This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 21 Desember 2011

Ada Apa dibalik Peristewa Hijrah?

Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. merupakan agama yang mempunyai tantangan yang sangat berat, terutama yang dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat karena Islam agama yang membawa perubahan yang sangat signifakan bagi masyarakat Quraisy pada waktu itu.
Pada masa permulaan Islam datang kepada masyarakat Mekkah merupakan agama yang aneh, karena apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. mengubah kebiasaan masyarakat quraisy yang tidak baik dan tidak bermoral, seperti menyembah berhala, membunuh anak perempuan, main perempuan, berjudi, mabuk-mabukan dan lain sebagainya.
Ketika Islam datang semua tradisi yang tidak baik itu dihapus oleh Islam, dan Rasulullah pun menjadi sasaran karena beliau yang membawa Islam itu. Oleh karena itu, para kafir quraisy pada waktu ingin sekali membunuh beliau, tapi rasulullah tetp dipelihara oleh Allah swt. Sampai saatnya diperintah untuk hijrah ke Yasyrib atau kota Madinah.
Peristewa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah kalau kita pelajari secara mendalam maka banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Paling tidak ada dua hal yang dapat dipetik dari peristewa hijrah ini, yaitu adanya usaha (ikhtiar) manusia dan inayatullah (pertolongan Allah swt).
Pertama; adanya usaha atau ikhtiar manusia dalam dunia ini. Hal ini tergambar pada peristewa hijrah antara lain ketika Rasulullah mau hijrah, tempat tidur beliau suruh sayyidina Ali ra untuk menempati untuk menggantikannya sehingga mengelabui para kafir yang mau membunuh beliau. Demikian juga, ketika mau ke Madinah beliau tidak sendiri tetapi ditemani oleh Abu Bakar ra dan menempuh jalan yang tidak biasa dipakai oleh orang, ini merupakan strategi yang sangat jitu sehingga tidak mungkin ditemukan. Juga beliau mampir terlebih dahulu ke Goa Tsur yang tempatnya sangat terjal dan tinggi.
Disamping itu, usaha Rasulullah mengelabui musuh dengan menyuruh pembantu Abu Bakar untuk mengembalakan dombanya pada bekas jejak kuda Rasulullah dan sayyidina Abu Bakar. Kesemuaan itu merupakan usaha yang dilakukan oleh Rasulullah dan Abu Bakar ra. Dalam rangka menyelamatkan diri dari sergapan musuh kafir Quraisy. Hal ini merupakan pelajaran bagi kita umat Islam untuk senantiasa berusaha dalam dunia ini, tidak mungkin sesuatu cita-cita yang ingin dicapai tanpa usaha dan ikhtiar serta kerja keras.
Kedua; adanya pertolongan Allah swt. (inayatullah). Pertolongan Allah yang terjadi ketika hijrahnya Rasulullah saw. Antara lain pada waktu Nabi keluar dari rumah, para kuffar quraisy tertidur dengan pulasnya sehingga Nabi keluar dari rumah dengan aman, juga ketika beliau berada dalam Goa Tsur pintu goa ditempati oleh sarang laba dan burung dara. Demikian juga ketika beliau kehausan dan mampir disebuah gubuk yang mempunyai kambing kurus, ketika ditanya apa bias kambingnya itu masih bisa mengeluarkan air susu, tapi ketika Rasulullah memerasnya air susunya banyak dan mampu memberikan susu kepada tuan rumahnya. Hal ini adalah pertolongan Allah kepada Nabi dan Abu Bakar ra. Sehingga beliau selamat sampai ke kota Madinah.
Demikian intisari ceramah yang sampaikan oleh al Mukarram KH. Husin Naparin, Lc, MA. Ketika pengajian rutin dan menyambut baru Islam 1433 H. yang bertempat di Aula Induk Masjid Jami Nurul Huda Jorong Kab. Tanah Laut Kalsel. (24/11/2011)

