This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 01 Maret 2011

Mengungkap Tabir Rahasia Basmalah

A. PENDAHULUAN

Allah SWT telah menurunkan kitab suci Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui malaikat Jibril as. Dengan bahasa Arab secara mutawatir dan menjadi ibadah bagi yang membaca dan sebagai petunjuk bagi manusia.
Kitab suci Al Qur’an adalah kesimpulan dari semua kitab kitab-kitab suci yang pernah diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad SAW., seperti Taurat yang telah diturunkan kepada Musa as., Injil kepada Nabi Isa as., Zabur kepada Nabi Daud as.
Al Qur’an yang terdiri atas 114 surah, terbagi ke dalam 6236 ayat, seluruh ayat 6236 itu disimpulkan Allah dalam satu surah yang pendek dan terdiri hanya atas 7 ayat saja, yaitu Surah Al Fatihah.
Jadi surah Al Fatihah adalah kesimpulan seluruh isi al Qur’an atau kesimpulan dari seluruh kitab-kitab Suci, atau kesimpulan dari seluruh ajaran semua Nabi-Nabi dan rasul-rasul, atau kesimpulan dari ajaran semua agama yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. 1
Sebab itulah gerangan Surah ini dinamai Allah dengan al Fatihah (pembuka), atau Ummul kitab (Induk Kitab) dan lain-lain nama yang kita bentang dalam makalah ini nantinya.
Dari surah al Fatihah ini yang terdiri atas 7 ayat ini terhimpun dalam ayat pertama yakni Basmalah (bismillahir rahmanir rahim). Yang mempunyai keistemawaan dan keajaiban yang perlu diungkap lebih dalam lagi.
Berdasarkan tersebut diatas maka penulis mengangkat judul makalah “Mengungkap Tabir Rahasia Basmalah”. Dengan berbagai macam problematika pembahasan didalamnya, antara lain makna Basmalah, Tafsirnya, keutamaan membaca basmalah, dan permasalahan pada basmalah itu sendiri, apakah termasuk salah satu atau dalam al Qur’an atau tidak.

B. MAKNA DAN TAFSIR BASMALAH
“Basmalah” artinya mengucapkan atau menulis kalimat بِسْمِ الله ِالرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ , terjemahnya, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Dalam al Qur’an ada 114 kalimat basmalah, 113 diantaranya terdapat di awal setiap surat, kecuali surah al Taubah (QS. 9). Namun dalam surah al Naml terdapat dua basmalah, pertama, di awal surah, kedua pada ayat 30 ketika Allah berfirman mengabadikan surah Nabi Sulaiman as. Yang ia kirim kepada Ratu Balqis yang artinya:
“Sesungguhnya surat ini dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya) dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. 2

Adapun makna kalimat basmalah itu dapat dilihat dari arti perkatanya sebagai berikut:
بِسْمِ dengan nama الله Allah ِالرَّحْمنِ Yang Maha Luas Kasih saying-Nya الرَّحِيْمِ Maha kekal kasih saying-Nya. 3 dari kalimat basmalah ini ada terkandung tiga nama Allah yang termasuk dalam al asma al husna, yaitu Allah, ar rahman, dan ar rahim.
Kalau Surah al Fatihah dibaca setiap muslim 17 kali sampai 50 atau 60 kali dalam sehari, maka bismillahir rahmaanir rahiim dibaca lebih banyak. Sebab menurut ajaran Islam, Bismillah ini harus kit abaca tiap memulai segala macam pekerjaan atau perbuatan, pekerjaan apa saja dengan tidak memperbedakan besar kecilnya, penting atau tidak pentingnya. Kita menyebut bismillahir rahmaanir rahiim sebelum makan dan memakan apa saja, sebelum minum, sebelum memasuki rumah, sekolah, auto, atau ruangan apa saja, sebelum tidur, mandi, berwudhu, sebelum membaca atau menulis, sebelum memompa sepeda atau menaikinya, sebelum berpidato dan lain-lain lagi. 4
Berikut ini penjelasan tafsir basmalah menurut beberapa ulama tafsir:
{ بسم الله الرحمن الرحيم } ؛ أَيْ : ابدؤوا أوِ افتتحوا بتسمية الله تيمُّناً وتبرُّكاً ، و " الله " : اسمٌ تفرَّد الباري به سبحانه ، يجري في وصفه مجرى أسماء الأعلام ، لا يُعرف له اشتقاق . وقيل : معناه : ذو العبادة التي بها يُقصد . { الرَّحمن الرَّحيم } : صفتان لله تعالى معناهما : ذو الرَّحمة ، [ أَي : الرَّحمة لازمةٌ له ] ، وهي إرادة الخير ، ولا فرق بينهما ، مثل : ندمانٍ ونديم .
Artinya:
(بسم الله الرحمن الرحيم ) yakni mulailah atau bukalah dengan nama Allah dengan penuh keyakinan dan keberkahan, dan (الله) nama tunggal yang Maha suci, mengalir pada sifatnya nama-nama yang mulia, tidak dikenal kata itu asalnya. Dikatakan juga : maknanya adalah yang mempunyai ibadah yang dituju. (الرَّحمن الرَّحيم) dua sifat bagi Allah SWT, makna keduanya adalah yang mempunyai kasih saying, (yakni kasih sayang yang harus bagi-Nya), dia menginginkan kebaikan dan tidak membedakan antara keduanya, misalnya kata ندمانٍ ونديم. (Tafsir al Wajiz lil Wahidi)
{ بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم } قراء المدينة والبصرة والشام وفقهاؤها على أن التسمية ليست بآية من الفاتحة ولا من غيرها من السور ، وإنما كتبت للفصل والتبرك للابتداء بها ، وهو مذهب أبي حنيفة ومن تابعه رحمهم الله ، ولذا لا يجهر بها عندهم في الصلاة . وقراء مكة والكوفة على أنها آية من الفاتحة ومن كل سورة وعليه الشافعي وأصحابه رحمهم الله ، ولذا يجهرون بها في الصلاة وقالوا : قد أثبتها السلف في المصحف مع الأمر بتجريد القرآن عما ليس منه . وعن ابن عباس ??? ???? ??هما : من تركها فقد ترك مائة وأربع عشرة آية من كتاب الله
Artinya:
(بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرحيم ) ahli Qiraat Madinah, Bashrah, Syam dan para ahli fikihnya menjelaskan bahwa Basmalah itu bukan termasuk dari surah al Fatihah dan bukan bagian dari surah-surah al Qur’an, bahwasanya ditulis terpisah dan mengambil berakah memulai dengannya, ini adalah mazhab Abu Hanifah dan orang-orang yang mengikuti beliau rahimahullah. Dan untuk ini menurut mereka tidak di jaharkan(dinyaringkan) dalam shalat. Sedangkan Menurut ahli qiraat Mekkah dan Kufah bahwasanya Basmalah itu termasuk bagian dari Surah al Fatihah dan pada setiap surah dalam al qur’an, dan ini mazhab Imam Syafii rahimahullah, untuk ini menurut mereka di jaharkan (dinyaringkan) dalam shalat. Sehingga menurut ahli salaf bahwa mereka menetapkan dalam mushaf dan menyuruh untuk memuatnya dalamnya. Menurut Ibnu Abbas: barangsiapa meninggalkan basmalah itu, maka dia telah meninggalkan 114 ayat dari kitab Allah. (Tafsir An Nasafi).


