This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 17 Januari 2011

Ujian Nasional, why Not !!

Tak terasa musim-musim yang paling menegangkan akan tiba. Siswa atau guru, apalagi orang tua murid akan merasakan begitu tegangnya ketika akan menjalani sebuah "benda" yang bernama "Ujian Nasional".
tak terkecuali kiranya orang akan merasa begitu terasa "ketegangan" itu pada detik-detik hari "H" nya. Tidak melihat apakah UN nantinya akan dihapus atau tidak, seseorang siswa yang saat ini beradaa di kelas 6, atau 9 atau 12 di semua tingkatan akan melaluinya.
sebagai orang yang cerdas, haruslah menjadikan semua ini sebagai sebuah "moment" yang saangat berharga. oleh karena itu, ada beberapa kiat menghadapi UN tahun ini, antara lain:
1. Mulai untuk meringkas semua pelajaran yang telah dipelajari
2. Mencari pembimbing yang mampu menghantarkan kepada kemudahan "belajar"
3. Usahakan dalam beberapa bulan sebelum UN ini karantina diri, jauhi hal-hal yang tidak berguna
4. Jaga kesehatan dan tetap berolahraga secara teratur
5. Jangan lupa untuk senantiasa berdo'a dan melaksanakan kewajiban spiritual secara istiqomah (konsisten).
selamat belajar dan semoga menjadi generasi yang berilmu dan beramal untuk semua. amin.

Selasa, 04 Januari 2011

Sistematika Surat dalam Al Qur'an

BAB I
PENDAHULUAN

Al Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung petunjuk bagi umat manusia. Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pegangan bagi mereka yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak diturunkan hanya untuk umat atau suatu umat masa tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa. Karena universalitas Al Qur’an melingkupi seluruh aspek kehidupan umat manusia dan ditujukan kepada seluruh pranata sosial. Baik mereka yang masih tradisional/primitif maupun yang mempunyai peradaban kontemporer dan modern. Kaya, miskin, penguasa, pengusaha, pendidik, cendekiawan maupun tidak mempunyai ilmu semua bernaung di bawah lindungan Al Qur’an, demikian yang ditulis oleh Bapak DR. H. Arthani Hasbi pada kata pangantar Buku Nalar Al Qur’an karangan KH. Husin Naparin, Lc., MA.
Al Qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah subhanahu wa taala menurunkannya kepada Nabi Muhammad  SAW, demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya ilahi, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah menyampaikannya kepada para sahabatnya-sebagai penduduk asli Arab- yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat mereka terima, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. 1
Al Qur’an turun dari Allah, Dia jugalah yang memeliharanya. Al Qur’an terdiri dari 30 Juz, tersusun dalam 114 surat. Ada yang diturunkan pada masa Nabi SAW masih berdomisili di Makkah, ayat-ayat itu disebut ayat-ayat Makkiyyah mencakup hampir 19/30 Al Qur’an dengan jumlah 4.780 ayat. Ayat-ayat yang diturunkan  sesudah Nabi SAW tinggal di Madinah disebut Madaniyyah mencakup sekitar 11/30 Al Qur’an dengan jumlah 1.456 ayat. Dengan demikian Al Qur’an keseluruhan berjumlah 6.236 ayat. 2



BAB II
SISTEMATIKA SURAT DALAM AL QUR’AN

A.     PENGERTIAN AYAT DAN SURAT

Ayat secara bahasa mempunyai beberapa arti, diantaranya Mu’jizat (QS. 2: 211), tanda (QS. 2: 248), pengambilan pelajaran (QS. 30: 24), urusan yang mengagumkan (QS. 40: 50), bukti/dalil (QS. 30). Sedangkan menurut istilah, ayat adalah kelompok yang mempunyai permulaan dan penutup yang terdapat dalam surat Al Qur’an. 3
Sedangkan pengertian surat adalah secara bahasa, surat mempunyai pengertian kedudukan, ketinggian, atau kemuliaan. Sedangkan menurut istilah surat adalah kumpulan kandungan beberapa ayat yang mempunyai permulaan dan penutup dan sedikitnya yang terkandung pada surat adalah tiga ayat.  
Jumlah surat dalam Al Qur’an adalah 114. Sebagian dari surat-surat Al Qur’an mempunyai satu nama dan sebagian yang lainnya mempunyai lebih dari satu nama.
Surat-surat dalam Al Qur’an menurut panjang pendeknya dibagi menjadi 4 bagian.
1.      As Sab’uth Thiwal, artinya tujuh surat yang panjang, yakni surat Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa, Al A’raf, Al Maidah, Al An’am, dan Yunus.
2.      Al Miun, artinya surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat atau lebih, seperti surat Yusuf, Hud, dan lain-lain.
3.      Al Matsaani, artinya surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat, seperti Surat Al Anfal, Al Hijr, dan lain-lain.
4.      Al Mufashshal, artinya surat-surat pendek, seperti surat Adh Dhuha, Al Ikhlas, An Naas, dan sebagainya. 4