Kamis, 03 November 2011

Khutbah Idul Adha 1432 H/2011 M

IBADAH qURBAN: BUKTI SYUKUR KEPADA ALLAH SWT.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia.
Segala Puja dan Puji hanya bagi Allah, Tuhan yang Maha Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Pemilik Alam Semesta.
Shalawat dan salam semoga tercurah selalu untuk junjungan kita, pemimpin kita, penghulu segala Nabi, Nabi Akhir Zaman yang tidak ada lagi Nabi setelahnya, beliau adalah Nabi Muhammad saw, salam sejahtera juga kita sampaikan untuk keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia serta penerus dakwahnya hingga hari zaman nanti.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah SWT.
Hari ini saudara-saudara kita yang diberikan kemampuan, kesempatan dan badan sehat oleh Allah SWT, sedang berada di tanah suci, untuk melaksanakan ritual ibadah haji. Jumlah mereka tidak sedikit, sekitar tiga sampai empat juta orang dari berbagai suku, bangsa dan beraneka bahasa dan warna kulit berkumpul, termasuk 300 orang jamaah haji dari Gaza. Mereka berkumpul menjadi satu di tempat yang sama dalam mengharap ridha dan ampunan dari Yang Maha Pengampun yaitu Allah SWT.
Bagi kita yang tahun ini tidak berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, di sunahkan untuk melaksanakan shalat Idul Adha secara berjamaah, mendengarkan khutbah dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban.
Bahkan sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha, sehari sebelumnya, ketika saudara-saudara kita sedang berkumpul di Arafah melakukan wukuf untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berzikir, berdoa, bertaubat dan ibadah lainnya yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Maka sebagai ikatan iman dan ikatan ibadah antara kaum muslimin yang tidak menunaikan ibadah haji dengan mereka yang sedang wukuf di Arafah, Rasulullah saw memberikan motifasi kepada umatnya untuk berpuasa Arafah.
“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi)
Beruntunglah mereka yang melaksanakan puasa Arafah semoga Allah menerimanya. Amin Ya Rabbal ‘alamin
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿١﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢﴾ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ﴿٣﴾
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (1), Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (2), Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus (3).” (QS. Al-Kautsar [108] : 1-3)
Surat Al-Kautsar di atas termasuk surat yang memiliki jumlah ayat yang sedikit, sama seperti surat Al-‘Ashr (QS. 103) dan surat An-Nashr (QS. 110) yaitu berjumlah tiga ayat.
Di dalam surat Al-Kautsar, tepatnya di ayat pertama, Allah telah menegaskan, bahwa Dia telah memberikan nikmat yang banyak! Kenapa Allah menegaskan? Mungkin ada di antara manusia yang tidak tahu diri, karena kesibukannya dalam bekerja, berdagang, bertani, mengajar, menulis, berolah raga, menyanyi, atau karena kesombongannya, sehingga lupa akan nikmat yang telah Allah berikan. Sehingga tidak mengherankan Allah mengingatkan yang artinya “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”.
Pernahkah kita menanyakan harga Oksigen (O2) di apotik? Jika belum tahu, ketahuilah harganya sekitar Rp 25.000 per liter. Pernahkah kita menanyakan harga Nitrogen di apotik? Jika belum tahu, harganya sekitar Rp. 9.950 per liter.
Tahukah kita? Bahwa dalam sehari manusia menghirup Oksigen (O2) sebanyak 2.880 liter dan Nitrogen 11.376 liter. Jika harus dihargai dengan rupiah, maka Oksigen (O2) dan Nitrogen yang kita hirup, akan mencapai Rp 170 jutaan per hari untuk satu orang. Jika kita hitung kebutuhan kita sehari Rp 170 juta, maka sebulan Rp 5,1 milyar untuk satu orang.
Pernahkah malaikat menagih oksigen dan nitrogen yang kita hirup datang ke rumah setiap bulan? Ketahuilah Presiden, Raja bahkan orang terkaya di dunia apalagi rakyat biasa yang hidupnya sudah susah tidak akan sanggup melunasi biaya nafas hidupnya jika Allah Yang Maha Kuasa mau pakai rumus dagang sama manusia!
Allah mengingatkan manusia hingga berulang sampai 31 kali dengan kalimat yang sama, dengan jumlah huruf yang sama agar manusia mudah mengingatnya dan pandai bersyukur.
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman [55] )
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ﴿٣٤﴾
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14] : 34)
Ketahuilah, di antara nikmat yang telah Allah berikan kepada kita di samping nikmat menghirup udara, nikmat sehat, ada lagi nikmat yang lebih mahal nilainya, yaitu nikmat iman dan islam, nikmat yang tidak Allah berikan kesembarang orang.
Kita wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah diberikan nikmat tersebut, dengan nikmat itulah kita dapat berhadir ditempat ini, rukuk, sujud, mengabdi dan membesarkan Allah.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah SWT.
Sekarang, bagaimana cara bersyukur kepada Allah? Caranya adalah memanfaatkan segala nikmat yang telah Allah berikan untuk mendekat diri kepada-Nya, dengan melaksanakan ibadah sebagaimana yang telah diperintah-Nya.
Di dalam surat Al-Kautsar ayat kedua ditegaskan: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
Ada dua cara untuk bersyukur kepada Allah berdasarkan ayat yang tertera di atas:
Pertama, Mendirikan Shalat karena Allah
Shalat adalah ibadah yang sudah ada contohnya dari Rasulullah saw, ketika seorang melaksanakan shalat, sesungguhnya dia telah merealisasikan syukur kepada Allah, di dalam shalat seorang hamba dalam keadaan suci, menghadap kiblat, telah membesarkan Allah, memuji Allah, berterima kasih kepada Allah, rukuk, sujud dan berdoa kepada Allah.
Manusia yang shalat sesungguhnya telah mengingat Allah, dan mengingat Allah merupakan langkah awal untuk bersyukur kepada-Nya.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤﴾
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaahaa [20] : 14)
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu’anha, ia mengatakan, "Adalah Rasulullah saw apabila mengerjakan shalat maka beliau berdiri sampai pecah kedua kakinya. Aisyah Radhiyallahu’anha berkata, 'Wahai Rasulullah saw, mengapa engkau melakukan seperti ini, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni?' Nabi saw menjawab, 'Wahai Aisyah, apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?'." (HR. Muttafaq ‘alaih)
