This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 12 Januari 2012

Mari Bersalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Shalawat merupakan sebuah keharusan yang sangat dianjurkan untuk membacanya dan mengamalkannya. Perintah bershalawat disampaikan langsung oleh Allah SWT. Melalui kitab suci Al Qur’an. Firman Allah SWT. :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al Ahzab : 56)

Shalawat adalah jamak dari kata shalah artinya do’a dan memohon berkat. Shalawat orang yang beriman untuk Nabi adalah do’a mereka untuk beliau; shalawatnya malaikat untuk Nabi adalah permohonan ampun kepada Allah untuk beliau dan shalawat Allah SWT adalah rahmat dan sanjungan-Nya untuk Nabi di sisi malaikat-Nya. 1
Dari ayat tersebut diatas jelas sekali bahwa bershalawat atas Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah kewajiban yang sangat penting dan banyak memberikan faedah dan manfaat bagi orang yang membacanya.

Tugas Orangtua Terhadap Anak

Beberapa Tugas orangtua ketika bayi dalam kandungan antara lain:
1. Memeliahara suasana psikologis yang damai dan tenteram, agar secara psikologis janin dapat berkembang secara normal. Bayi yang dilahirkan dari keluarga broken home, akan mewarisi sifat-sifat atau karakter orang tua yang buruk;
2. Senantiasa meningkatkan ibadah dan meninggalkan maksiat, terutama bagi ibu, agar janinnya mendapat sinaran cahaya hidayah dari Allah swt; dan
3. Berdo’a kepada Allah swt. Terutama sebelum 4 bulan dalam kandungan, sebab masa-masa itu hukum-hukum perkembangan akan ditetapkan. (Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakir, Nuansa-nusan Psikologis Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2002), h. 101.

Tugas orangtua dari masa kelahiran sampai minggu keempat, antara lain.
1. Membacakan azan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri ketika anak baru dilahirkan (HR. Abu Ya’la dari Husein bin Ali)
2. Memotong akidah, dua kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.
3. Member nama yang baik, yaitu nama yang secara psikologis meningkatkan atau berkorelasi dengan perilaku yang baik.
4. Membiasakan hidup yang bersih dan suci
5. Member ASI sampai usia dua tahun (QS. 2: 233), selain memiliki komposisi gizi yang sesuai dengan kebutuhan bayi, juga menambah keakraban, kehangatan, dan kasih sayang sang ibu dengan bayinya. (ibid, h. 104)

Tugas orangtua pada masa kanak-kanak (Thifhl), antara lain.
1. Bagaimana merangsang pertumbuhan berbagai potensi indera dan psikologis, seperti penglihatan dan pedengaran dan hati nurani.
2. Mempersiapkan diri dengan cara membiasakan dan melatih hidup yang baik, seperti dalam berbicara, makan, bergaul, penyesuaian diri dengan lingkungan, dan berperilaku.
3. Pengenalan aspek-aspek doctrinal agama, terutama yang berkaitan dengan keimanan.
4. Pendidikan pada fase ini dipusatkan untuk menjadi manusia sosial (bergaul dengan orang lain).

Tugas orangtua pada masa kanak-kanak akhir (tamyiz), antara lain.
1. Merubah persepsi kongkrit menuju pada persepsi yang abstrak, misalnya persepsi mengenai ide-ide ketuhanan, alam akhirat, dsb.
2. Mengembangkan ajaran-ajaran normative agama melalui institusi sekolah, baik yang berkenaan dengan aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Sabda Nabi Saw. :”perintahkanlah anak-anak kalian melakukan shalat ketika ia berusia tujuh tahun, dan pukullah ia jika meninggalkannya apabila berusia sepuluh tahun, dam pishkan ranjangnya” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan al hakim dari Abdullah Ibn Amar).