C. KEUTAMAAN MEMBACA BASMALAH
Dalam kalimah basmalah itu ada 3 nama yang terbesar dari nama-nama Allah yang banyak dan termasuk dalam al asma al Husna yaitu Allah, Ar Rahman, dan Ar Rahiim. Sebab itu maka kalimah basmalah ini dinamakan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan nama al ismul al ’azham, yaitu nama teragung dari Allah SWT.
Berikut ini beberapa keutamaan kalimah basmalah yang disarikan dari beberapa hadis nabi Muhammad SAW, antara lain:
1. Kalimah basmalah itu merupakan nama-nama Allah yang teragung seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih.
2. Basmalah merupakan ayat yang hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kepada para nabi terdahulu tidak diturunkan.
3. ketika diturunkan basmalah ini awan lari ke Timur lalu awan menjadi diam, laut bergelombang, binatang-binatang memasang telinga mendengarkannya, setan dirajamdari langit.
4. Allah berjanji barang siapa ingin terhindar dari zabaniah 19, maka hendaklah ia membaca basmalah, dan Allah menjadikannya setiap hurufnya sebagai tameng dari masing-masing mereka.
5. Tidak sah wudhu kalau tidak membaca basmalah sebelumnya.
6. Ketika suami isteri berhubungan kalau tidak membaca basmalah, maka setan ikut didalamnya.
7. Setiap pekerjaan (urusan) yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut basmalah, maka pekerjaannya itu akan terputus (dari Barakah).
8. Menyebut basmalah berarti menyebut, mengingat, mengerti, menyadari akan Allah. 5

D. PERMASALAHAN PADA BASMALAH
Merata seluruh sahabat Rasulullah SAW menuliskan dan membaca basmalah di permulaan tiap-tiap surah dari Al Qur’an. Tetapi ulama-ulama yang datang kemudian berlainan pendapat (ikhtilaf), apakah kalimah basmalah diawal tiap-tiap surah itu termasuk salah satu ayat dari surah itu atau tidak. Tetapi mereka sepakat (ittifaq), bahwa kalimah basmalah dsalam surah al Naml ayat 30 termasuk salah satu ayat dari surah tersebut. 6
Umumnya ulama-ulama salaf (yang berdekatan masa hidup mereka dengan masa hidup Rasulullah SAW) begitu juga ulama-ulama khlaf (yang berjauhan masa hidup mereka dengan masa hidup Rasulullah SAW) berpendapat bahwa Basmalah di awal tiap surah itu tidak termasuk salah satu ayat dari surah, tetapi dimaksudkan sebagai tanda batas dari masing-masing surah saja. Pendapat ini berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad-sanad yang shahih berasal dari Ibnu Abbas ra. Yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak membubuhkan tanda apa-apa antara masing-masing surah, sampai diturunkan kepada beliau kalimah basmalah.
Diantara orang-orang yang mengatakan bahwa kalimah Basmalah iu termasuk salah satu ayat dari masing-masing surah selain surah al baraah dari golongan sahabat ialah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, Abu Hurairah, dan Ali ra. Sedangkan dari golongan Tabi’in ialah : ‘Athaa, Thawwas, said bin Jubair, Makhuul, dan Az Zuhri. Begitu pula pendapat Imam Abdullah bin Mubarak, Imam syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal menurut salah satu keterangan, Ishaq bin Rahawaih, Abu Ubaid al Qaasim bin salam ra.
Sedangkan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah beserta semua pengikut keduanya berpendapat bahwa kalimah basmalah itu tidak termasuk ayat dari al Fatihah dan tidak termasuk dari masing-masing surah.
Menurut suatu keterangan lain dikatakan bahwa Imam Syafii dalam salah satu perkataan beliau mengatakan bahwa kalimah basmalah itu termasuk salah satu ayat dari masing-masing surah selain al Fatihah. Tetapi keterangan Imam Syafii bersifat Gharib.
Sebagai akibat dari ikhtilaf tersebut di atas ini, terjadi pula ikhtilaf tentang menyaringkan (menjaharkan) pembacaan kalimah basmalah di dalam shalat. Orang yang berpendirian bahwa basmalah termasuk ayat dari al Fatihah, mereka menyaringkan membacanya. Tetapi bagi orang yang mengatakan tidak termasuk ayat al Fatihah, tidaklah menyaringkan bacaannya, yaitu mereka sirkan (tidak nyaring) membacanya, bahkan ada di antara mereka yang tidak membaca basmalah sama sekali, tidak secara jahar dan tidak pula secara sir (tanpa suara).
Imam syafii menjaharkan basmalah dalam membaca al Fatihah dan setiap surah. Dan beginilah yang banyak dilakukan banyak golongan para sahabat dan tabi’in dan ulama-ulama salaf dan khalaf. Diantara para sahabat yang selalu menjaharkan basmalah, ialah Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Mu’awiyah. Menurut Ibnu Abdul Baar juga Umar dan Ali. Menurut al Khatib juga keempat-empat khulafaur Rasyidin (ini gharib). Dan di antara tabi’in yang menjaharkan basmalah ialah Said bin Jabir, ikrimah, Abu Qilabah, az Zuhri, Ali bin Hasan, dan anaknya yang bernama Muhammad, said bin Musayyab, ‘Athaa, Thaawuis, Mujahid, salim, Muhammad Bin Ka’ab al quradhi, Ubaid, Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amir bin Hazm, Abu Waail, Ibnu Siirin, Muhammad Ibnu Munkadir, Ali bin Abdullah bin Abbas dan anaknya bernama Muhammad, Nafi’ (maula Ibnu Umar), Zaid bin Aslam, Umar bin Abdul Aziz, al azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abusy Sya’tsaa, Mkhul, Abdullah ibnul Mughaffal bin Maqran. Dan ditambah oleh Baihaqi dengan Abdullah bin Shafwan, Muhammad Ibnul Hanifah dan ditambah lagi oleh Ibnu Abdul Baar dengan Umar bin Dinaar. 7
Kebalikan pendirian yang tersebut di atas ini, banyak pula di antara para sahabat, tabi’in, dan ulama-ulama salaf dan khalaf yang tidak menjaharkan pembacaan basmalah atau tidak membaca basmalah sama sekali. Dari beberapa hadis dan keterangan disebutkan bahwa keempat-empat khulafaurrasyidin, Abdullah Ibnu Mughaffal, beberapa golongan ulama-ulama salaf golongan tabi’in, begitu pula ulama khalafnya bahkan pendirian dalam
mazhab Abu Hanifah, Mazhab As Tsauri dan Mazhab Ahmad bin Hanbal; bahwa semua mereka tidak menjaharkan tetapi tidak membaca basmalah sama sekali dalam shalat. Dan pendirian ini yang dianut oleh para imam Masjidil Haram di Mekkah dan di Masjid Nabawi di Madinah masa sekarang ini. Hal ini diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik, berkata ia: Aku shalat di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka semuanya memulai al fatihah dengan Alhamdulillah rabbil ‘alamin. Sedangkan hadis Muslim tentang ia menyatakan: mereka tidak menyebut bismilalahirrahmanir rahim pada permulaan bacaan (al Fatihah) dan tidak pula di akhirnya. Dan bersamaan dengan maksud hadis Bukhari dan Muslim yang diatas ini, diriwayatkan pula oleh ahli-ahli hadis lainnya, sehingga hadis yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW. Tidak membaca basmalah dalam shalat menjadi hadis yang masyhur dan mutawatir. 8
Dari berbagai perbedaan tersebut di atas dapat penulis simpulkan bahwa ada yang membaca basmalah nyaring dan ada pula yang di sirkan (tanpa suara) bahkan ada yang tidak membaca sama sekali, sesuai dengan keyakinannya masing. Akan tetapi, sesungguhnya dari berbagai hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW. Kadang membaca basmalah dengan nyaring, tapi ada pula beliau baca sir. Jadi semua itu pendapat itu ada dasarnya. Wallahu a’lam bish shawab.