B.     SISTEMATIKA SURAH DALAM AL QUR’AN

Penyusunan surat dalam Al Qur’an merupakan sebuah perdebatan yang sangat sengit, akan tetapi semua itu sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Imam Shubhi as Shalih menjelaskan bahwa ”Susunan dan urutan surahpun berdasarkan  kehendak dan petunjuk Rasulullah sebagaimana diketahui, Rasulullah hafal semua ayat dan surat Al Qur’an. Kita tidak bisa membayangkan dan tidak mempunyai bukti yang menyatakan sebaliknya. Tidaklah masuk akal pendapat yang menyatakan bahwa urutan surah Al Qur’an itu disusun oleh beberapa orang sahabat Nabi atas dsar ijtihad mereka. Dan lebih tidak masuk akal lagi kalau ada pendapat yang menyatakan bahwa beberapa surah disusun urutannya berdasarkan ijtihad para sahabat dan beberapa surah lainnya disusun urutannya menurut kehendak Rasulullah SAW. 5
Syekh Waliyullah Al Mallawi berkata: ”Tidak salah orang yang mengatakan bahwa munasabah pada ayat-ayat yang mulia itu tidak perlu dicari. Karena ayat-ayat itu turun sesuai dengan kejadian-kejadian yang berbeda-beda. Dan keputusan akhir adalah jika dikatakan bahwa ayat-ayat itu turun  berdasarkan peristewa-peristewa  yang urut-urutannya (tartib) dan keasliannya sesuai dengan yang terkandung di Lauhul Mahfuzh adalah surat-suratnya seluruhnya dan ayat-ayatnya, dengan ketentuan Allah, seperti yang diturunkan sekaligus di Baitul izzah.
Dan merupakan kemu’jizatan yang jelas adalah  gaya bahasanya dan urutan susunannya yang menakjubkan. Dan yang layak untuk dikaji pada setiap ayat adalah keadaannya yang sebagai pelengkap dari ayat sebelumnya atau berdiri sendiri. Kemudian ayat itu berdiri sendiri, maka apa hubungannya dengan ayat sebelumnya? Maka, ini adalah ilmu yang mulia. Dengan demikian juga surat-surat, dikajilah sisi kebersambungannya dengan surat-surat sebelumnya dan arah konteksnya”. 6