PEMUDA DAN ETOS KERJA

Tahun ini peringatan Sumpah Pemuda bertepatan dengan bulan dimana terjadinya sebuah perubahan, yakni bulan reshaful nya Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Sesuai dengan pidato Bapak Presiden bahwa sesungguhnya Kabinet ini dijuluki dengan “kabinet kerja”. Tepat sekali kiranya penamaan itu, karena sebuah bangsa yang besarnya memerlukan orang-orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi, tidak terkecuali para menteri dan para pemuda di negeri ini.
Pemuda identik dengan kekuatan atau energy, maksudnya adalah tidak dikatakan pemuda yang sesungguhnya jika hanya bisa berpangku tangan mengulurkan tangan kepada orang lain, apalagi mengandalkan orangtuanya, bermalasan tanpa kerja sedikitpun. Padahal kerja apapun asalkan halal akan memberikan makna yang sangat berarti bagi dirinya, keluarganya bahkan bagi negeri ini.
Pada rubrik yang sama pada tahun yang lalu penulis mengungkapkan bahwa peringatan Sumpah Pemuda ini bukan hanya sekadar ceremonial belaka, artinya harus memberikan makna yang berarti bagi negeri ini. Hari ini Bangsa Indonesia mengharapkan pemuda-pemudi yang kreatif, inovatif dan mempunyai etos kerja yang tinggi.
“Syubbanul yaum rijalul gadi” (Pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan) demikian kata-kata hikmah. Menjadi pemimpin masa depan, pemuda harus mempunyai etos kerja yang tinggi. Tidak ada pemimpin sekarang yang sukses tanpa perjuangan dimasa mudanya, demikian juga mencetak generasi yang berkualitas harus dimulai dari sekarang dan dipunggung pemuda pemudi harapan bangsa ini.
Hari ini di era globalisasi yang serba terbuka, persaingan perdagangan bebas yang semakin ketat baik pendidikan, industri dan lain-lain akan membuat bangsa ini akan terpuruk jika tidak mempunyai etos kerja yang tinggi. Pada kesempatan yang lalu sebuah TV swasta memberitakan petani-petani sayur di daerah Jawa terancam gulung tikar alias bangkrut disebabkan harga sayur lokal bersaing dengan harga sayur impor. Peranan generasi muda mempunyai andil yang sangat kompeten. Industri kreatif merupakan hal yang sangat penting dikembangkan, dan kualitas sesuatu menjadi sebuah tawaran yang menjadi pertimbangan. Banyaknya produk-produk impor akan menjadi akan pilihan konsumen, tentunya memberikan peluang baik bagi produk yang mempunyai kualitas dan mutu yang baik. Kesemuanya itu kualitas maupun mutu sebuah produk akan dihasilkan oleh orang-orang yang mempunyai etos kerja yang tinggi disamping profesionalisme. Etos kerja tentunya akan diperoleh dan didapat oleh pemuda-pemudi harapan bangsa ini.
Hari ini, sekali lagi tugas berat ditangan generasi muda untuk memajukan bangsa ini yang serba terpuruk dari persebakbolaan yang tidak masuk pra piala dunia sampai persoalan perpolitikan negeri ini. Mari bangkit pemuda pemudi wujudkan cita-cita besar pendahulu kita pada moment “Kongres Pemuda tahun 1928” yang lalu.

dibalik makna plat mobil Z 4014 H

Ketika penulis berangkat ke sekolah menuju kota Paringin Rabu 28/4/2010, tepat di sekitar jalan raya desa Teluk Masjid / Layap penulis melihat sebuah kendaraan yang sangat berbeda dengan kebanyakan kendaraan yang lalu lalang. Sepeda motor tersebut berpretil dan mempunyai bernomor polisi Z 4014 H entah plat mana penulis tidak tahu persis, yang pasti saat itu penulis teringat firman Allah dalam Surah (Al Mukmin/40 ayat 14 yang berbunyi :
        
14. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).