Dari hadits di atas, kita banyak mendapat pelajaran, satu di antaranya adalah bahwa shalat adalah ritual ibadah yang merupakan tanda seorang yang bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT.
Lantas bagaimana dengan orang yang lalai dalam sholatnya bahkan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali?
Kedua, Berqurban
Ibadah Qurban adalah ritual yang sudah berlangsung lama, ritual yang ada sejak ribuan tahun lalu. Sebelum kita dilahirkan, sebelum orang tua kita dilahirkan, bahkan sebelum kakek dan nenek kita dilahirkan, sudah ada orang yang berqurban.
Di dalam Al Quran, Allah menceritakan dua putra nabi Adam as yang melaksanakan qurban. Di antara keduanya, ada yang qurbannya di terima Allah dan satunya lagi ditolak.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ﴿٢٧﴾
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), 'Aku pasti membunuhmu!' Berkata Habil, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa'." (QS. Al-Maidah [5] : 27)
Allah juga menceritakan pelaksanaan qurban yang dilakukan nabi Ibrahim as.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاء الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾
"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (100). Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata. 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'. (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103). dan Kami panggillah dia, 'Hai Ibrahim, (104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108)'." (QS. Ash-Shaaffat [37] : 100-108)
Dari ayat di atas, kita mendapat penjelasan bahwa Nabi Ibrahim as yang sudah tua dan sudah lama berumah tangga, sangat menginginkan seorang anak yang shaleh, beliau kemudian berdoa kepada Allah, dan Allah kabulkan.
Dan sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah memberikan seorang anak, maka nabi Ibrahim as ingin menyembelih anaknya, pada saat akan menyembelih, maka terjadilah dialog bapak dan anak dan peristiwa tersebut Allah abadikan di dalam firman-Nya untuk pelajaran bagi generasi sesudahnya.
Nabi Ibrahim as, walaupun sudah tua, sudah berumur, kaya pengalaman, bak pepatah mengatakan sudah banyak makan asam dan garam, akan tetapi tidak sombong, tidak angkuh, tidak otoriter, tidak ingin menang sendiri, tidak memaksakan kehendak. Beliau masih minta pendapat orang lain, walaupun pendapat itu berasal dari seorang anak. Pendapat anak tersebut dia hargai bahkan dia laksanakan dengan sepenuh hati.
Begitu pula anaknya, bukanlah tipe anak yang cengeng, tidak penakut, berani menyampaikan pendapat, dan taat kepada Tuhan Yang Maha Agung, Allah SWT.
Ketika nabi Ibrahim as dan anaknya telah berserah diri dan sabar atas perintah Allah, maka Allah tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa ini kemudian dilanjutkan oleh generasi sesudahnya hingga generasi sekarang dengan prosesi penyembelihan hewan qurban, tanggal 10 Dzulhijjah dan dilanjutkan pada hari tasyrik.
Nabi Muhammad saw juga melakukan penyembelihan hewan qurban sebagai wujud syukur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bahkan dalam pelaksanaan haji Wada’, Rasulullah saw dengan tangannya yang mulia menyembelih sebanyak 63 ekor binatang sembelihan, beliau kemudian menyerahkan kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu untuk menyembelih sisanya sampai genap 100 sembelihan.
Dari Aisyah Radhiyallahu’anha, Nabi saw bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah dari Bani Adam ketika hari Raya Idul Adha selain menyembelih qurban...” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)
Anas Radhiyallahu’anhu bekata, Rasulullah saw bersabda, “Pada setiap bulu yang menempel di kulitnya terdapat kebajikan.” (HR. Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya)
Beruntunglah mereka yang berqurban, apalagi qurbannya diserahkan kepada mereka yang sangat membutuhkan, seperti mereka yang fakir, miskin, terjajah, berada di kamp pengungsian dan sedang berjuang melawan penjajah di negeri para nabi.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah SWT.
Pada ayat terakhir, yaitu ayat ketiga dari surat Al-Kautsar, Allah menjelaskan:
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ﴿٣﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar [108] : 3)
Sebanyak orang yang senang kepada Rasulullah saw, sebanyak itu pula orang yang benci. Dan orang benci, biasanya sinis, melakukan tipu daya, dan berupaya berbuat jahat kepada orang yang dia benci. Bahkan kalau mereka punya dana, kekuatan dan pendukung, akan mereka gunakan untuk merealisasikan kebenciannya.
Rasulullah saw yang berakhlak mulia, mengajak kepada kebaikan dan kebenaran, orang yang jujur, masih ada saja yang membencinya, menfitnah yang tujuannya agar masyarakat menjahui beliau saw dan ajaran yang dibawanya. Akan tetapi ketahuilah! Tipu daya orang-orang yang membenci Rasulullah saw dan ajarannya akan kembali kepada dirinya.
Dahulu di zaman nabi saw ada orang yang bernama al Ash bin Wail, Uqbah bin Abu Mu’ith, Abu Lahab (paman Rasulullah saw) dan Abu Jahal, mereka semua sangat membenci Rasulullah saw, dan mereka terputus dari rahmat Allah, sehingga mereka hidup dalam kehinaan dan matinya juga dalam kehinaan.
Akhirnya marilah kita tutup khutbah Idul Adha pagi ini dengan berdoa kepada Allah SWT:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a”.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
“Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir”.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami”.
اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari do’a yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’i).”
...رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿٧٤﴾
"Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan [25] : 74)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء ﴿٤٠﴾ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ﴿٤١﴾
"Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS. Ibrahim [14] : 40-41)
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
“Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian.”
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di Dunia, kehidupan yang baik di Akhirat dan hindarkanlah kami dari azab Neraka."