Berbicara mengenai hubungan antara surat dengan selain selain tidak mudah ditempuh bahkan boleh dikatakan usaha yang dicari-cari. Urutan surat demi surat adalah tauqify,  yakni ditertibkan oleh Rasul sendiri, bukan ijtihad para sahabat. Namun penertiban surat berdasar tauqify tidak mengharuskan adanya ikatan antara setiap surat itu dan tidak selalu ada ikatan antara surat terdahulu dengan yang kemudian. Demikian pula penertiban ayat demi ayat yang memang ditetapkan sendiri oleh Rasul, tidak pula mengharuskan ada hubungan antara suatu ayat dengan ayat yang lain apabila masing-masing ayat itu mempunyai sebab-sebab yang berbeda-berbeda. 7
Dalam penjelasan lain bahwa Al Qur’an terdiri atas surat-surat dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Adapun ayat, ia adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam suatu surat Al Qur’an. Sedangkan surat adalah sejumlah ayat Al Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan. Penempatan secara tertib urutan ayat-ayat Al Qur’an ini adalah bersifat tauqify, berdasarkan ketentuan dari Rasulullah SAW. Menurut sebagian ulama, pendapat ini merupakan ijma’.
Sedangkan susunan ayat atau tertib ayat dijelaskan Az-Zarkasyi dalam Al Burhan dan Abu Ja’far Ibnu Az Zubair dalam Munasabah-nya, mengatakan, ”tertib ayat-ayat di dalam surat-surat itu berdasarkan tauqify dari Rasulullah dan atas perintahnya, tanpa diperselisihkan kaum muslimin.” As Suyuthi memastikan hal itu, katanya, ”Ijma dan nash-nash yang serupa menegaskan, tertib ayat-ayat itu adalah tauqify, tanpa diragukan lagi.” 8
Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surat-surat Al Qur’an yang ada sekarang, yaitu:
a.        Ada yang berpendapat bahwa tartib surat itu tauqify dan ditangani langsung oleh Nabi sebagaimana diberitahukan Malaikat Jibril kepadanya atas perintah Allah. Dengan demikian, Al Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surat-suratnya secara tertib ayat-ayatnya, seperti yang ada di tangan kita sekarang inia, yaitu tertib mushaf Utsman yang tak ada seorang sahabat pun yang menentangnya. Ini menunjukan telah terjadi ijma’ atas susunan surat yang ada, tanpa suatu perselisihan apapun.
Kelompok ini berdalil bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surat secara   tertib di dalam shalatnya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, bahwa Nabi pernah membaca beberapa surat Mufashshal (surat-surat pendek) dalam satu rakaat. Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud katanya,
”surat Bani Israil, Al Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al Anbiya’ termasuk yang diturunkan di Makkah dan yang pertama-tama aku pelajari”. Kemudian ia menyebutkan surat-surat itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan sekarang ini.
Ibnu Hashshar mengatakan, ”tertib surat dan ayat-ayat pada tempatnya masing-masing itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan ”letakkanlah ayat ini di tempat ini”. Hal tersebut telah diperkuat pula riwayat yang mutawatir dengan tertib seperti ini, dari bacaan Rasulullah dan ijma’ para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya seperti ini di dalam mushaf”. 9
Susunan surah berdasarkan yang ditentukan Rasulullah adalah sebagai berikut: Al Fatihah, Al Baqarah, Ali Imran, al Nisaa, Al Maidah, Al An’am, Al A’raf, Al Anfaal, al Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, Al Hijr, Ibrahim, al Ra’ad, al Nahl, Al Israa’, Al Kahfi, Thaha, Maryam, Al Anbiya, Al Hajj, Al Mu’minun, An Nuur,  Al Furqan, al syua’ara, an Naml, Al Qashash, Al Ankabut, al Rum, luqman, al Sajadah, Al Ahzab, Saba’, Fathir, Yasin, al Saffat, Sad, Az Zumar, Al Mu’min, Fushilat, al Syura, al Zukhruf, al Dukhan, Al Jatsiyah, Al Ahqaf, Muhammad, Al Fath, Al Hujurat, Qaf, Az Zaariyat, al Thuur, al Najm, Al Qamar, al Rahman, Al Waqia’ah, Al Hadid, Al Mujadilah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, al Saff, Al Jumu’ah, Al Munafiqun, al Tagabun, al Thalaq, At Tahrim, Al Mulk, Al Qalam, Al Haqqah, Al Ma’arij, Nuh, Al Jinn, Al Muzzammil, Al Muddassir, Al Qiyamah, Al Insan, Al Mursalat, al Naba’, al Nazi’at, Abasa, al Takwir, Al Infithar, Al Muthaffifin, Al Insyiqaq, Al Buruj, al Tariq, Al ’A’la, Al Ghasyiyah, Al Fajr, Al Balad, al Syams, Al Lail, al Dhuha, Al Insyirah, Al Tin, Al ’Alaq, Al Qadr, Al Bayyinah, Al Zilzalah, Al ’Adiyat, Al Qari’ah, Al Takasur, Al Ashr, Al Humazah, Al Fil, Quraisy, Al Ma’un,
 Al Kautsar, Al Kafirun, Al Nasr, Al Lahab, Al Ikhlas, Al Falaq, Al Nas. 10
b.        Kelompok kedua berpendapat bahwa tertib surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat, sebab ternyata ada perbedaan tertib di dalam mushaf-mushaf mereka. Misalnya Mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan iqra’, kemudian Al Muddatsir, lalu Nun, Al Qalam, kemudian Al Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surat Makkiyyah dan Madaniyyah.
Adapun mushaf  Ibnu Mas’ud, yang pertama ditulis adalah surat Al Baqarah, kemudian An Nisaa’, lalu disusul Ali Imran. Sedangkan dalam mushaf Ubay, yang pertama ditulis adalah Al Fatihah, Al Baqarah, An Nisaa, lalu Ali Imran.
c.        Kelompok ketiga berpendapat, sebagian surat itu tertibnya bersifat Tauqify dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surat pada masa Nabi. Misalnya, keterangan yang menunjukkan tertib as sab’uthiwal, al hawamim dan al mufashshal pada masa hidup Rasulullah. 11
Dari ketiga pendapat tersebut jelaslah bahwa pendapat yang pertama yang paling kuat dan paling dapat dipegangi. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar bin al Anbari bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an ke langit dunia. Kemudian ia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surat turun karena ada suatu masalah yang terjadi, ayatpun turun sebagai jawaban bagi orang  yang bertanya. Jibril senantiasa memberitahukan kepada Nabi di mana surat dan ayat tersebut harus ditempatkan. Dengan demikian susunan suratt-surat, seperti halnya susunan ayat-ayat dan huruf-huruf Al Qur’an seluruhnya berasal dari Nabi. Oleh karena itu, barangsiapa mendahulukan sesuatu surat atau mengakhirkanya, berarti ia telah merusak tatanan Al Qur’an. 12

BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:
1.      Ayat adalah kelompok yang mempunyai permulaan dan penutup yang terdapat dalam surat Al Qur’an
2.      Surat adalah kumpulan kandungan beberapa ayat yang mempunyai permulaan dan penutup dan sedikitnya yang terkandung pada surat adalah tiga ayat.
3.      Surat-surat Al Qur’an itu secarta garis besarnya dibagi menjadi empat bagian:
a. Ath Thiwal, yaitu surat yang panjang-panjang
b. Al Mi’un, yakni surat-surat yang ayat-ayatnya lebih dari seratus atau sekitar itu.
c. Al Matsani, yakni surat-surat yang jumlah ayatnya dibawah al Mi’un.
d. Al Mufashshal, yakni surat-surat yang ayatnya pendek-pendek.
4.      Para ulama berbeda pendapat terhadap tertib surat-surat Al Qur’an, yaitu ada tiga kelompok, yakni:
a.       Kelompok yang berpendapat bahwa tertib surat-surat Al Qur’an itu adalah tauqify berdasarkan petunjuk Rasulullah.
b.      Kelompok kedua berpendapat bahwa tertib surat-surat Al Qur’an itu berdasarkan ijtihad para sahabat.
c.       Kelompok ketiga berpendapat, bahwa sebagian surat Al Qur’an itu berdasarkan petunjuk Rasulullah dan sebagian lagi berdasarkan ijtihad para sabahat.
    1. Berdasarkan dalil dan ijma ulama pendapat yang pertama lebih kuat dan dapat dipegangi. Dimana seluruh surat-surat Al Qur’an itu seperti sekarang ini adalah  berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW. Dan bahkan sebagian ulama menerangkan itu sudah menjadi ketentuan Allah dalam Lauh Al Mahfuzh.

Sumber Kutipan :
1 Syaikh Manna’ al Qaththan, Mabahits fii Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh H. Ainur Rafiq El Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, (Jakarta, Pustaka Al Kautsar, cet. Kelima, 2010), h. 3
2 KH. Husin Naparin, Lc., MA, Nalar Al Qur’an Refleksi Nilai-nilai Teologis & Antropologis, (Jakarta, el-Kahfi, 2004), h. 4.
3 A. Zainuddin, Muhammad Jamhari, Al Islam 1 Aqidah dan ibadah, (Bandung, CV. Pustaka Setia, 1999), h. 167
4   A. Zainuddin, Muhammad Jamhari, ibid, h. 168.
5 Subhi as Shaleh, Membahas ilmu-ilmu Al Qur’an, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 2008) h.. 89.
6 Imam Jalaluddin As Suyuthi, Samudera Ulumul Al Qur’an, Jilid 3 (Surabaya, PT. Bina Ilmu, 2007) h. 528
7 Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, ( Semarang, Pustaka Rizki Putra, 2009) h. 35
8 Syaikh Manna’ Al Qaththan, op cit, h. 174.
9  Syaikh Manna’ al Qaththan, Ibid, h. 77
10 W. Montqoenry Watt and Richard Bell, Introduction to The Al Qur’an, Edinburgh university press, 1994, h. 205
11 Syaikh Manna’ Al Qaththan, Op cit, h. 179.
12 Syaikh Manna’ Al Qaththan, ibid, h. 181