E. KESIMPULAN
Dari uraian makalah yang singkat ini dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
1. “Basmalah” artinya mengucapkan atau menulis kalimat بِسْمِ الله ِالرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ , terjemahnya, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
2. Manfaat dan faedah basmalah itu itu banyak sekali. Paling tidak setiap pekerjaan dan perbuatan yang penting wajib dimulai dengan basmalah. Jika tidak pekerjaan, perbuatan itu akan menuai ketidakperolehan keberkahan, dalam arti sesungguhnya pekerjaan itu tidak berhasil secara sempurna dan maksimal di mata Allah SWT.
3. Ada berapa perbedaan tentang posisi basmalah itu dalam al Qur’an, ada yang mengatakan bagian dari surah dan pula yang tidak menyatakan bagi ayat dari surah, akan tetapi sebagai tanda batas saja. Sehingga berakibat, ada yang menjaharkan dalam shalat, tapi ada pula yang tidak membaca nyaring (sir) bahkan ada yang tidak membacanya sama sekali.
4. Ulama sepakat bahwa basmalah dalam surah al Naml ayat 30 adalah salah satu ayat dalam al Qur’an.

BAHAN REFENSI:

Departemen Agama, Terjemah Al Qur’an, Proyek pengadaan kitab suci Al Qur’an Depertemen Agama RI, Jakarta, 1994.
Bey Arifin, Samudera al Fatihah, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1994.
KH. Husin Naparin, Lc, MA, Nalar Al Qur’an Refleksi Nilai-nilai Teologis dan Antropologis, el Kahfi, Jakarta, 2004.
Dr. M. Hatta, MA, Tafsir Qur’an Perkata, Maghfirah Pustaka, Jakarta, 2009.
Al Maktamah Al Syaamilah, edisi 1500 kitab


Rabu, 16 Februari 2011

The Power of Baayun Maulid


Bulan maulid atau Rabiul awwal adalah bulan yang sangat mempunyai ciri kekhasan tertentu. Dimana pada bulan ini umat Islam memperingati dan memeriahkan kelahiran seorang Nabi terakhir Nabi Muhammad SAW.  Berbagai tradisi ketika masyarakat  melaksanakan kegiatan itu, ada yang melaksanakan secara individual ada juga secara kelompok masyarakat  baik di rumah, langgar, surau, masjid, kantor, maupun di tempat lembaga pendidikan. 
Disamping itu, keragaman yang dibaca ketika peringatan maulid itu  pun juga beragam. ada yang membaca syair-syair pujian (madah) terhadap baginda Rasul SAW, baik al Habsyi, ad diba'i, al 'azab, syaraful anam, al banzanji, dan lain sebagainya.
Di Kalimantan Selatan wa bil khusus di sebuah desa kecil, yaitu Desa Banua Halat Kab. Tapin Kalsel yaitu sebuah traidisi unik yang sudah mentradisi sejak ratusan tahun yang lalu yakni tradisi Baayun anak. 
Tradisi ini menurut sejarah banjar Drs. H. A. Gazali Usman merupakan tradisi asli urang Banjar sejak ribuan tahun yang lalu ketika anak lahir bertepatan pada bulan maulid dengan maksud mengambil borakah terhadap Nabi Muhammad SAW., yang digelar ketika asyraqal (berdiri) dibacakan. Akan tetapi sejak puluhan belakangan ini tradisi ini berubah secara fenologis dimana yang baayun bukan saja anak-anak (bayi) akan tetapi orang dewasa (tua) dengan berbagai macam tujuan dan kebutuhan, seperti menunaikan nadzar, bernadzar, ungkapan rasa syukur atas segala masalah, sembuh dari penyakit dan ada juga sekadar penggembira saja.

