut bulan biasa (halal). Orang arab jaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan, sedangkan pada bulan lain misalnya shafar, diperbolehkan melakukan peperangan. Nama shafar sendiri memiliki arti sepi atau sunyi dikarenakan tradisi orang arab yang pada keluar untuk berperang atau untuk bepergian pada bulan tersebut. Dinamakan bulan shafar karena rumah-rumah mereka sepi, sedangkan para penghuninya keluar untuk berperang dan bepergian. Maka, sesuai dengan penamaannya bulan Muharaam adalah bulan yang di muliakan dan bulan dimana di larang melakukan peperangan. Demikianlah Allah swt. telah menentukan empat bulan yang dimuliakan, tiga di antaranya berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan yang terakhir adalah Rajab terletak antara bulan Jumadal Ula dan Sya’ban. Keutamaan Bulan Muharram Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ “Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36) Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang. Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda: عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim) Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura. Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim). Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram. Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan. Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram. Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah sumber : dari berbagai sumber

Minggu, 02 November 2014

DPD AGPAII Kab. Balangan Gelar PENTAS PAI Tingkat Kabupaten Balangan & Halal Bil Halal

Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPD AGPAII) Kabuapaten Balangan menggelar kegiatan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (PENTAS PAI) Tingkat Kabupaten Balangan tahun 2014 yang dilaksanakan di pada hari Kamis, 30 Oktober 2014 bertempat di Gedung Sanggam Paringin, Masjid Sa’adah, Langgar Attaqwa, SMPN 1 Paringin, dan SDN Paringin dan Kegiata Halal Bil Halal Guru PAI Se-Kabupaten Balangan yang dilaksanakan hari Sabtu, 1 Nopember 2014 bertempat di Aua SKB Paringin. Kegiatan PENTAS PAI ini digelar bertujuan untuk menyalurkan minat dan bakat peserta didik disemua tingkatan SD, SMP, SMA/SMK se Kabupaten Balangan, juga dalam rangka seleksi tingkat kabupaten Balangan untuk mencari bibit terbaik dalam menyambut kegiatan Pentas PAI Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan pada bulan Nopember 2014 ini. Ada beberapa kegiatan lomba yang dilaksanakan pada PENTAS PAI Tingkat Kabupaten Balangan, yaitu tingkat SD : Lomba tilawatil Qur’an, Hifzil Qur’an surah-surah pendek, Cerdas cermat PAI, Pidato/ceramah PAI, Tingkat SMP : Lomba Tilawatil Qur’an, Pidato/ceramah PAI, Cerdas cermat PAI dan Seni Kaligrafi; sedangkan tingat SMA/SMK : Lomba Tilawatil Qur’an, Lomba Pidato/ceramah PAI, Seni Nasyid, Debat PAI, dan Kreasi Busana Muslimah. Menurut Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua DPD AGPAII Kabupaten Balangan Bapak Rahmadi, S. Ag. M. Pd. I “Alhamdulillah kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintah kabupaten Balangan, Dinas Pendidikan Kabupaten Balangan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Balangan, Bank Kalsel, Bank Kalsel Syari’ah Paringin, Bank BRI Paringin, dan semua guru-Guru Pendidikan Agama Islam baik yang sudah bersertifikasi maupun yang belum bersertifikasi, PNS mauupun non PNS yang ada di Kabupaten Balangan”.