Masya Allah, sungguh Allah Maha Agung dengan segala firman-Nya. Mungkin ini sebuah pelajaran bagi penulis bahwa ketika Beribadah kepada Allah harus senantiasa menyucikan diri dengan ikhlas kepada-Nya walaupun adanya kebencian dari sifat-sifat kekafiran.
Disamping itu, juga memberikan peringatan kepada penulis bahwasanya ketika melaksanakan aktifitas baik ibadah mahdhah maupun ibadah sosial harus dilandasi dengan keikhlasan tulus kepada Allah SWT.
Allahu Akbar !!!

Selasa, 10 Januari 2012

Menggagas Guru Profesional

Guru adalah tokoh yang paling utama dalam membimbing anak di sekolah dan memperkembangkan anak didik agar mencapai kedewasaan (W.J.S. Poerwadarminta, 1984: 72). Oleh karena itu, hal yang pertama diperhatikan guru agar dapat menarik minat anak didik penampilan guru harus mampu menjadi seseorang yang berkesan dan berwibawa.
Disamping itu, guru merupakan orang yang bertanggung jawab memberikan bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewaaan (Nur Uhbiyati, 1997: 71).
Jadi jelas sekali bahwa yang dimaksud guru adalah orang yang mempunyai kemampuan dan profesi sebagai pendidik atau pengajar yang mampu membawa anak didik kepada kematangan dan kedewasaan.
Sehubungan dengan itu, guru sebagai tenaga professional memerlukan pedoman atau kode etik guru agar terhindar dari segala bentuk penyimpangan. Kode etik guru yang memegang keprofesionalannya sebagai pendidik akan selalu berpegang pada kode etik guru. Sebab kode etik ini sebagai salah satu ciri yang harus ada pada profesi itu sendiri (sardiman, A. M., 2000: 149).
Penampilan seorang guru sangat mempengaruhi sikap mental pribadi anak didik, karena guru merupakan teladan bagi anak didik, sehingga semua gerakan dan tindakannya akan diamati bahkan ditiru oleh anak didik.
Penampilan guru adalah suatu cara atau perbuatan yang dilakukan oleh guru pada saat mengajar (W.J.S. Poerwadarminta, 1984: 92). Penampilan seorang guru bukan hanya dari segi pakaiannya saja akan tetapi meliputi perilakunya. Tetapi dari cara ia memberikan pengajaran di kelas, yakni “menggunakan keterampilan mengajar seperti keterampilan membuka dan menutup pelajaran, dan menggunakan metode yang bervariasi. Keterampilan menjelaskan dan lain-lain, karena dalam proses belajar mengajar guru memegang peranan sebagai besar faktor keberhasilan proses belajar mengajar. Untuk itu guru merupakan faktor yang dominan dalam menentukan proses belajar mengajar” (Sardiman, AM, 2000: 128).