Sejak sepuluh tahun belakangan ini juga jumlah ayunan terus bertambah dan mungkin tetap bertambah jumlahnya. pada tahun 2008 jumlah ayunan 2700 lebih sampai tahun 2010 terus bertambah 2780 dan pada tahun 2011 ini sungguh pantastis yakni berjumlah 3741 buah dari 1740 buah ayunan anak-anak dan 2027 buah ayunan orang dewasa.  sepengahuan penulis yang asli urang banua Halat, bertambahnya ayunan ini merupakan penomena masyarakat yang haus akan Borakah dalam kehidupannya. Disamping, mengambil tabaruk terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. yang lahir di bulan ini.

Ada beberapa hal yang dapat diambil kesimpulan dari prosesi baayun maulid  ini, antara lain:
1. Mengambil uswatun hasanah (contoh) terhadap orang yang paling mulia dan dimuliakan Allah SWT. yakni Nabi Muhamad SAW.
2. Pelaksanaan baayun maulid  itu digelar di Masjid, ini memberikan gambaran bahwa diharapkan anak/bayi yang diayun itu cinta terhadap masjid sebagai tempat shalat umat Islam. dan suka melaksanakan shalat.
3. diharapkan kepada anak kita ketika dewasa nanti cinta terhadap sesama, suka menolong sebagai gambaran dari pelaksanaan baayun anak ini sambil memberikan pinduduk (hadiah sebagai persyarat bagi orang yang baayun).
Menurut hemat penulis tradisi ini harus tetap dikawal terus secara teologi dan harus dijauhkan dari penyimpangan-penyimpangan akidah. Wallahu a'lam bish shawab.

Rabu, 09 Februari 2011

Belajar dari Semut

Pernah memperhatikan semut? Banyak kebajikan yang dapat kita pelajari dari mereka dan bagaimana mereka hidup; mulai dari mencari makanan, mempersiapkan bekal untuk musim dingin yang panjang, hidup rukun dalam komunitas, bekerja keras dan bersahabat.

Sejak saya kecil, saya gemar memperhatikan semut-semut, mengikuti mereka ke tempat mereka berkumpul, kadang terdorong membantu bawaan yang terlihat terlampau berat bagi mereka dengan memindahkan beban mereka dengan tusuk gigi; hal yang semula saya pikir membantu sebenarnya justru hanya menyusahkan mereka. Karena meski terlihat kesusahan menanggung beban besar menggotongnya beramai-ramai, tanpa kita ketahui, mereka sebenarnya memiliki strategi yang jitu dan kompak untuk mencapai tujuan. Strategi itu bernama: kerjasama.

Ya. Mereka menjadikan kerjasama sebagai strategi bukan sekedar perilaku kelompok. Indah sekali bukan. Anda masih belum yakin? Baiklah. Saya akan mengajak Anda, untuk mengambil waktu sedikit, menyimak gerombolan semut di rumah Anda dan perhatikan gerak-gerik mereka. Mari kita Belajar Bekerja Bijak seperti mereka.

Ketika sekelompok semut memutuskan untuk membawa temuan mereka (target) dan tidak cukup di bawa satu atau dua ekor semut pulang ke sarang, beberapa semut melaporkan (identifikasi) ke yang lainnya dan kembali ke temuan itu, sebelum mereka mengangkatnya, perhatikan seksama, mereka mengitari berulang-ulang, maju dan mundur (measure) mengukur dan menganalisa cukup lama. Bahkan kadang semut yang satu pergi dan kembali dengan lebih banyak semut, tetap masih belum memutuskan mengangkat. Kemudian semut-semut yang berbaris melalui jalur dekat temuan, biasanya membelokkan arah sebentar, ada yang tetap tinggal dekat temuan berkerumun dan ada yang kembali meneruskan jalan (team selection) setelah mereka telah benar-benar yakin, temuan itu -meski hanya segumpal gula- dapat diangkat maka mereka memulai maneuver itu. Oleng kekanan dan ke kiri tetapi mereka mengangkatnya! Setelah melakukan sederetan langkah yang tepat.

Dalam jalur perjalanan mereka, coba simak, ada team yang mengangkut target dan beberapa ekor semut biasanya beriringan satu-per-satu di depannya, dan diikuti dengan beberapa semut berkerumun kecil di belakang (support system) dan selalu, saya ulangi, selalu ada, seekor semut yang kesana kemari selama proses pengangkutan terjadi, yang dengan gesit mengawasi, (project leader) berjalan di depan, disamping di belakang team pengangkut. Kemudian, kelompok ini berhenti, dan semut yang satu itu, yang tergesit dari yang lain akan tetap sibuk ‘bicara’ dari semut yang satu ke yang lain, kesana kemari mengatur maneuver selanjutnya. Beberapa kali, dalam perjalanan, kelompok pengangkut dan pengiring akan berhenti, ada semut yang bergantian mengangkut digantikan dari kelompok pengiringnya, dan demikian seterusnya. Dan semut-semut lain yang berjalan di dekat mereka akan selalu berhenti dekat kelompok ini dan meneruskan perjalanan mereka kembali.

Meski hanya segumpal kecil gula, serangkaian strategi dijalankan dengan manis oleh mereka. Coba tengok, berapa banyak yang telah kita pelajari dari semut teman kita yang bijak? Mengapa kita tidak lebih kompak dan bijak dari mereka? Disini letak perbedaannya.