Sumber Bacaan:

A. Zainuddin, Muhammad Jamhari, Al Islam 1 Aqidah dan ibadah, CV. Pustaka Setia, Bandung,  1999

Naparin, KH.Husin, Lc., MA. Nalar Al Qur’an Refleksi Nilai-Nilai Teologis dan Antropologis, el Kahfi, Jakarta, 2004.

Ash Shabuny, Muhammad Aly, Pengantar Studi Al Qur’an (At Tibyan), alih bahasa Drs. Moch. Chudori Umar, Drs. Muh. Matsna, Hs., PT. Al Ma’arif, Bandung, 1984.

Al Qaththan, Syaikh Manna’, Mabahits Fii Ulum al Qur’an, penerjemah H. Aunur Rafiq El Mazni, Lc., MA, Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, Cet. V, 2010.

Shihab, Prof. DR. Quraish, Wawasan Al Qur’an, Mizan, Bandung, 2007.
Ash Shalih, DR. Subhi, Membahas Ilmu-ilmu Al Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2008.

Ash Siddieqy, Prof. DR. Teungku M. Hasbi, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009.

Watt, W. Montqomery, and Richard Bell, Introduction to The Al Qur’an, Edinburgh University Press, 1994.

Senin, 03 Januari 2011

TAHUN 2011: LEBIH CERDAS DAN PEDULI

Tak terasa tahun 2010 telah meninggalkan kita, kini memasuki tahun 2011. kilas balik di tahun 2010 memang wajib kita lakukan sebagai sarana introspeksi diri (muhasabah) terhadap pelbagai peristewa dan kejadian yang menimpa diri, keluarga, masyarakat dan bangsa ini.
Kalau peristewa yang menyenangkan kita sebagai orang yang beragama tentunya mensyukurinya melalui implementasi nyata dari sebuah wujud syukur tersebut. Akan tetapi yang menjadi sebuah delimatis adalah peristewa atau kejadian yang menimpa kita berupa sebuah musibah, bencana atau apapun namanya.
Sepanjang tahun 2010 yang lalu betapa banyak dan berat ujian yang ditimpakan Allah kepada bangsa ini, mulai musibah banjir, gempa tsunami sampai meletusnya Gunung merapi di berbagai daerah. Sungguh sebuah ujian yang sangat tak dapat dielakan oleh kita.
Memasuki awal tahun 2011 ini kita seharusnya mampu bersikap arif dan bijaksana untuk senantiasa lebih cerdas dan lebih peduli lagi. Ada beberapa sikap yang mungkin dapat dijadikan sebagai tolok ukur orang yang mempunyai kecerdasan dan kepedulian di tahun-tahun mendatang, antara lain:
Pertama, ketika melihat seseorang mendapat musibah ataupun bencana harus mampu memberikan yang terbaik kepadanya berupa bantuan harta benda, uang, ataupun jiwa untuk menolong meringankan bebannya.
Kedua, kalau tidak mempunyai apapun (harta, uang) berikanlah pelayanan yang prima kepadanya, berupa sebagai agen pemberi solusi umat (problem agent) sehingga segala keluhan  atau masalah umat dapat di atasi dengan segera.
Ketiga, ketika kita tidak berdaya dalam segala hal, baik harta ataupun material apapun cukuplah kita sebagai orang yang mampu memberikan kedamaian melalui do’a kepada mereka. Mungkin ini yang dinamakan selemah-lemah iman (adh’aful iman) sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang Indonesia tetap menjadi bangsa yang aman, damai dan tenteram walaupun masih ada gerimis-gerimis yang turun membasahi negeri tercinta dan mari kita semua berupaya bersikap lebih cerdas dan lebih peduli lagi. Amin.
" Happy New year 2011" be a good and best ....