Jadi jelas sekali dengan penampilan yang meyakinkan dan dapat membawa anak kearah kedewasaan. Seseorang yang dikatakan dewasa harus memiliki jiwa kepemimpinan dan dapat dicontoh oleh orang lain yaitu siswa. Bersifat sabar, disiplin, sopan dan ramah, hal yang penting adalah dapat mengendalikan gejolak emosionalnya. Orang dewasa akan senantiasa tidak emosional, tetapi lebih rasional, bijak dan realistis dalam berbagai tindakan dan perbuatannya (Sardiman Am, 2000: 128).
Oleh karena itu, seorang guru harus mempunyai sifat-sifat yang dapat membawa anak didik kepada kedewasaan yakni (1) kesabaran, (2) kewibawaan, (3) penggembira, (4) manusiawi, dan (5) berakhlak mulia.
Kesabaran merupakan syarat yang sangat diperlukan, apalagi seorang guru sebagai pendidik. Sifat sabar perlu dimiliki oleh guru baik dalam melakukan tugas mendidik maupun dalam menanti hasil dari jerih payahnya, karena hasil pengajaran tidak selalu segera tampak, anak-anak tidak selalu segera mengerti maksud guru, sering kali guru kecewa, yang tidak sabar akan memperbaiki keadaan itu bahkan memburukkan guru yang tidak sabar akan mengejek atau mencela
Guru juga harus memiliki sifat kewibawaan. Kewibawaan merupakan sifat yang harus dimiliki oleh guru untuk member pengaruh, sehingga mendorong anak didik untuk mematuhinya. Namun kepatuhan tersebut diterima secara sukarela dan bukan atas dasar tekanan atau ancaman. Dengan demikian kewibawaan merupakan potensi rohaniah yang dimiliki oleh seorang pendidik sehingga anak didik menerima kekuasaan dan perintahnya atas dasar sikap patuh karena kesadaran. Jadi, tanpa adanya kewibawaan pada guru, anak hanya akan menuruti kehendak pada guru, anak didik hanya akan menuruti kehendak dan perintah gurunya karena takut atau kesadaran dalam dirinya (Jalaludin & Ali, 1995: 100).
Juga, guru harus memiliki sifat penggembira, sikap ini banyak gunanya bagi seorang guru, antara lain ia akan tetap memikat perhatian anak-anak pada waktu mengajar dan anak-anak tidak lekas bosan atau merasa lelah.
Sedangkan sifat manusiawi juga merupakan salah satu sikap seorang guru, karena guru adalah manusia yang tak lepas dari kekurangan, ia juga bukan manusia yang sempurna. Oleh karena itu ia harus berani melihat kekurangannya sendiri dan segera memperbaikinya. Dengan demikian pandangannya tidak picik terhadap kelakukan manusia umumnya dan anak-anak khususnya, ia dapat melihat perbuatan yang salah menurut ukuran yang sebenarnya, member hukuman yang adil dan suka memaafkan apabila anak itu insyaf akan kesalahannya. (Zakiah Daradjat, 1996: 43).
Terakhir, guru harus memiliki sifat dan sikap mulia, dalam arti berakhlak mulia. Akhlak mulia atau akhlakul karimah merupakan sifat yang paling penting dan wajib dimiliki oleh seorang guru. Karena dengan akhlak mulia, anak didik akan mampu menjadi anak yang berakhlak mulia juga.