Mine, Yours & Ours

Semut tidak punya pemahaman gula ini punya ku, atau gula ini hanya untukmu. Dalam kategori pencapaian dan keberhasilan project seharusnya hanya ada, perspektif berpikir “ini milik kita; bukan kami, aku dan engkau”. Sementara manusia lebih menyukai cara memandang project sebagai “jika melakukan sesuatu harus mendatangkan keuntungan dulu bagiku, atau aku tidak akan melakukannya untukmu” dan kerja yang di berikan akhirnya berdasarkan hitung-hitungan di depan berapa besar gaji, bonus dan fasilitas kantor yang disediakan untukku?

Apakah kita bekerja tidak boleh mendapatkan keuntungan? Tentu saja boleh, harus malah. Semut juga pasti mencari keuntungan. Orang bekerja harus mendapatkan hasil yang sepadan dan adil yang didapat melalui proses yang benar.

Perbaiki Mental Attitude

Kebanyakan orang lebih sibuk berpikir tentang keuntungan sebelum kerja dimulai. Padahal, adalah lebih baik mengerahkan seluruh kemampuan untuk hasil maksimal lebih dulu, baru memperoleh keuntungan kemudian. Jangan dibalik. Tidak mungkin Anda dapat fokus dalam bekerja jika setiap saat Anda sibuk berhitung untung-rugi bekerja di perusahaan ini? Berhenti berpikir ini BUKAN perusahaan saya, dan mulailah mengambil sikap ownership dalam posisi apapun anda di perusahaan dengan menyatakan, masa depan perusahaan ini, saya yang bertanggungjawab menjaganya. Begini seharusnya Pemimpin Spiritual berpikir. Belajar menghargai keadaan Anda, dan menyertakan keberadaan Anda menjadi bagian penting di perusahaan, meski Anda hanya petugas fokokopi sekalipun!


Perbaiki Strategi

Kerjasama tidak dapat dipaksakan. Ini hanya dapat diajarkan melalui kebiasaan.
Coba lihat kata-kata kunci yang kita temukan dari strategi semut. Saat Anda menemukan peluang, dan memutuskan untuk mengambil peluang sebagai target, identifikasikan semua resources yang Anda dapat temukan, buatlah pengukuran yang tepat uji ulang sampai Anda yakin bahwa target achievable bagi team Anda, lalu temukan dan seleksi team yang tepat yakni mereka yang kompeten dan dalam satu visi dengan Anda untuk mencapai tujuan. Jangan berhenti disini, ciptakan support system, ini adalah payung pengaman Anda; siapkan second-layer team inti dengan kompetensi yang sama jangan tergoda untuk mengambil banyak orang yang tidak memiliki ritmik dan komponen kompetensi kerja yang sama satu dengan yang lain, ini akan hanya menambah beban. Kerjasama berarti juga membangun orang-orang yang tepat untuk pekerjaan tepat dan menempatkan mereka dalam tanggungjawab bersama. Perhatikan pemimpin yang sibuk, mengarahkan dan memastikan tujuan dapat dicapai oleh keseluruhan team. Pemimpin ini tidak menunggu teamnya bekerja harmonis dengan sendirinya, ia-lah orang yang paling bertanggungjawab menginisitifkan motivasi, menumbuhkan semangat dan menunjukan strategi kerjasama yang mendukung pencapaian.

Jadikan kerjasama sebagai strategi Anda, belajarlah untuk bekerja bijak seperti semut.
Mari bersama, Menemukan Gula.
Di Kutip dari Alvalima.blogspot.
Wassalam

Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

Senin, 17 Januari 2011

Ujian Nasional, why Not !!

Tak terasa musim-musim yang paling menegangkan akan tiba. Siswa atau guru, apalagi orang tua murid akan merasakan begitu tegangnya ketika akan menjalani sebuah "benda" yang bernama "Ujian Nasional".
tak terkecuali kiranya orang akan merasa begitu terasa "ketegangan" itu pada detik-detik hari "H" nya. Tidak melihat apakah UN nantinya akan dihapus atau tidak, seseorang siswa yang saat ini beradaa di kelas 6, atau 9 atau 12 di semua tingkatan akan melaluinya.
sebagai orang yang cerdas, haruslah menjadikan semua ini sebagai sebuah "moment" yang saangat berharga. oleh karena itu, ada beberapa kiat menghadapi UN tahun ini, antara lain:
1. Mulai untuk meringkas semua pelajaran yang telah dipelajari
2. Mencari pembimbing yang mampu menghantarkan kepada kemudahan "belajar"
3. Usahakan dalam beberapa bulan sebelum UN ini karantina diri, jauhi hal-hal yang tidak berguna
4. Jaga kesehatan dan tetap berolahraga secara teratur
5. Jangan lupa untuk senantiasa berdo'a dan melaksanakan kewajiban spiritual secara istiqomah (konsisten).
selamat belajar dan semoga menjadi generasi yang berilmu dan beramal untuk semua. amin.

Selasa, 04 Januari 2011

Sistematika Surat dalam Al Qur'an

BAB I
PENDAHULUAN

Al Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung petunjuk bagi umat manusia. Al Qur’an diturunkan untuk menjadi pegangan bagi mereka yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak diturunkan hanya untuk umat atau suatu umat masa tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang masa. Karena universalitas Al Qur’an melingkupi seluruh aspek kehidupan umat manusia dan ditujukan kepada seluruh pranata sosial. Baik mereka yang masih tradisional/primitif maupun yang mempunyai peradaban kontemporer dan modern. Kaya, miskin, penguasa, pengusaha, pendidik, cendekiawan maupun tidak mempunyai ilmu semua bernaung di bawah lindungan Al Qur’an, demikian yang ditulis oleh Bapak DR. H. Arthani Hasbi pada kata pangantar Buku Nalar Al Qur’an karangan KH. Husin Naparin, Lc., MA.
Al Qur’an adalah mukjizat Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah subhanahu wa taala menurunkannya kepada Nabi Muhammad  SAW, demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya ilahi, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah menyampaikannya kepada para sahabatnya-sebagai penduduk asli Arab- yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka. Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat mereka terima, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. 1
Al Qur’an turun dari Allah, Dia jugalah yang memeliharanya. Al Qur’an terdiri dari 30 Juz, tersusun dalam 114 surat. Ada yang diturunkan pada masa Nabi SAW masih berdomisili di Makkah, ayat-ayat itu disebut ayat-ayat Makkiyyah mencakup hampir 19/30 Al Qur’an dengan jumlah 4.780 ayat. Ayat-ayat yang diturunkan  sesudah Nabi SAW tinggal di Madinah disebut Madaniyyah mencakup sekitar 11/30 Al Qur’an dengan jumlah 1.456 ayat. Dengan demikian Al Qur’an keseluruhan berjumlah 6.236 ayat. 2