Adapun hasil kegiatan lomba, adalah sebagai berikut : Lomba Tilawatil Qur’an tingkat SD juara I Abd Samad (SDN Halong 1), Juara II Nuzulaifa Rahmah (SDN Halong 1), Juara III Noor Rizqiyatun Najhah (SDN Batu Piring). Lomba Pidato PAI Tingkat SD Juara I Rajudin (SDN Kaladan), Juara II Annida Aisya Rahmah (SDN Baruh Penyambaran I), Juara III Rahmawati (SDN Paringin 2); Lomba Cerdas Cermat PAI SD:Juara I SDN Badalunga, Juara II SDN Munjung, Juara III SDN Galumbang; Lomba Hifzil Qur’an SD : Juara I Naza Nisa Azzahra (SDN Sungai Tabuk), Juara II M.Ilham Arif (SDN Sungai Tabuk), Juara III Zahratunnisa (SDN Halong 1); Lomba Tilawatil Qur’an Tingkat SMP : juara I Ahmad Andrian (SMPS Ikhwanul Muslimin), Juara II Muhammad Hafizh Fuady (SMPN 4 Paringin), Juara III Juriati (SMPN 3 Batumandi); Lomba Pidato PAI Tingkat SMP : Juara I Rizkia Alifa Rahma (SMPN 1 Paringin), Juara II M. Zakaria (SMPN 2 Juai), Juara III Riska (SMPN 2 Awayan); Lomba Seni Kaligrafi : Juara I Norlina hasanah (SMPN 4 Paringin), Juara II M. Syahril (SMPN 2 Paringin), Juara III Safa Marwati (SMPN 4 Batumandi); Lomba Cerdas Cermat PAI : Juara I SMPN 2 Batumandi, Juara II SMPN 1 Paringin, Juara III SMPN 1 Batumandi. Lomba Tilawatil Qur’an tingkat SMA/SMK : Juara I Muhammad Aulia Rahman (SMAN 1 Juai), Juara II Ahmad Rifani (SMAS Ikhwanul Muslimin), Juara III Akhmad Risfadillah (SMKN 1 Batumandi); Lomba Pidato PAI SMA/SMK : Juara I Ana Muliana (SMAN 1 Paringin), Juara II Normayanti (SMKN 1 Paringin), juara III Siti Rabiatul Adawiyah (SMAN 1 Juai); Lomba Seni Nasyid :Juara I SMAN 1 Paringin, Juara II SMAN 2 Paringin, Juara III SMKN 1 Batumandi; Lomba Debat PAI Juara I SMAN 2 Paringin, Juara II SMKN 1 Batumandi, Juara III SMKN 1 Paringin; Lomba Kreasi Busana Muslimah Juara I Siti Alfiah (SMAN 1 Paringin), Juara II Helma Yanti Kira (SMAN 2 Paringin), Juara III Norkamariah (SMKN 1 Paringin). Pada Acara Halal Bil Halal Guru Pendidikan Agama Islam se-Kabupaten Balangan diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh KH. Ahmad Yusuf Ketua MUI Kabupaten Balangan dan penyerahan Tropy kepada pemenang lomba pada kegiatan PENTAS PAI Tingkat Kabupaten Balangan tahun 2014. Pada kesempatan itu, Ketua Panitia Rahmadi, S. Ag, M. Pd. I (ketua DPD AGPAII Kabupaten Balangan) menyampaikan bahwa kegiatan halal bil halal ini dilaksanakan dalam rangka menyatukan persepsi dan ajang silaturrahmi guru-guru PAI se Kabupaten Balangan guna tugas dan perannya sebagai guru PAI sehingga mudah-mudahan dapat memberikan dampak positif bagi peserta didik di sekolah. Karena menurutnya, guru PAI merupakan ujung tombak pelaksanakan pembinaan budi pekerti dan akhlak mulia di sekolah, sebab apapun yang terjadi sekolah berupa kemerosotan moral anak didik yang disalahkan adalah guru PAI.
Dalam ceramahnya ketua MUI Kabupaten Balangan KH. Ahmad Yusuf menyampaikan bahwa halal bil halal ini adalah tradisi orang Indonesia di Tanah Arab kata beliau tidak ada istilal halal bil halal yang ada hanya silaturrahmi saja. Juga dalam menghadapi kehidupan ini kita harus mendekatkan diri kepada Allah swt dan mendekat diri kepada rasulullah dalam arti tundak dan patuh kepada segala perintah Allah dan Suruhan rasulullah. Di samping itu, kita juga harus mengeratkan hubungan manusia dengan manusia. Berkaitan dengan guru, kata beliau harus memberikan keteladanan kepada anak didik, mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, dan komitmen yang tinggi dalam mendidik bukan hanya sekadar memberikan pelajaran saja.