* Disampaikan pada khutbah Idul Adha 1432 H di Masjid Jami “An Nur” Jorong-Kuningan, Kecamatan Jorong Kab. Tanah Laut Kalsel; Ahad, 6 Nopember 2011 M/10 Dzulhijjah 1432 H

Senin, 17 Oktober 2011

Hari ini Guru Yang Profesional dicari ....

Hari ini guru menjadi Idola, tetapi masih banyak guru yang menjadi orang yang ditakuti. Ketika seorang ingin menjadi Guru ia akan bertekad untuk menjadi orang yang terbaik bagi anak didiknya, sehingga segala apapun akan terus diusahakannya dan ketika sudah menjadi seorang gurupun akan berusaha menjadi yang terbaik atau dikenal dengan profesional.
Profesional adalah sebuah kata yang saat ini sudah menjadi kata-kata yang lumrah dikenal oleh orang. tidak terkecuali bagi guru, sejak terbitnya UU No. 2 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, profesional menjadi kata kunci, sehingga erat kaitannya dengan kesejahteraan bagi seorang guru.
berbeda dengan sertifikasi, profesional menjadi tumpuan dan kata pijak dalam sebuah sertifikasi, seorang guru yang sudah mendapatkan sertifikat sebagai guru profesional tentu ia akan menjadi orang yang berhak mendapatkan tunjangan yang sesuai dengan UU. akan tetapi jika seorang yang sudah dicap sebagai guru profesional malah kinerjanya dipertanyakan, sehingga citra sebagai guru profesional pun menjadi taruhan dan diabaikan, maka menjadi sebuah citra buruk bagi guru itu, belum lagi tugas guru yang semakin berat saat ini, moral dan akhlak anak didik yang semakin hari semakin memperihatinkan.
Sebagai guru profesional tentunya akan menjadi lebih berat lagi beban yang dipikulnya, dari sini akan menjadi PR besar bagi guru. oleh karena itu, tentunya tugas mulia akan dibarengi niat yang tulus, senantiasa mendo'akan anak didik kita, sebagai guru sekaligus orangtua kedua disamping orangtuanya sendiri Guru harus mampu memberikan nilai yang bermakna dan memberikan siraman sejuk dihati-hati anak didik kita, segala tantangan dan problematika anak didik tentunya menjadi tanggungjawab seorang guru profesional, jangan hanya tunjangan kesejahteraan saja yang dituntut, tetapi kewajiban yang berat dan mulia harus diusahakan.
semoga tugas mulia ini, akan memberikan nilai keindahan bagi generasi pengganti kita saat ini, ditengah-tengah gejolak dan pergolakan politik dan globalisasi modern yang serba multi ini.
Ya Allah berikanlah kekuatan bagi guru-guru kami untuk mampu menjadi dirinya sendiri, mampu memberikan yang terbaik bagi anak didiknya, mampu berjuang ditengah-tengah kerikil kehidupan caruk maruknya kerusakan moral dan akhlak manusia saat ini, Amin.