Sumber Rujukan:
1. W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka, 1984)
2. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka setia, 1997).
3. Jalaludin & Ali, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, (Surabaya, Putra Al Ma’arif, 1995)
4. Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996).

Jorong, 8 Januari 2012.

Rabu, 21 Desember 2011

Ada Apa dibalik Peristewa Hijrah?

Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. merupakan agama yang mempunyai tantangan yang sangat berat, terutama yang dihadapi oleh Rasulullah dan para sahabat karena Islam agama yang membawa perubahan yang sangat signifakan bagi masyarakat Quraisy pada waktu itu.
Pada masa permulaan Islam datang kepada masyarakat Mekkah merupakan agama yang aneh, karena apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. mengubah kebiasaan masyarakat quraisy yang tidak baik dan tidak bermoral, seperti menyembah berhala, membunuh anak perempuan, main perempuan, berjudi, mabuk-mabukan dan lain sebagainya.
Ketika Islam datang semua tradisi yang tidak baik itu dihapus oleh Islam, dan Rasulullah pun menjadi sasaran karena beliau yang membawa Islam itu. Oleh karena itu, para kafir quraisy pada waktu ingin sekali membunuh beliau, tapi rasulullah tetp dipelihara oleh Allah swt. Sampai saatnya diperintah untuk hijrah ke Yasyrib atau kota Madinah.
Peristewa hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah kalau kita pelajari secara mendalam maka banyak sekali pelajaran yang dapat diambil. Paling tidak ada dua hal yang dapat dipetik dari peristewa hijrah ini, yaitu adanya usaha (ikhtiar) manusia dan inayatullah (pertolongan Allah swt).
Pertama; adanya usaha atau ikhtiar manusia dalam dunia ini. Hal ini tergambar pada peristewa hijrah antara lain ketika Rasulullah mau hijrah, tempat tidur beliau suruh sayyidina Ali ra untuk menempati untuk menggantikannya sehingga mengelabui para kafir yang mau membunuh beliau. Demikian juga, ketika mau ke Madinah beliau tidak sendiri tetapi ditemani oleh Abu Bakar ra dan menempuh jalan yang tidak biasa dipakai oleh orang, ini merupakan strategi yang sangat jitu sehingga tidak mungkin ditemukan. Juga beliau mampir terlebih dahulu ke Goa Tsur yang tempatnya sangat terjal dan tinggi.
Disamping itu, usaha Rasulullah mengelabui musuh dengan menyuruh pembantu Abu Bakar untuk mengembalakan dombanya pada bekas jejak kuda Rasulullah dan sayyidina Abu Bakar. Kesemuaan itu merupakan usaha yang dilakukan oleh Rasulullah dan Abu Bakar ra. Dalam rangka menyelamatkan diri dari sergapan musuh kafir Quraisy. Hal ini merupakan pelajaran bagi kita umat Islam untuk senantiasa berusaha dalam dunia ini, tidak mungkin sesuatu cita-cita yang ingin dicapai tanpa usaha dan ikhtiar serta kerja keras.
Kedua; adanya pertolongan Allah swt. (inayatullah). Pertolongan Allah yang terjadi ketika hijrahnya Rasulullah saw. Antara lain pada waktu Nabi keluar dari rumah, para kuffar quraisy tertidur dengan pulasnya sehingga Nabi keluar dari rumah dengan aman, juga ketika beliau berada dalam Goa Tsur pintu goa ditempati oleh sarang laba dan burung dara. Demikian juga ketika beliau kehausan dan mampir disebuah gubuk yang mempunyai kambing kurus, ketika ditanya apa bias kambingnya itu masih bisa mengeluarkan air susu, tapi ketika Rasulullah memerasnya air susunya banyak dan mampu memberikan susu kepada tuan rumahnya. Hal ini adalah pertolongan Allah kepada Nabi dan Abu Bakar ra. Sehingga beliau selamat sampai ke kota Madinah.
Demikian intisari ceramah yang sampaikan oleh al Mukarram KH. Husin Naparin, Lc, MA. Ketika pengajian rutin dan menyambut baru Islam 1433 H. yang bertempat di Aula Induk Masjid Jami Nurul Huda Jorong Kab. Tanah Laut Kalsel. (24/11/2011)