BAB II
SISTEMATIKA SURAT DALAM AL QUR’AN

A.     PENGERTIAN AYAT DAN SURAT

Ayat secara bahasa mempunyai beberapa arti, diantaranya Mu’jizat (QS. 2: 211), tanda (QS. 2: 248), pengambilan pelajaran (QS. 30: 24), urusan yang mengagumkan (QS. 40: 50), bukti/dalil (QS. 30). Sedangkan menurut istilah, ayat adalah kelompok yang mempunyai permulaan dan penutup yang terdapat dalam surat Al Qur’an. 3
Sedangkan pengertian surat adalah secara bahasa, surat mempunyai pengertian kedudukan, ketinggian, atau kemuliaan. Sedangkan menurut istilah surat adalah kumpulan kandungan beberapa ayat yang mempunyai permulaan dan penutup dan sedikitnya yang terkandung pada surat adalah tiga ayat.  
Jumlah surat dalam Al Qur’an adalah 114. Sebagian dari surat-surat Al Qur’an mempunyai satu nama dan sebagian yang lainnya mempunyai lebih dari satu nama.
Surat-surat dalam Al Qur’an menurut panjang pendeknya dibagi menjadi 4 bagian.
1.      As Sab’uth Thiwal, artinya tujuh surat yang panjang, yakni surat Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa, Al A’raf, Al Maidah, Al An’am, dan Yunus.
2.      Al Miun, artinya surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat atau lebih, seperti surat Yusuf, Hud, dan lain-lain.
3.      Al Matsaani, artinya surat-surat yang berisi kurang dari seratus ayat, seperti Surat Al Anfal, Al Hijr, dan lain-lain.
4.      Al Mufashshal, artinya surat-surat pendek, seperti surat Adh Dhuha, Al Ikhlas, An Naas, dan sebagainya. 4



B.     SISTEMATIKA SURAH DALAM AL QUR’AN

Penyusunan surat dalam Al Qur’an merupakan sebuah perdebatan yang sangat sengit, akan tetapi semua itu sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Imam Shubhi as Shalih menjelaskan bahwa ”Susunan dan urutan surahpun berdasarkan  kehendak dan petunjuk Rasulullah sebagaimana diketahui, Rasulullah hafal semua ayat dan surat Al Qur’an. Kita tidak bisa membayangkan dan tidak mempunyai bukti yang menyatakan sebaliknya. Tidaklah masuk akal pendapat yang menyatakan bahwa urutan surah Al Qur’an itu disusun oleh beberapa orang sahabat Nabi atas dsar ijtihad mereka. Dan lebih tidak masuk akal lagi kalau ada pendapat yang menyatakan bahwa beberapa surah disusun urutannya berdasarkan ijtihad para sahabat dan beberapa surah lainnya disusun urutannya menurut kehendak Rasulullah SAW. 5
Syekh Waliyullah Al Mallawi berkata: ”Tidak salah orang yang mengatakan bahwa munasabah pada ayat-ayat yang mulia itu tidak perlu dicari. Karena ayat-ayat itu turun sesuai dengan kejadian-kejadian yang berbeda-beda. Dan keputusan akhir adalah jika dikatakan bahwa ayat-ayat itu turun  berdasarkan peristewa-peristewa  yang urut-urutannya (tartib) dan keasliannya sesuai dengan yang terkandung di Lauhul Mahfuzh adalah surat-suratnya seluruhnya dan ayat-ayatnya, dengan ketentuan Allah, seperti yang diturunkan sekaligus di Baitul izzah.
Dan merupakan kemu’jizatan yang jelas adalah  gaya bahasanya dan urutan susunannya yang menakjubkan. Dan yang layak untuk dikaji pada setiap ayat adalah keadaannya yang sebagai pelengkap dari ayat sebelumnya atau berdiri sendiri. Kemudian ayat itu berdiri sendiri, maka apa hubungannya dengan ayat sebelumnya? Maka, ini adalah ilmu yang mulia. Dengan demikian juga surat-surat, dikajilah sisi kebersambungannya dengan surat-surat sebelumnya dan arah konteksnya”. 6