Minggu, 25 September 2011

PERAN GURU TERHADAP BUDAYA MODERN

H. Muhaimin menerangkan bahwa budaya modern mempunyai cirri-ciri sebagai berikut: Pertama, budaya modern adalah budaya yang menggunakan akal sebagai alat pencari dan pengukur kebenaran (rasionalisme). Dalam Islam penggunaan akal bukan dilarang bahkan disuruh untuk senantiasa mempergunakan akal itu, dala Al Qur’an banyak sekali perintah Allah yang menyatakan hal itu. Kedua, dalam budaya modern itu manusia akan semakin materialis. Bersamaan dengan meningkatnya kemajuan lagu pembangunan pisik, seseorang juga menghadapi dilemma yang sulit diselesaikan. Inti pembangunan fisik adalah industrialisasi. Inti industrialisasi adalah teknikalisasi; inti dari teknikalisasi adalah materialisasi. Padahal pembangunan itu bukan saja fisik tetapi juga menekankan kepada pembangunan spiritualisasi. Ketiga, dalam budaya modern itu manusia akan semakin individualism. Istilah “persaingan” adalah muncul dari watak individualism, sehingga banyak kasus pertekaran gara-gara adanya persaingan, misalnya dalam perdagangan, politik, meraih jabatan dan lain-lain.Ungkapan ”fastabiqulkhairat” (berlomba-lomba berbuat atau menuju kebaikan), bukan menyuruh orang Islam bersaing. Keempat, karena budaya modern itu memulai perkembangannya dengan rasionalisme, maka salah satu turunannya ialah pragmatism, yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang berguna, dan yang berguna itu biasanya lebih bernuansa fisik. Paham pragmatism ini memang akarnya adalah paham materialism. Kelima, dari rasionalisme, materialism dan pragmatism itu muncul hedonism. Paham ini mengajarkan bahwa yang benar ialah sesuatu yang menghasilkan kenikmatan, tugas manusia ialah menikmati hidup ini sebanyak dan seintensif mungkin.
Jadi, sebagian isi kebudayaan modern itu merupakan musuh yang akan menghancurkan kebersamaan masyarakat dan terutama para peserta didik. Seseorang yang ingin menjadi manusia modern harus mampu membekali dirinya dengan norma agama yang akan menjadi filter dalam menghadapi budaya modern tersebut.
Disinilah sesungguhnya tugas seorang pendidik yang bergelut dalam bidang pendidikan, memberikan insigh (pencerahan) kepada peserta didik agar tidak tercebur dan terpengaruh terhadap budaya-budaya modern (barat) yang merusak.

SUMBER RUJUKAN:
Prof. Dr. H. Muhaimin, MA, Pengembangan Kurikulum PAI di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005.

Jumat, 26 Agustus 2011

MENGGAPAI MAKNA HIDUP DI MALAM PENENTUAN (LAILATUL QADR)

Ramadhan telah berada dipenghujung, ada perasaan bahagia bercampur sedih tatkala ramadhan itu akan meninggalkan kita.

Menurut Rasulullah ramadhan dibagi menjadi tiga pase, yaitu sepuluh hari pertama (tanggal 1-10) disebut rahmah (kasih sayang), sepuluh hari kedua (tanggal 11-20) disebut magfirah (pengampunan), dan sepuluh ketiga (tanggal 21-29/30) disebut itqun minan naar (pembebasan dari api neraka).
Pada sepuluh akhir bulan ramadhan ada satu malam yang dikenal dengan lailatul Qadr (malam penentuan) yang mana jika seseorang beribadah di malam itu sama dengan beribadah sebanyak seribu bulan (alfi syahri) sebagaimana firman Allah dalam surah Al Qadr (97), ayat 1-5:
                   •               
“1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593]. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. 97:1-5)

Menurut Bapak Quraish Shihab, makna al Qadar itu ada tiga macam, yaitu pertama; berarti penetapan dan pengaturan sehingga Lailat ASl Qadar dipahami sebagai penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua; berarti kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena dipilih sebagai malam turunnya Al Qur’an, serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Ketiga; berarti sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti ditegaskan dalam QS. Al Qadr ayat 4.

Sehingga dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.

Sebagai umatnya Rasulullah kita seyogyanya bertekad keras terhadap diri kita, keluarga kita untuk senantiasa mengisi akhir-akhir bulan ramadhan itu dengan segala amaliah Ramadhan baik yang wajib maupun amaliah sunah lainnya, terutama dimalam-malam ganjil. Karena ada indikasi dari rasulullah bahwasanya turunnya lailatul Qadar itu di malam ganjil, akan tetapi tidak menapikan malam-malam genap.

Ada beberapa tips agar kita senantiasa menemukan lailatul Qadar itu, antara lain: Pertama; shalat isya dan shubuh berjamaah, karena kedua shalat itu pahalanya menempati ibadah satu malam suntuk jika dilaksanakan secara berjamaah. Kedua; beribadah semalaman sejak shalat magrib sampai shalat subuh dan ibadah-ibadah lainnya. Ketiga; mencari waktu-waktu yang mustajab dalam berdo’a dan beribadah yaitu sepertiga malam (antara jam 2 – 4 malam).

Adapun amaliah yang dilaksanakan ketika berjaga-jaga menunggu datangnya lailatul Qadar antara, shalat wajib, memperbanyak shalat sunah seperti shalat tahajud, tarawih, witir, hajat, taubat, shalat tasbih dan shalat sunah mutlak lainnya. Disamping itu memperbanyak membaca al Qur’an dengan memahami maknanya, sehingga Al Qur’an benar-benar turun untuk diri kita.