Kamis, 03 November 2011

Khutbah Idul Adha 1432 H/2011 M

IBADAH qURBAN: BUKTI SYUKUR KEPADA ALLAH SWT.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia.
Segala Puja dan Puji hanya bagi Allah, Tuhan yang Maha Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Perkasa, Pemilik Alam Semesta.
Shalawat dan salam semoga tercurah selalu untuk junjungan kita, pemimpin kita, penghulu segala Nabi, Nabi Akhir Zaman yang tidak ada lagi Nabi setelahnya, beliau adalah Nabi Muhammad saw, salam sejahtera juga kita sampaikan untuk keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang setia serta penerus dakwahnya hingga hari zaman nanti.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah SWT.
Hari ini saudara-saudara kita yang diberikan kemampuan, kesempatan dan badan sehat oleh Allah SWT, sedang berada di tanah suci, untuk melaksanakan ritual ibadah haji. Jumlah mereka tidak sedikit, sekitar tiga sampai empat juta orang dari berbagai suku, bangsa dan beraneka bahasa dan warna kulit berkumpul, termasuk 300 orang jamaah haji dari Gaza. Mereka berkumpul menjadi satu di tempat yang sama dalam mengharap ridha dan ampunan dari Yang Maha Pengampun yaitu Allah SWT.
Bagi kita yang tahun ini tidak berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci, di sunahkan untuk melaksanakan shalat Idul Adha secara berjamaah, mendengarkan khutbah dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban.
Bahkan sebelum pelaksanaan shalat Idul Adha, sehari sebelumnya, ketika saudara-saudara kita sedang berkumpul di Arafah melakukan wukuf untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berzikir, berdoa, bertaubat dan ibadah lainnya yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Maka sebagai ikatan iman dan ikatan ibadah antara kaum muslimin yang tidak menunaikan ibadah haji dengan mereka yang sedang wukuf di Arafah, Rasulullah saw memberikan motifasi kepada umatnya untuk berpuasa Arafah.
“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.” (HR. Jamaah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi)
Beruntunglah mereka yang melaksanakan puasa Arafah semoga Allah menerimanya. Amin Ya Rabbal ‘alamin
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Jamaah Shalat Idul Adha Yang Berbahagia.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿١﴾ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢﴾ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ﴿٣﴾
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. (1), Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (2), Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus (3).” (QS. Al-Kautsar [108] : 1-3)
Surat Al-Kautsar di atas termasuk surat yang memiliki jumlah ayat yang sedikit, sama seperti surat Al-‘Ashr (QS. 103) dan surat An-Nashr (QS. 110) yaitu berjumlah tiga ayat.
Di dalam surat Al-Kautsar, tepatnya di ayat pertama, Allah telah menegaskan, bahwa Dia telah memberikan nikmat yang banyak! Kenapa Allah menegaskan? Mungkin ada di antara manusia yang tidak tahu diri, karena kesibukannya dalam bekerja, berdagang, bertani, mengajar, menulis, berolah raga, menyanyi, atau karena kesombongannya, sehingga lupa akan nikmat yang telah Allah berikan. Sehingga tidak mengherankan Allah mengingatkan yang artinya “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”.
Pernahkah kita menanyakan harga Oksigen (O2) di apotik? Jika belum tahu, ketahuilah harganya sekitar Rp 25.000 per liter. Pernahkah kita menanyakan harga Nitrogen di apotik? Jika belum tahu, harganya sekitar Rp. 9.950 per liter.
Tahukah kita? Bahwa dalam sehari manusia menghirup Oksigen (O2) sebanyak 2.880 liter dan Nitrogen 11.376 liter. Jika harus dihargai dengan rupiah, maka Oksigen (O2) dan Nitrogen yang kita hirup, akan mencapai Rp 170 jutaan per hari untuk satu orang. Jika kita hitung kebutuhan kita sehari Rp 170 juta, maka sebulan Rp 5,1 milyar untuk satu orang.
Pernahkah malaikat menagih oksigen dan nitrogen yang kita hirup datang ke rumah setiap bulan? Ketahuilah Presiden, Raja bahkan orang terkaya di dunia apalagi rakyat biasa yang hidupnya sudah susah tidak akan sanggup melunasi biaya nafas hidupnya jika Allah Yang Maha Kuasa mau pakai rumus dagang sama manusia!
Allah mengingatkan manusia hingga berulang sampai 31 kali dengan kalimat yang sama, dengan jumlah huruf yang sama agar manusia mudah mengingatnya dan pandai bersyukur.
فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman [55] )
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ﴿٣٤﴾
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim [14] : 34)