Berbicara mengenai hubungan antara surat dengan selain selain tidak mudah ditempuh bahkan boleh dikatakan usaha yang dicari-cari. Urutan surat demi surat adalah tauqify,  yakni ditertibkan oleh Rasul sendiri, bukan ijtihad para sahabat. Namun penertiban surat berdasar tauqify tidak mengharuskan adanya ikatan antara setiap surat itu dan tidak selalu ada ikatan antara surat terdahulu dengan yang kemudian. Demikian pula penertiban ayat demi ayat yang memang ditetapkan sendiri oleh Rasul, tidak pula mengharuskan ada hubungan antara suatu ayat dengan ayat yang lain apabila masing-masing ayat itu mempunyai sebab-sebab yang berbeda-berbeda. 7
Dalam penjelasan lain bahwa Al Qur’an terdiri atas surat-surat dan ayat-ayat, baik yang pendek maupun yang panjang. Adapun ayat, ia adalah sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam suatu surat Al Qur’an. Sedangkan surat adalah sejumlah ayat Al Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan. Penempatan secara tertib urutan ayat-ayat Al Qur’an ini adalah bersifat tauqify, berdasarkan ketentuan dari Rasulullah SAW. Menurut sebagian ulama, pendapat ini merupakan ijma’.
Sedangkan susunan ayat atau tertib ayat dijelaskan Az-Zarkasyi dalam Al Burhan dan Abu Ja’far Ibnu Az Zubair dalam Munasabah-nya, mengatakan, ”tertib ayat-ayat di dalam surat-surat itu berdasarkan tauqify dari Rasulullah dan atas perintahnya, tanpa diperselisihkan kaum muslimin.” As Suyuthi memastikan hal itu, katanya, ”Ijma dan nash-nash yang serupa menegaskan, tertib ayat-ayat itu adalah tauqify, tanpa diragukan lagi.” 8
Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surat-surat Al Qur’an yang ada sekarang, yaitu:
a.        Ada yang berpendapat bahwa tartib surat itu tauqify dan ditangani langsung oleh Nabi sebagaimana diberitahukan Malaikat Jibril kepadanya atas perintah Allah. Dengan demikian, Al Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surat-suratnya secara tertib ayat-ayatnya, seperti yang ada di tangan kita sekarang inia, yaitu tertib mushaf Utsman yang tak ada seorang sahabat pun yang menentangnya. Ini menunjukan telah terjadi ijma’ atas susunan surat yang ada, tanpa suatu perselisihan apapun.
Kelompok ini berdalil bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surat secara   tertib di dalam shalatnya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan, bahwa Nabi pernah membaca beberapa surat Mufashshal (surat-surat pendek) dalam satu rakaat. Al Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud katanya,
”surat Bani Israil, Al Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al Anbiya’ termasuk yang diturunkan di Makkah dan yang pertama-tama aku pelajari”. Kemudian ia menyebutkan surat-surat itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan sekarang ini.
Ibnu Hashshar mengatakan, ”tertib surat dan ayat-ayat pada tempatnya masing-masing itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan ”letakkanlah ayat ini di tempat ini”. Hal tersebut telah diperkuat pula riwayat yang mutawatir dengan tertib seperti ini, dari bacaan Rasulullah dan ijma’ para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya seperti ini di dalam mushaf”. 9
Susunan surah berdasarkan yang ditentukan Rasulullah adalah sebagai berikut: Al Fatihah, Al Baqarah, Ali Imran, al Nisaa, Al Maidah, Al An’am, Al A’raf, Al Anfaal, al Taubah, Yunus, Hud, Yusuf, Al Hijr, Ibrahim, al Ra’ad, al Nahl, Al Israa’, Al Kahfi, Thaha, Maryam, Al Anbiya, Al Hajj, Al Mu’minun, An Nuur,  Al Furqan, al syua’ara, an Naml, Al Qashash, Al Ankabut, al Rum, luqman, al Sajadah, Al Ahzab, Saba’, Fathir, Yasin, al Saffat, Sad, Az Zumar, Al Mu’min, Fushilat, al Syura, al Zukhruf, al Dukhan, Al Jatsiyah, Al Ahqaf, Muhammad, Al Fath, Al Hujurat, Qaf, Az Zaariyat, al Thuur, al Najm, Al Qamar, al Rahman, Al Waqia’ah, Al Hadid, Al Mujadilah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, al Saff, Al Jumu’ah, Al Munafiqun, al Tagabun, al Thalaq, At Tahrim, Al Mulk, Al Qalam, Al Haqqah, Al Ma’arij, Nuh, Al Jinn, Al Muzzammil, Al Muddassir, Al Qiyamah, Al Insan, Al Mursalat, al Naba’, al Nazi’at, Abasa, al Takwir, Al Infithar, Al Muthaffifin, Al Insyiqaq, Al Buruj, al Tariq, Al ’A’la, Al Ghasyiyah, Al Fajr, Al Balad, al Syams, Al Lail, al Dhuha, Al Insyirah, Al Tin, Al ’Alaq, Al Qadr, Al Bayyinah, Al Zilzalah, Al ’Adiyat, Al Qari’ah, Al Takasur, Al Ashr, Al Humazah, Al Fil, Quraisy, Al Ma’un,
 Al Kautsar, Al Kafirun, Al Nasr, Al Lahab, Al Ikhlas, Al Falaq, Al Nas. 10
b.        Kelompok kedua berpendapat bahwa tertib surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat, sebab ternyata ada perbedaan tertib di dalam mushaf-mushaf mereka. Misalnya Mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan iqra’, kemudian Al Muddatsir, lalu Nun, Al Qalam, kemudian Al Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surat Makkiyyah dan Madaniyyah.
Adapun mushaf  Ibnu Mas’ud, yang pertama ditulis adalah surat Al Baqarah, kemudian An Nisaa’, lalu disusul Ali Imran. Sedangkan dalam mushaf Ubay, yang pertama ditulis adalah Al Fatihah, Al Baqarah, An Nisaa, lalu Ali Imran.
c.        Kelompok ketiga berpendapat, sebagian surat itu tertibnya bersifat Tauqify dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surat pada masa Nabi. Misalnya, keterangan yang menunjukkan tertib as sab’uthiwal, al hawamim dan al mufashshal pada masa hidup Rasulullah. 11
Dari ketiga pendapat tersebut jelaslah bahwa pendapat yang pertama yang paling kuat dan paling dapat dipegangi. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Abu Bakar bin al Anbari bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an ke langit dunia. Kemudian ia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surat turun karena ada suatu masalah yang terjadi, ayatpun turun sebagai jawaban bagi orang  yang bertanya. Jibril senantiasa memberitahukan kepada Nabi di mana surat dan ayat tersebut harus ditempatkan. Dengan demikian susunan suratt-surat, seperti halnya susunan ayat-ayat dan huruf-huruf Al Qur’an seluruhnya berasal dari Nabi. Oleh karena itu, barangsiapa mendahulukan sesuatu surat atau mengakhirkanya, berarti ia telah merusak tatanan Al Qur’an. 12

BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:
1.      Ayat adalah kelompok yang mempunyai permulaan dan penutup yang terdapat dalam surat Al Qur’an
2.      Surat adalah kumpulan kandungan beberapa ayat yang mempunyai permulaan dan penutup dan sedikitnya yang terkandung pada surat adalah tiga ayat.
3.      Surat-surat Al Qur’an itu secarta garis besarnya dibagi menjadi empat bagian:
a. Ath Thiwal, yaitu surat yang panjang-panjang
b. Al Mi’un, yakni surat-surat yang ayat-ayatnya lebih dari seratus atau sekitar itu.
c. Al Matsani, yakni surat-surat yang jumlah ayatnya dibawah al Mi’un.
d. Al Mufashshal, yakni surat-surat yang ayatnya pendek-pendek.
4.      Para ulama berbeda pendapat terhadap tertib surat-surat Al Qur’an, yaitu ada tiga kelompok, yakni:
a.       Kelompok yang berpendapat bahwa tertib surat-surat Al Qur’an itu adalah tauqify berdasarkan petunjuk Rasulullah.
b.      Kelompok kedua berpendapat bahwa tertib surat-surat Al Qur’an itu berdasarkan ijtihad para sahabat.
c.       Kelompok ketiga berpendapat, bahwa sebagian surat Al Qur’an itu berdasarkan petunjuk Rasulullah dan sebagian lagi berdasarkan ijtihad para sabahat.
    1. Berdasarkan dalil dan ijma ulama pendapat yang pertama lebih kuat dan dapat dipegangi. Dimana seluruh surat-surat Al Qur’an itu seperti sekarang ini adalah  berdasarkan petunjuk Rasulullah SAW. Dan bahkan sebagian ulama menerangkan itu sudah menjadi ketentuan Allah dalam Lauh Al Mahfuzh.