Mudah-mudahan kita senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita untuk senantiasa mengisi sisa-sisa bulan ramadhan ini dengan hal-hal yang bernilai dan bermakna bagi hidup kita untuk kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Semoga. Amin
Jorong, 25 Ramadhan 1432 H/25 Agustus 2011 M

Kamis, 18 Agustus 2011

Membedah Makna Angka 17

Angka 17 adalah merupakan bagian dari angka 1 dan 7 atau bisa juga 10 + 7 =17. Kalau dilihat jenisnya angka 17 adalah salah satu dari bilangan prima. angka 17 ini kalau dilihat dari nilai historis bangsa Indonesia dan umat Islam mempunyai makna dan arti yang sangat berarti sekali.
Dilihat dari dari nilai historis bangsa Indonesia angka 17 difokuskan pada peristewa bersejarah yaitu hari kemerdekaan Bangsa Indonesia yakni tanggal 17 Agustus 1945. Dari sini titik tumpu perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. Semua bangsa mengakui akan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal ini yaitu pada saat dua tokoh proklamator Ir. Soekarno dan M. Hatta membacakan teks proklamasinya didepan sebuah upacara bendera di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta.
Disamping itu, kalau dilihat dari nilai historis umat Islam (taarikh Islam), angka 17 itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, yaitu peristewa turunnya Al Qur’an yang dikenal dengan peristewa Nuzulul Qur’an. Al Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam dan sebagai petunjuk (hudan) bagi umat Islam.
Tahun ini 2011 Masehi dan tahun 1432 Hijriyah merupakan tahun yang sangat istemewa sekali bagi Umat Islam dan bangsa Indonesia, karena angka 17 bersatu di sebuah bulan yang sangat mulia yakni bulan Ramadhan. Tanggal 17 Agustus 2011 M. bertepatan tanggal 17 Ramadhan 1432 H. hal ini akan memberikan makna yang sangat berarti sekali bagi kita sebagai orang yang beriman, karena semua kejadian ini akan ada hikmah dibalik semua ini.
Angka 17 adalah salah satu bilangan prima, dimaksudkan kita seharusnya bersikap dan menjadi orang yang prima, sempurna, berguna bagi orang lain. Disamping itu, kalau dilihat dari angka surah dalam Al Qur’an angka 17 adalah surah al Isra (diperjalankan). Dalam konteks surah ini erat hubungannya sebuah peristewa yang terjadi pada baginda rasul SAW yaitu peristewa Isra dan Mi’raj, dimana dalam peristewa ini puncaknya adalah kewajiban shalat lima waktu bagi umat Islam.
Angka 17 terdiri dari angka 1 dan 7. Angka 1 merupakan symbol dari keesaan Allah SWT. Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, sedangkan angka 7 merupakan perlambang dari berbagai macam yang berjumlah tujuh, antara lain tujuh anggota manusia (mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki dan seluruh tubuh); tujuh jumlah ayat surah al Fatihah, tujuh lapis bumi dan langit, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Subhannallah, Allah punya rencana dan kehendak akan terkumpulnya pada tahun ini tanggal 17 Ramadhan bertepatan tanggal 17 Agustus 2011. Mudah-mudahan semua kekuasaan Allah mempunyai hikmah yang sarat makna bagi kesejahteraan dan kelangsungan bangsa dan negera ini, wabil khusus bagi umat Islam Indonesia. Amin.
Wallahu a’lam bishshawab.
Rantau, 17 Agustus 2011 M/17 Ramdhan 1432 H

Selasa, 12 Juli 2011

Pendidikan Karakter Menurut Perspektif Al Qur'an

Kunci keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah keagungan akhlak yang dimilikinya (Qs. Qalam/68: 4). Dengan modal itu, maka beliau pun menjadi teladan/uswatun hasanah (Qs. Al-Ahzab/33: 21) bagi umatnya. Hanya dalam 23 tahun ia berhasil menjalankan misinya dalam menyempurnakan akhlak manusia (li utammima makaarim al-akhlaq) sehingga masyarakat jahiliyah berganti menjadi masyarakat madani.

Lalu bagaimana bentuk keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW itu? Pertanyaan ini juga pernaha dirasakan oleh para sahabat sehingga di antara mereka ada yang bertanya kepada Siti A’isyah. Istri Nabi Muhammad ini pun menjawab: kana khuluquhu al-Qur’an, akhlaknya adalah al-Qur’an (HR. Abu Dawud dan Muslim).

Demikianlah karakter Nabi Muhammad SAW. Ia laksana al-Qur’an berjalan. Dengan al-Qur’an itu pula ia mendidik para sahabatnya sehingga memiliki karakter/akhlak yang begitu kuat. Sahabat-sahabat yang berkarakter berbasis al-Qur’an tersebut menjadi modal utama dalam membangun masyarakat berperadaban tinggi.

Belajar dari keberhasilan Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk mendidik karakter manusia, terutama yang mengaku Islam sebagai agamanya, mesti berdasarkan kepada al-Qur’an.