Ketahuilah, di antara nikmat yang telah Allah berikan kepada kita di samping nikmat menghirup udara, nikmat sehat, ada lagi nikmat yang lebih mahal nilainya, yaitu nikmat iman dan islam, nikmat yang tidak Allah berikan kesembarang orang.
Kita wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena kita telah diberikan nikmat tersebut, dengan nikmat itulah kita dapat berhadir ditempat ini, rukuk, sujud, mengabdi dan membesarkan Allah.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah SWT.
Sekarang, bagaimana cara bersyukur kepada Allah? Caranya adalah memanfaatkan segala nikmat yang telah Allah berikan untuk mendekat diri kepada-Nya, dengan melaksanakan ibadah sebagaimana yang telah diperintah-Nya.
Di dalam surat Al-Kautsar ayat kedua ditegaskan: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
Ada dua cara untuk bersyukur kepada Allah berdasarkan ayat yang tertera di atas:
Pertama, Mendirikan Shalat karena Allah
Shalat adalah ibadah yang sudah ada contohnya dari Rasulullah saw, ketika seorang melaksanakan shalat, sesungguhnya dia telah merealisasikan syukur kepada Allah, di dalam shalat seorang hamba dalam keadaan suci, menghadap kiblat, telah membesarkan Allah, memuji Allah, berterima kasih kepada Allah, rukuk, sujud dan berdoa kepada Allah.
Manusia yang shalat sesungguhnya telah mengingat Allah, dan mengingat Allah merupakan langkah awal untuk bersyukur kepada-Nya.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي ﴿١٤﴾
“Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (QS. Thaahaa [20] : 14)
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu’anha, ia mengatakan, "Adalah Rasulullah saw apabila mengerjakan shalat maka beliau berdiri sampai pecah kedua kakinya. Aisyah Radhiyallahu’anha berkata, 'Wahai Rasulullah saw, mengapa engkau melakukan seperti ini, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni?' Nabi saw menjawab, 'Wahai Aisyah, apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?'." (HR. Muttafaq ‘alaih)
Dari hadits di atas, kita banyak mendapat pelajaran, satu di antaranya adalah bahwa shalat adalah ritual ibadah yang merupakan tanda seorang yang bersyukur kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT.
Lantas bagaimana dengan orang yang lalai dalam sholatnya bahkan tidak pernah mengerjakan shalat sama sekali?
Kedua, Berqurban
Ibadah Qurban adalah ritual yang sudah berlangsung lama, ritual yang ada sejak ribuan tahun lalu. Sebelum kita dilahirkan, sebelum orang tua kita dilahirkan, bahkan sebelum kakek dan nenek kita dilahirkan, sudah ada orang yang berqurban.
Di dalam Al Quran, Allah menceritakan dua putra nabi Adam as yang melaksanakan qurban. Di antara keduanya, ada yang qurbannya di terima Allah dan satunya lagi ditolak.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ﴿٢٧﴾
"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), 'Aku pasti membunuhmu!' Berkata Habil, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa'." (QS. Al-Maidah [5] : 27)
Allah juga menceritakan pelaksanaan qurban yang dilakukan nabi Ibrahim as.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ ﴿١٠٠﴾ فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ ﴿١٠١﴾ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ ﴿١٠٢﴾ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ ﴿١٠٣﴾ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ ﴿١٠٤﴾ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿١٠٥﴾ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاء الْمُبِينُ ﴿١٠٦﴾
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ ﴿١٠٨﴾
"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. (100). Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.(101). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata. 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab, 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'. (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103). dan Kami panggillah dia, 'Hai Ibrahim, (104). Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106). dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (107). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (108)'." (QS. Ash-Shaaffat [37] : 100-108)
Dari ayat di atas, kita mendapat penjelasan bahwa Nabi Ibrahim as yang sudah tua dan sudah lama berumah tangga, sangat menginginkan seorang anak yang shaleh, beliau kemudian berdoa kepada Allah, dan Allah kabulkan.