Sumber Kutipan :
1 Syaikh Manna’ al Qaththan, Mabahits fii Ulumil Qur’an, diterjemahkan oleh H. Ainur Rafiq El Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, (Jakarta, Pustaka Al Kautsar, cet. Kelima, 2010), h. 3
2 KH. Husin Naparin, Lc., MA, Nalar Al Qur’an Refleksi Nilai-nilai Teologis & Antropologis, (Jakarta, el-Kahfi, 2004), h. 4.
3 A. Zainuddin, Muhammad Jamhari, Al Islam 1 Aqidah dan ibadah, (Bandung, CV. Pustaka Setia, 1999), h. 167
4   A. Zainuddin, Muhammad Jamhari, ibid, h. 168.
5 Subhi as Shaleh, Membahas ilmu-ilmu Al Qur’an, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 2008) h.. 89.
6 Imam Jalaluddin As Suyuthi, Samudera Ulumul Al Qur’an, Jilid 3 (Surabaya, PT. Bina Ilmu, 2007) h. 528
7 Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, ( Semarang, Pustaka Rizki Putra, 2009) h. 35
8 Syaikh Manna’ Al Qaththan, op cit, h. 174.
9  Syaikh Manna’ al Qaththan, Ibid, h. 77
10 W. Montqoenry Watt and Richard Bell, Introduction to The Al Qur’an, Edinburgh university press, 1994, h. 205
11 Syaikh Manna’ Al Qaththan, Op cit, h. 179.
12 Syaikh Manna’ Al Qaththan, ibid, h. 181

Sumber Bacaan:

A. Zainuddin, Muhammad Jamhari, Al Islam 1 Aqidah dan ibadah, CV. Pustaka Setia, Bandung,  1999

Naparin, KH.Husin, Lc., MA. Nalar Al Qur’an Refleksi Nilai-Nilai Teologis dan Antropologis, el Kahfi, Jakarta, 2004.

Ash Shabuny, Muhammad Aly, Pengantar Studi Al Qur’an (At Tibyan), alih bahasa Drs. Moch. Chudori Umar, Drs. Muh. Matsna, Hs., PT. Al Ma’arif, Bandung, 1984.

Al Qaththan, Syaikh Manna’, Mabahits Fii Ulum al Qur’an, penerjemah H. Aunur Rafiq El Mazni, Lc., MA, Pengantar Studi Ilmu Al Qur’an, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, Cet. V, 2010.

Shihab, Prof. DR. Quraish, Wawasan Al Qur’an, Mizan, Bandung, 2007.
Ash Shalih, DR. Subhi, Membahas Ilmu-ilmu Al Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2008.

Ash Siddieqy, Prof. DR. Teungku M. Hasbi, Ilmu-Ilmu Al Qur’an, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009.

Watt, W. Montqomery, and Richard Bell, Introduction to The Al Qur’an, Edinburgh University Press, 1994.

Senin, 03 Januari 2011

TAHUN 2011: LEBIH CERDAS DAN PEDULI

Tak terasa tahun 2010 telah meninggalkan kita, kini memasuki tahun 2011. kilas balik di tahun 2010 memang wajib kita lakukan sebagai sarana introspeksi diri (muhasabah) terhadap pelbagai peristewa dan kejadian yang menimpa diri, keluarga, masyarakat dan bangsa ini.
Kalau peristewa yang menyenangkan kita sebagai orang yang beragama tentunya mensyukurinya melalui implementasi nyata dari sebuah wujud syukur tersebut. Akan tetapi yang menjadi sebuah delimatis adalah peristewa atau kejadian yang menimpa kita berupa sebuah musibah, bencana atau apapun namanya.
Sepanjang tahun 2010 yang lalu betapa banyak dan berat ujian yang ditimpakan Allah kepada bangsa ini, mulai musibah banjir, gempa tsunami sampai meletusnya Gunung merapi di berbagai daerah. Sungguh sebuah ujian yang sangat tak dapat dielakan oleh kita.
Memasuki awal tahun 2011 ini kita seharusnya mampu bersikap arif dan bijaksana untuk senantiasa lebih cerdas dan lebih peduli lagi. Ada beberapa sikap yang mungkin dapat dijadikan sebagai tolok ukur orang yang mempunyai kecerdasan dan kepedulian di tahun-tahun mendatang, antara lain:
Pertama, ketika melihat seseorang mendapat musibah ataupun bencana harus mampu memberikan yang terbaik kepadanya berupa bantuan harta benda, uang, ataupun jiwa untuk menolong meringankan bebannya.
Kedua, kalau tidak mempunyai apapun (harta, uang) berikanlah pelayanan yang prima kepadanya, berupa sebagai agen pemberi solusi umat (problem agent) sehingga segala keluhan  atau masalah umat dapat di atasi dengan segera.
Ketiga, ketika kita tidak berdaya dalam segala hal, baik harta ataupun material apapun cukuplah kita sebagai orang yang mampu memberikan kedamaian melalui do’a kepada mereka. Mungkin ini yang dinamakan selemah-lemah iman (adh’aful iman) sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang Indonesia tetap menjadi bangsa yang aman, damai dan tenteram walaupun masih ada gerimis-gerimis yang turun membasahi negeri tercinta dan mari kita semua berupaya bersikap lebih cerdas dan lebih peduli lagi. Amin.
" Happy New year 2011" be a good and best ....