Sabtu, 04 Desember 2010

Memahami Makna Hijrah

Tak terasa kita berada di di penghujung tahun 1431 Hijriyah dan 2010  Miladiyah (Masehi), tak lama lagi kita akan  memasuki awal tahun 1432 Hijriyah dan tahun 2011 Masehi. Perhitungan awal tahun Masehi dan awal tahun hijriyah sangatlah berbeda sekali. Kalau perhitungan awal tahun masehi di mulai dengan dengan wafatnya Isa al Maseh sedangkan perhitungan awal tahun hijriyah di awali pada peristewa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke kota Madinah al Munawwarah.

Tonggak sejarah menulis bahwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah pilihan dan perintah dari Allah SWT. demi tegak dan agama Islam. Kota Madinah sebuah kota yang menjadi tujuan Nabi Hijrah adalah mempunyai prospek untuk pengembangan kota Madinah. ini terbukti setelah Nabi hijrah kota ini menjadi pusat pemerintah Islam.

Berbicara tentang hijrah, para ulama membaginya menjadi dua pengertian, yaitu pertama; hijrah secara dhahir, maksud hijrah adalah berpindahnya dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang ini dilakukan oleh Nabi dan para sahabat. sedangkan pengertian kedua; adalah hjirah secara bathin, ini dimaksudkan kita berpindah sikap dan perilaku dari yang negatif kepada perilaku yang positif. dari kemaksiatan pindah kepada ketaatan kepada Allah dan Rasulullah, dari kebodohan pindah kepada sebuah kecerdasan bersikap dan bertindak.

Zaman sekarang kita mungkin saja berpindah secara jasmani/lahiriyah, akan tetapi alangkah manisnya dan terpujinya jika kita senantiasa mentradisikan hijrah yang bathiniyah ini. Sesungguhnya, seorang mukmin yang sejati adalah yang mampu menjalani kehidupan ini dengan sejajar dengan syari'at Al Qur'an dan Hadits, alangkah manisnya jika ia mampu membuat hari ini lebih baik daripada hari kemaren.

"Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 H" Semoga tahun ini lebih baik daripada hari kemaren.... 

Minggu, 28 November 2010

Pohon (Puisi di Hari Menanam Pohon Indonesia 2010)

Hari ini kami bertekad untuk menjadi yang terbaik
Hari ini kami tanam segala yang berguna
Hari ini tiada lagi keraguan
Untuk memberikan bumi sebatang pohon

Kelak nanti kami dapatkan sebuah mahligai dari pepohonan yang kami tanam
Sungguh, akan berkah kiranya jika ini bersama
Bersama dalam satu Tujuan untuk sebatang pohon

Menanti diri dalam kerelaan bersama
Bertekad jiwa dalam menumbuhkan rimbanya hutan kembali
Terasa indah, terasa nyaman bila itu terwujud

Kami disini menunggumu
Wahai sahabat untuk bersama dalam satu tujuan
Menanam kembali hutan yang tak banyak berwujud
Menanam kembali pohon-pohon yang telah banyak di direnggut
Semoga ini menjadi harta warisan untuk anak cucu kami...Amin

"Selamat Memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia, 28 Nopember 2010"

Sabtu, 27 November 2010

GURU (sebuah Renungan Hari Guru tahun 2010)

Tanggal 25 Nopember 2010 ini seluruh guru di Indonesia telah memperingati "Hari Guru" . Di satu sisi ada yang suka ria akan kehadirannya, tetapi di sisi lain ada yang masih berduka. Hari guru tahun ini merupakan sebuah kegembiraan bagi guru yang mempunyai kesejahteraan yang memadai, karena memperoleh tunjangan "sertifkasi", dan gaji yang sudah mapan. akan tetapi sisi lain, ada guru yang sampai saat ini belum merasakan manisnya sebagai guru "gaji" yang belum memadai "sebagai tenaga honorer".
Pada sungguh tugas guru, baik yang PNS maupun honorer adalah sama, yakni memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak didiknya, dalam pengertian yang lebih spesial guru sebagai Change of behavior terhadap peserta didik. Akan tetapi, tuntutan sangatlah ditekankan kepada guru yang sudah profesional untuk lebih mantap dan serius dalam tugas pokoknya sebagai Guru.
berbicara tentang guru yang profesional, ada beberapa kompetensi minimal yang harus dimiliki oleh seorang guru, yakni sebagai berikut:
1) mempunyai komitmen pada peserta didik dan proses belajarnya;
2) menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada peserta didik;
3) bertanggung jawab memantau hasil belajar peserta didik melalui berbagai macam cara evaluasi;
4) mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya;
5) seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar (learning community) dalam lingkungan profesinya (Supriadi, 1988).