Dan sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah memberikan seorang anak, maka nabi Ibrahim as ingin menyembelih anaknya, pada saat akan menyembelih, maka terjadilah dialog bapak dan anak dan peristiwa tersebut Allah abadikan di dalam firman-Nya untuk pelajaran bagi generasi sesudahnya.
Nabi Ibrahim as, walaupun sudah tua, sudah berumur, kaya pengalaman, bak pepatah mengatakan sudah banyak makan asam dan garam, akan tetapi tidak sombong, tidak angkuh, tidak otoriter, tidak ingin menang sendiri, tidak memaksakan kehendak. Beliau masih minta pendapat orang lain, walaupun pendapat itu berasal dari seorang anak. Pendapat anak tersebut dia hargai bahkan dia laksanakan dengan sepenuh hati.
Begitu pula anaknya, bukanlah tipe anak yang cengeng, tidak penakut, berani menyampaikan pendapat, dan taat kepada Tuhan Yang Maha Agung, Allah SWT.
Ketika nabi Ibrahim as dan anaknya telah berserah diri dan sabar atas perintah Allah, maka Allah tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Peristiwa ini kemudian dilanjutkan oleh generasi sesudahnya hingga generasi sekarang dengan prosesi penyembelihan hewan qurban, tanggal 10 Dzulhijjah dan dilanjutkan pada hari tasyrik.
Nabi Muhammad saw juga melakukan penyembelihan hewan qurban sebagai wujud syukur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bahkan dalam pelaksanaan haji Wada’, Rasulullah saw dengan tangannya yang mulia menyembelih sebanyak 63 ekor binatang sembelihan, beliau kemudian menyerahkan kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu untuk menyembelih sisanya sampai genap 100 sembelihan.
Dari Aisyah Radhiyallahu’anha, Nabi saw bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah dari Bani Adam ketika hari Raya Idul Adha selain menyembelih qurban...” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)
Anas Radhiyallahu’anhu bekata, Rasulullah saw bersabda, “Pada setiap bulu yang menempel di kulitnya terdapat kebajikan.” (HR. Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya)
Beruntunglah mereka yang berqurban, apalagi qurbannya diserahkan kepada mereka yang sangat membutuhkan, seperti mereka yang fakir, miskin, terjajah, berada di kamp pengungsian dan sedang berjuang melawan penjajah di negeri para nabi.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamd.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah SWT.
Pada ayat terakhir, yaitu ayat ketiga dari surat Al-Kautsar, Allah menjelaskan:
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ﴿٣﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar [108] : 3)
Sebanyak orang yang senang kepada Rasulullah saw, sebanyak itu pula orang yang benci. Dan orang benci, biasanya sinis, melakukan tipu daya, dan berupaya berbuat jahat kepada orang yang dia benci. Bahkan kalau mereka punya dana, kekuatan dan pendukung, akan mereka gunakan untuk merealisasikan kebenciannya.
Rasulullah saw yang berakhlak mulia, mengajak kepada kebaikan dan kebenaran, orang yang jujur, masih ada saja yang membencinya, menfitnah yang tujuannya agar masyarakat menjahui beliau saw dan ajaran yang dibawanya. Akan tetapi ketahuilah! Tipu daya orang-orang yang membenci Rasulullah saw dan ajarannya akan kembali kepada dirinya.
Dahulu di zaman nabi saw ada orang yang bernama al Ash bin Wail, Uqbah bin Abu Mu’ith, Abu Lahab (paman Rasulullah saw) dan Abu Jahal, mereka semua sangat membenci Rasulullah saw, dan mereka terputus dari rahmat Allah, sehingga mereka hidup dalam kehinaan dan matinya juga dalam kehinaan.
Akhirnya marilah kita tutup khutbah Idul Adha pagi ini dengan berdoa kepada Allah SWT:
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a”.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
“Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir”.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami”.
اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari do’a yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’i).”
...رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿٧٤﴾
"Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan [25] : 74)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء ﴿٤٠﴾ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ﴿٤١﴾
"Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS. Ibrahim [14] : 40-41)
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
“Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian.”
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di Dunia, kehidupan yang baik di Akhirat dan hindarkanlah kami dari azab Neraka."

* Disampaikan pada khutbah Idul Adha 1432 H di Masjid Jami “An Nur” Jorong-Kuningan, Kecamatan Jorong Kab. Tanah Laut Kalsel; Ahad, 6 Nopember 2011 M/10 Dzulhijjah 1432 H