Dalam konteks kekinian, pendidikan karakter menjadi tema hangat untuk diterapkan melalui lembaga pendidikan formal. Bahkan Kementerian Pendidikan Nasional melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum telah merumuskan program “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” atau disingkat dengan PBKB, sejak tahun 2010 lalu.

Dalam proses PBKB, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat. Dan dalam program tersebut, terdapat 18 nilai yang dikembangkan, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung-jawab.

Program ini patut direspon oleh masyarakat, terutama praktisi pendidikan dan stakeholder yang terkait. Namun, konsep PBKB masih bersifat umum sehingga masih membutuhkan ide-ide kreatif dalam pengembangannya. Di era otonomi ini, pemerintah daerah, termasuk sekolah, sesungguhnya memperoleh peluang yang besar untuk mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhannya, termasuk mengembangkan konsep pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.

Selaku umat Islam yang meyakini al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, sejatinya memanfaatkan peluang ini. Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren, madrasah termasuk sekolah umum yang terdapat di dalamnya—apalagi mayoritas—siswa beragam Islam, seyogyanya merumuskan konsep pendidikan karakter berbasis al-Qur’an. Sebab secara teologis, mustahil seorang muslim yang mengabaikan al-Qur’an memiliki karakter atau akhlakul karimah sebagaimana yang diinginkan dalam ajaran Islam itu sendiri.

Ironis, jika lembaga pendidikan tidak memberikan kesempatan bagi peserta didik muslim untuk memahami al-Qur’an sekaligus menjadi acuan dalam membentuk karakternya. Akibatnya, mereka akan menjadi manusia yang mengakui Islam sebagai agamanya, tetapi karakternya tidak sesuai tuntunan al-Qur’an. Keberadaan mereka justru merusak nama baik Islam itu sendiri. Untuk itu, sikap kebergamaan kita harus tersentuh menyikapi persoalan ini.

Hakikat pendidikan karakter itu sendiri adalah penanaman nilai, membutuhkan keteladanan dan harus dibiasaan, bukan diajarkan. Jika dalam konsep PBKB yang disusun oleh Puskur terdapat 18 nilai, maka dalam perspektif al-Qur’an jauh melebihi angka tersebut. Namun untuk memudahkan penanaman nilai tersebut, perlu dirumuskan secara sederhana sesuai dengan tingkat pendidikan itu sendiri.

Paling tidak nilai-nilai itu bisa dikelompokkan dalam empat hal. Pertama, nilai yang terkait dengan hablun minallah (hubungan seorang hamba kepada Allah), seperti ketaatan, keikhlasan, syukur, sabar, tawakal, mahabbah, dan sebagainya. Kedua, nilai hablun minannas, yaitu nilai-nilai yang harus dikembangkan seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia, seperti tolong-menolong, empaty, kasih-sayang, kerjasama, saling mendoakan dan memaafkan, hormat-menghormati, dan sebagainya.

Ketiga, nilai yang berhubungan dengan hablun minannafsi (diri sendiri), seperti: kejujuran, disiplin, amanah, mandiri, istiqamah, keteladanan, kewibawaan, optimis, tawadhu’, dan sebagainya. Dan keempat, nilai hablun minal-‘alam (hubungan dengan alam sekitar), seperti: keseimbangan, kepekaan, kepeduliaan, kelestarian, kebersihan, keindahan, dan sebagainya.
Nilai-nilai tersebut mesti dikembangkan lebih lanjut dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an itu sesungguhnya memiliki makna yang lebih luas, kompleks dan aplikatif jika dibandingkan dengan nilai-nilai yang muncul dari hasil pikiran manusia. Misalnya, nilai istiqamah jauh lebih luas dari nilai komitmen dan konsisten. Begitu pula makna ikhlash jauh lebih mendalam dibandingkan dengan makna rela berkorban. Bahkan istilah akhlak pun jauh lebih kompleks dibanding dengan istilah moral dan etika. Dan masih banyak contoh lainnya.

Adapun bentuk pelaksanaannya, bisa menyesuaikan dengan konsep pengembangan pendidikan karakter sebagaimana yang disusun oleh Puskur. Beberapa nilai yang telah dirumuskan dapat dikembangkan melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler atau pengembangan diri dan budaya sekolah.

Pada kegiatan intrakurikuler, nilai-nilai tersebut harus dirumuskan dalam bentuk “Indikator Penanaman Nilai” oleh guru dalam rencana pembelajarannya untuk diintegrasikan dengan materi tiap mata pelajaran. Dengan begitu tak satu pun materi yang bebas dari nilai. Selain itu, proses pembelajarannya pun sebaiknya diintegrasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam hal ini, ayat-ayat al-Qur’an akan menjadi basis terhadap suatu ilmu sehingga siswa tidak saja memperoleh pengetahuan, tetapi diharapkan memperoleh keberkahan dari ilmu itu sendiri.
Pada kegiatan ekstrakurikuler, mesti dikembangkan kegaitan-kegiatan yang relevan dengan nilai-nilai al-Qur’an. Kegiatan-kegiatan yang bertentangan, seperti kegiatan yang memperlihatkan aurat, pelaksanaan kegiatan yang mengabaikan waktu shalat, dan sebagainya mestilah ditinggalkan. Sebaliknya, kegiatan-kegaitan yang langsung bersentuhan dengan al-Qur’an mesti menjadi prioritas. Misalnya, Tahsin Qur’an, Tilawah al-Qur’an, Tahfizh al-Qur’an, Seni Kaligrafi, Muhadharah, dan lainnya.