Guru adalah seseorang yang mempunyai tanggung jawab dan peran serta fungsi yang khusus. Ada beberapa tanggungjawab guru antara lain:
a. Tanggungjawab moral
b. Tanggungjawab dalam bidang pendidikan di sekolah,
c. Tanggungjawab dalam bidang kemasyarakatan,
d. Tanggungjawab dalam bidang keilmuan.

Adapun Peran dan fungsi seorang guru secara singkat adalah sebagai berikut:
a. Sebagai pendidik dan pengajar,
b. Sebagai anggota masyarakat;
c. Sebagai pemimpin (leader)
d. Sebagai administrator;
e. Sebagai pengelola pembelajaran.
Setelah terbitnya Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, peran dan kompetensi guru sangatlah ditekankan dan memiliki pekerjaan khusus dengan melaksanakan prinsip-prinsip sebagai berikut guru harus memiliki:
a. bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme;
b. komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia;
c. kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya;
d. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan tugasnya;
e. tanggungjawab atas pelaksanaan keprofesionalan;
f. memperoleh penghasilan yang memadai;
g. memperolegh kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan sepanjang hayat;
h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugasnya;
i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

dengan demikian seorang guru dalam melaksanakan  tugasnya terlindungi dan terjamin baik perlindungan hukum, maupun memperoleh tunjangan yang memadai. semoga dengan adanya UU Guru dan Dosen ini segala apapun yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh Guru akan terayomi dan terlindungi.
Akhirnya, selamat berulang tahun Guru tahun 2010 ini. tetap mengabdi untuk selalu mendidik anak bangsa ini menjadi lebih berkualitas dan berakhlak mulia. Amin.

Jumat, 26 November 2010

Memahami Makna Haji Mabrur

Tak lama lagi Jamaah haji Indonesia selesai melaksanakan seluruh rangkaian ibadah (manasik) haji, ini berarti mereka akan segera berkemas untuk meninggalkan tanah haram kembali ke tanah air. dan secara otomatis mereka akan mendapatkan satu gelar baru yakni al hajj (bagi laki-laki) dan Al Hajjah (bagi wanita).
kewajiban ibadah memang pada intinya adalah memenuhi panggilan Nabiyullah Ibrahim as. dan menjadi Tamu Allah (dhuyufullah) di tanah suci. ketika mereka yang berhaji serangkaian ibadah telah dilakukan dengan berbagai macam niat dan tujuan. akan tetapi niat yang sangat di utamakan adalah Ikhlas karena Allah SWT. dan mengharapkan ibadah hajinya menjadi haji yang Mabrur.
Haji Mabrur adalah haji yang betul-betul diterima oleh Allah SWT, para malaikat, manusia dan dirinya sendiri. dalam pengertian, sesungguhnya orang yang mendapat haji yang mabrur, harus hajinya Maqbul. Maksud maqbul tiada lain adalah seluruh syarat dan rukun haji telah ditunaikannya dan semuanya ini dilakukan di tanah suci Mekkah. akan tetapi yang namanya haji Mabrur adalah sudah dibuktikan setelah mereka para "Haji" dan "hajjah" tadi menjalani kehidupan di tanah air. sehingga, akan nampak oleh dirinya, masyarakat dan Allah apakah dia benar-benar menjadi Haji mabrur tersebut. keshalehan individual ia lakukan dan tidak menafikan keshalehan sosial.
dan sebaliknya, akan terlihat sekali jika seorang datang berhaji perilakunya tidak ada perubahan yang memadai, bahkan menurun menjadi orang yang "dibawah standar keshalehan".
mudah-mudahan ibadah haji yang kita lakukan benar-benar memberikan "makna" bagi orang lain, wabil khusus bagi masyarakat sekitar, amin.
"Allahumma ya Allah, ij'alna hajjan mabruraa, zanban magfura, wa tijaaratan lan tabuuraa birahmatika ya Allah ya zal jalali wal ikraam" Amin.