Sedangkan penanaman nilai pada budaya sekolah harus dirumuskan dalam bentuk beberapa aturan sehingga terjadi proses pembiasaan dan pembudayaan. Seperti tadarus di awal pembelajaran, setiap guru membuka pelajaran dengan membaca surat-surat pendek, membudayakan ucapan salam, mengedepankan keteladanan, malu melanggar peraturan, menjalin interaksi dengan kasih sayang, menjaga kebersihan dan sebagainya. Dalam hal ini, pemberian reward (penghargaan) lebih dikedepankan dari pada punishment (hukuman).
Proses pembelajaran al-Qur’an pun harus dilakukan secara kontiniu dan sistematis. Peserta didik harus dibimbing untuk membaca, memahami dan berupaya untuk mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an. Peserta didik juga dituntut untuk menghafal ayat-ayat al-Qur’an. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya (hatinya) tidak ada bacaan Al-Qur`an (yakni tidak memiliki hafalannya) ibarat sebuah rumah yang hendak roboh. (HR. At-Tirmidzi, dan lainya).

Tidak saja upaya dari sekolah, orang tua di lingkungan rumah tangga, menjadi pelopor utama dalam pembentukan karakter berbasis al-Qur’an. Orang tua juga dituntut untuk menanamkan kecintaan terhadap al-Qur’an kepada anak-anaknya sedini mungkin. Itu sebabnya seorang ibu yang sedang hamil dianjurkan untuk banyak membaca al-Qur’an. Kelak si anak telah pandai membaca al-Qur’an, orang tua pun diminta untuk tadarus bersama anak-anaknya.

Sungguh tepat kebijakan Kementerian Agama RI tentang program “Gemmar (Gerakan Maghrib) Mengaji”. Dan program ini sejatinya didukung oleh para orang tua. Demikian halnya masyarakat, diharapkan berperan aktif mengkaji al-Qur’an dan berupaya untuk menjadikannya sebagai karakter diri dan masyarakat sekitarnya.

Jika sekolah mau dan bertekad menjadikan al-Qur’an sebagai basis dari pelaksanaan pendidikan karakter, maka niscaya ketenangan dan keberkahan akan dilimpahkan Allah kepada mereka. Sabdanya: Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah Azza wa Jalla untuk membaca Kitabullah (Al-Qur`an) dan mereka saling mempelajarinya kecuali sakinah (ketenangan) akan turun kepada mereka, majlis mereka penuh dengan rahmat dan para malaikat akan mengelilingi (majlis) mereka serta Allah akan menyebutkan mereka (orang yang ada dalam majlis tersebut) di hadapan para malaikat yang di sisi-Nya (HR. Muslim).
Kini, dibutuhkan niat, dukungan, dan komitmen dari berbagai pihak yang masih mengakui al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya; baik dari kalangan pemerintah, kaum intelektual, praktisi pendidikan, orang tua dan masyarakat untuk merumuskan pendidikan karakter berbasis al-Qur’an. Jika tidak, maka al-Qur’an hanya sebagai hiasan lemari dan tercerabut dari hati sanubari.
Jadi jelas sekali bahwa sesungguhnya pendidikan karakter itu tidak akan didapat sepenuhnya kalau tidak mengacu kepada seorang tauladan Rasulullah SAW. dan tentunya karakter Nabi adalah Al Qur'an dan sesungguhnya Allah menurunkan Al Qur'an itu kepada kita sebagai manusia (muslim), dan hakekat manusia adalah terletak pada hatinya.
Peranan Guru Agama dan Umum
Sebagai seorang pendidik yang mencetak generasi yang berkarakter tentunya akan bersentuhan dengan peserta didik yang menjadi fokusnya. tanggungjawab seorang guru akan menjadi hal yang sangat penting bagi seorang guru, tidak memandang apa dia seorang guru agama ataupun umum, yang terpenting seorang guru menjadi teladan bagi dirinya, anak didiknya. baik ketika didalam kelas, dirumah tangga dan di masyarakatnya. semoga kita sebagai pelaku pendidikan menjadi sebuah teladan bagi anak didik kita, mulailah dari diri sendiri (ibda' binafsik).
Wallahu a’lam.

Sumber:
1. http://mhdkosim.blogspot.com/2011/07/pendidikan-karakter-berbasis-al-quran.html/ diakses: 12 juli 2011
2. Pendidikan karakter berpusat pada Hati, Drs. H. Hamka Abdul Aziz, M. Si